
| Kamis, 20 Maret 2003 | Ekonomi |
Dijamin Cukup, Pasokan BBM Dalam NegeriJAKARTA- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah menjamin pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk konsumsi dalam negeri. ''Stok BBM bulan ini diperkirakan cukup untuk 27 hari,'' katanya usai Rapat Koordinasi di Departemen Keuangan Jakarta, Rabu. Menurut dia, penyediaan stok sebesar itu untuk mengantisipasi serangan Amerika Serikat (AS) ke Irak. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan skenario untuk mencukupi devisa dalam negeri jika serangan tersebut jadi dilakukan. Skenario tersebut dibuat dengan memperkirakan perang terjadi dalam jangka dua hingga enam minggu. Saat ini pasokan kebutuhan BBM 80 persen dari kilang minyak dalam negeri dan sisanya impor. Namun, lanjut dia, seandainya minyak impor tidak ada karena jalurnya terputus akibat perang, stok BBM dalam negeri cukup untuk 35 hari. ''Pemerintah Indonesia sudah mendapat jaminan dari Pemerintah Arab dan Kuwait yang tetap akan mengirim minyak, meski terjadi perang,'' ujarnya. Jalur impor minyak dari Timur Tengah itu, tambah dia, akan melalui Teluk Persia dan Laut Merah. Saat ini tanker minyak untuk Indonesia sudah berada di Lautan Hindia yang bertolak dari Bahrain tanggal 14 Maret dan diperkirakan merapat di pantai Cilacap pada 25 Maret mendatang. Sementara itu, Dirjen Lembaga Keuangan, Depkeu Darmin Nasution mengatakan, lonjakan harga minyak mentah (crude oil) dunia akibat krisis Teluk, tidak akan mempengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). ''Kalaupun ada, waktu penyusunan APBD,'' ujarnya. Sebaliknya, kata Nasution, kenaikkan harga crude oil dunia justru akan menaikkan penerimaan dan pengeluaran negara. Namun, dia membantah, jika harga minyak mentah lebih dari 40 dolar AS per barel akan mempengaruhi jumlah pendapatan negara. ''Siapa bilang tak ada pengaruhnya batas harga minyak mentah itu,'' katanya. Saat ini, akibat rencara serangan AS ke Irak telah mengakibatkan harga minyak mentah di pasar dunia melonjak pada kisaran 36 dolar AS per barel. Sebelum krisis harganya pada kisaran 22 dolar AS per barel, seperti yang diasumsikan dalam RAPBN. ''Namun, APBN 2003 masih bisa berjalan meskipun harga minyak mentah terus melonjak,'' ujarnya. Menyinggung perbaikan kilang minyak, Purnomo mengatakan, perbaikan kilang minyak Pertamina ditunda hingga bulan Mei 2003. Langkah itu dimaksudkan agar kilang-kilang minyak tersebut tetap berproduksi. Hasilnya dipastikan untuk mencukupi kebutuhan BBM dalam negeri akibat pasokan yang terancam karena perang Irak. Saat ini, kata dia, pemerintah sedang memperbaiki kilangnya untuk meningkatkan jumlah produksi kilang tersebut. Beberapa kilang yang tengah diperbaiki, antara lain kilang Balikpapan, Cilacap, dan Balongan. Purnomo menjelaskan, dalam rapat koordinasi tersebut, juga membahas dampak perang terhadap sektor ekspor, impor, pariwisata, dan investasi. Untuk itu dibentuk tim kecil yang membahas langkah antisipasi pengaruh perang terhadap kelima sektor tersebut. Tim kecil dipimpin staf ahli Menko Perekonomian Dipo Alam yang beranggotakan Dirjen Migas, perwakilan Deperindag, perwakilan Departemen Perhubungan, dan tim ahli APBN.(tri-69) |