
| Kamis, 20 Maret 2003 | Ekonomi |
Divestasi Bank Danamon Jalan TerusJAKARTA - Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) tetap pada koridornya untuk melanjutkan divestasi Bank Danamon, meski ada beberapa pihak yang menentang dilanjutkannya program tersebut. Ditegaskan divestasi tersebut akan terus dilakukan. Hal itu dikemukakan Deputi Kepala BPPN Bidang Restrukturisasi Perbankan I Nyoman Sender di Jakarta, Rabu. Menurutnya, apa pun keputusan pemerintah dengan DPR, divestasi Bank Danamon akan dijalankan. ''Kami akan jalun terus dengan divestasi ini,'' katanya. Seperti diberitakan, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie mengatakan, divestasi 51 persen saham pemerintah di Bank Danamon ditunda hingga pemerintah membersihkan bank itu dari obligasi rekap. ''Jumlah obligasi rekap yang mencapai Rp 40 triliun itu memiliki kemampuan menghasilkan laba atas kekuatan sendiri.'' Rencananya, kata Sender, BPPN akan mengumumkan shortlisted investor Bank Danamon pekan ini. Mereka akan dipilih dari lima penawar yang memasukkan penawaran saat tender awal, yaitu konsorsium Deutsche Bank-Temasek Holdings, Bank Artha Graha-Gudang Garam, PT Bhakti Capital-Bank Mega, PT Bhakti Asset Management, dan Osborne. Sementara itu, Deputi Meneg BUMN, Bidang Privatisasi dan Restrukturisasi Mahmuddin Yasin mengatakan, program divestasi sejumlah perusahaan milik negara yang direncanakan tahun ini terancam batal. Penyebabnya perang Teluk akan membuat ketidakpastian ekonomi dan berinvestasi. Menurut Yasin, jika Amerika benar-benar menyerang Irak, semua orang tak akan bisa berbuat apa-apa. Pelaku pasar tidak akan bertransaksi dan berinvestasi. Dengan demikian, saham-saham di bursa akan jatuh. ''Sekarang saja, semua bursa rontok. Kepastian berusaha akan terancam,'' ujarnya. Seperti diketahui dalam semester pertama tahun ini, pemerintah merencanakan akan mendivestasi 51 persen kepemilikannya di PT Indofarma Tbk dengan pola penjualan strategis. Akhir bulan Maret ini, surat undangan ke berbagai calon investor akan segera dikirim. Bank Mandiri juga direncanakan akan divestasikan sebesar 30 persen dengan penawaran saham perdana melalui bursa. Saat ini, peraturan pemerintah mengenai hal tersebut sedang digodog. Akhir tahun 2003, pemerintah juga akan divestasi PT Kimia Frama Tbk, dan Perusahaan Gas Negara. Yasin mengatakan, jika benar-benar pecah perang antara AS dengan Irak dapat dipastikan proses divestasi yang tengah dijalankan akan ditunda. ''Kalau ada perang, lupakan semuanya. Mau jual apa saja, lupakan saja,'' katanya. Dia mengaku, tidak bisa memprediksikan sampai kapan penundaan divestasi itu akan dilakukan. ''Saya tidak bisa memprediksikan. Yang jelas jika terjadi perang, berarti ada kondisi-kondisi yang sangat signifikan sebagai dampaknya,'' katanya.(tri-69) |