logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 17 Maret 2003 Berita Utama  
Line

Padepokan Tri Suci Akhirnya Membubarkan Diri

AKAN DIROBOHKAN: Rumah panggung yang menjadi markas Padepokan Tri Suci di Dukuh Tawang, Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, Purbalingga, akan segera dirobohkan menyusul pernyataan pembubaran diri padepokan itu oleh para pengurusnya. Semenjak dimuat di koran, padepokan itu sepi dari kegiatan.(Foto: Suara Merdeka/F10-15)

PURBALINGGA- Setelah menuai reaksi dari masyarakat, akhirnya padepokan Tri Suci pimpinan Abah Semar yang berada di Dukuh Tawang, Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, membubarkan diri. Sebab, selain menimbulkan perpecahan di Karangcegak, ajaran Tri Suci makin lama makin menyimpang dari agama Islam.

Adijati, fasilitator padepokan, mempersilakan pihak yang berwajib untuk membubarkan padepokan itu. ''Silakan bila mau dibubarkan atau dibongkar. Saya justru sudah lama menyuruh dibongkar saja. Tetapi warga yang menjadi pengikut ingin pamitan dulu kepada Abah Semar. Saya beberapa kali menghubungi Abah lewat HP, tidak bisa nyambung,'' katanya kemarin.

Kasi Bina Pemerintahan pada Kantor Kecamatan Kutasari itu menyatakan minta maaf kepada masyarakat Karangcegak karena telah menimbulkan keresahan. Dia menjelaskan, maksud semula dia menghubungkan Abah Semar dengan warga adalah baik, yaitu mengajak para pemuda untuk menjauhi maksiat dan kembali kepada iman dan takwa.

Tetapi belakangan dia mengaku terkejut atas sejumlah omongan Abah yang nganeh-anehi. Seperti mengaku putra Raden Kamandaka cucu Prabu Siliwangi, mengaku sebagai satriya piningit yang akan menjadi presiden pada 2004, menyatakan di padepokan telah ditanam pusaka guntur-geni dan di sekitarnya ada harta karun.

''Ketika mendengar perkataan itu, saya malah geli. Saya sama sekali tidak percaya terhadap omongan itu. Kalau soal harta karun, secara bergurau saya bilang memang ada. Sebab di sekitar padepokan kan banyak batu dan pohon petani. Kalau diambil dan dijual kan bisa jadi uang,'' ujar Adijati.

Akal Sehat

Karena itulah, dia kini sudah tidak lagi percaya terhadap ajaran Tri Suci dan tidak akan menyebarluaskan ajaran itu lagi. Kepada warga yang masih percaya terhadap Abah Semar, Adijati menyarankan untuk mencerna ajaran itu dengan akal sehat.

Adijati mengaku, selama ini dia baru bertemu langsung dengan Abah Semar 4 kali. Dia baru mengenal Abah beberapa hari sebelum bulan Ramadan lalu. Meski sempat menjadi penghubung Abah dengan warga, Adijati menyatakan tidak tahu nama asli orang yang dipanggil dengan Abah Semar itu.

Sementara itu, Michad selaku penanggung jawab padepokan dan Slamet Suyatno, staf Kantor Kecamatan Kutasari yang menjadi pengikut Tri Suci, menemui Adijati Minggu (16/3) siang. Keduanya menegaskan kini tidak lagi mempercayai ajaran Tri Suci. Seperti Adijati, semula keduanya percaya karena ajaran itu baik seperti ajaran agama pada umumnya.

Pada awalnya, Abah Semar mengajarkan tiga pokok ajaran Tri Suci, yaitu jujur, benar, dan eling. Abah juga mengajarkan pentingnya salat tahajud, zikir, tafakkur. Tetapi belakangan dia menyatakan banyak hal yang tidak masuk akal. Seperti dirinya tidak mempunyai darah dan jantung.

''Saya akan membubarkan padepokan itu secepatnya, sebab padepokan itu berdiri di atas tanah saya. Saya minta maaf kepada warga Karangcegak yang telah resah akibat ajaran ini, dan juga kepada Adijati dan Slamet Suyatno karena keduanya telah menjadi korban ajaran Abah Semar,'' kata Michad.

Turunkan Tim

Sementara itu, Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Boyolali sejak kemarin menerjunkan tim untuk meneliti kebenaran kemunculan aliran kepercayaan di Desa Musuk, Kecamatan Musuk. Namun sejauh ini pihaknya belum menemukan data-data secara terperinci.

''Kami sedang melakukan investigasi sejauh mana kebenaran aliran itu. Kalau benar aliran tersebut sesat, yang berhak menangani adalah Kejaksaan Negeri (Kejari),'' kata Kepala Kantor Kesbanglinmas Bambang Hartono, kemarin.

Berdasarkan pemantauan, beberapa warga kemarin berdatangan di padepokan yang dikabarkan mengajarkan aliran misterius. Mereka tampaknya bermaksud melakukan pengobatan. Warga sekitar atau yang berdatangan di padepokan menolak memberikan keterangan.

''Saya tak tahu apa itu padepokan,'' kata salah seorang warga.

Sebagaimana diberitakan, aliran yang berkembang di Purbalingga hingga mendirikan padepokan misterius, ternyata juga ada di Boyolali, tepatnya di Desa Musuk, Kecamatan Musuk. Aktivis kelompok itu terkesan nganeh-nganehi. Kelompok itu modusnya mengiming-imingi calon pengikutnya, yakni mereka akan memperjuangkan penggalian harta karun. Anggota kelompok itu dikabarkan sudah mencapai ratusan orang.

Beberapa wartawan yang kemarin mencoba meminta klarifikasi kepada Sri Marjoko yang disebut-sebut pimpinan pedepokan, tak berhasil menemuinya. Beberapa warga yang berada di padepokan mengaku tidak tahu kepergiannya.

Lokasi Padepokan

Padepokan itu berdiri di atas tanah kurang lebih seluas 400 m2. Sedangkan bangunannya terdiri atas 4 unit, satu di antaranya bangunan besar terbuat dari dinding tripleks. Dua unit di depannya terbuat dari bambu. Pada bangunan bambu terdapat tulisan Padepokan Singojoyo dengan huruf aksara Jawa. Di sekitar bangunan bambu juga terdapat semacam lumpang air dan kembang setaman yang ditutupi payung.

Sutiyen, yang mengaku sedang berobat, kepada wartawan mengatakan, di sekitar padepokan ada yang diberi kembang karena di tempat itu disemayamkan Eyang Abddulah yang dianggap sakti dan sangat dihormati. Dia mengaku sudah beberapa kali datang ke padepokan untuk berobat karena kakinya bengkak.

''Setelah berobat ke sini, penyakit saya sembuh,'' kata dia.

Sejak diberitakan adanya pedepokan yang dikabarkan mengajaran aliran misterius, warga tidak terbuka dan terkesan melakukan gerakan tutup mulut. Kalaupun terbuka mengaku datang ke padepokan hanya untuk berobat. Namun hampir setiap malam dilakukan kumpul-kumpul, sehingga menimbulkan kecurigaan.(F10,shj-60,17t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA