logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 14 Maret 2003 Tajuk Rencana  
Line

Mencermati Kemunculan Tokoh-tokoh Independen

- Jajak pendapat yang dilakukan oleh SS Syndicated menghasilkan pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Jusuf Kalla sebagai calon terfavorit dan paling diharapkan rakyat menjadi presiden dan wakil presiden. Pasangan Sultan-Kalla memperoleh 27,9% suara, disusul Nurcholish Madjid-Kalla 27%, Megawati Soekarnoputri-Susilo Bambang Yudhoyono 19,20%, Amien Rais-Yusril Ihza Mahendra 10,5%, dan Megawati-Hamzah Haz 6%. Sementara itu, pasangan Megawati-Kalla mendapat 1,3%, Sultan-Syafii Maarif 0,5%, Nurcholish-Yusril 0,4%, Susilo-Syafii 0,4%, Nurcholish-Hasyim Muzadi 0,2%, Amien-Hamzah 0,1%, dan Susilo-Hasyim Muzadi 0,1%.

- Jajak pendapat tersebut dilakukan pada 1-10 Maret lalu di 15 kota dan 14 kabupaten di Indonesia. Teknik yang dipakai purposive random sampling, melibatkan 10.000 responden yang terdiri atas 61,6% laki-laki, 38,4% perempuan. Mereka diidentifikasikan sebagai kelompok pemilih kalkulatif rasional (terdidik), pemilih tradisional atau aliran, dan massa mengambang (floating mass) dalam Pemilu 2004. Latar belakang pendidikan mereka adalah SD (7,7%), SLTP (10,3%), SMU (51,5%), dan sarjana 20,3%. Hasil jajak pendapat ini ditanggapi oleh beberapa pengamat politik. Sebagian besar justru mempertanyakan kapasitas Sri Sultan Hamengku Buwono X-Jusuf Kalla, mampu atau tidak memimpin bangsa dengan baik.

- Selain penilaian tentang kapasitas dua tokoh tersebut, masih bisa juga dipertanyakan sejauh mana validitas hasil jajak pendapat itu. Masih bisa dipertanyakan, apakah hasil itu sudah benar-benar mencerminkan aspirasi rakyat Indonesia. Mungkin ada pula orang yang mempertanyakan, mengapa justru Sultan dan Jusuf Kalla yang menempati urutan teratas, padahal kedua tokoh ini bukan aktivis partai, meskipun keduanya anggota Golkar. Juga, mengapa Nurcholish Madjid menempati urutan kedua, dipasangkan dengan Kalla, padahal cendekiawan Muslim ini tidak memiliki pengalaman di birokrasi dan bukan orang partai. Pertanyaan yang sama mungkin pula bisa diarahkan kepada Hasyim Muzadi, Syafii Maarif, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

- Terlepas dari persoalan validitas, hasil jajak pendapat itu sebenarnya mencerminkan adanya kecenderungan tertentu di kalangan masyarakat dalam mengharapkan pemimpin nasional masa depan. Kecenderungan itu adalah rakyat menginginkan sesuatu yang baru, yang tidak harus selalu dikait-kaitkan dengan politik (atau partai politik). Kemunculan tokoh-tokoh independen yang bukan aktivis partai, seperti Sultan, Nurcholish, Susilo Bambang Yudhoyono, Hasyim Muzadi, dan Syafii Maarif cukup memperlihatkan kecenderungan tersebut. Pada sisi lain, fakta ini menunjukkan kemerosotan tingkat kepercayaan rakyat kepada partai-partai politik. Mereka tidak lagi merasa partai-partai politik mewakili dan memperjuangkan aspirasi rakyat.

- Di tengah-tengah kekecewaan terhadap partai-partai politik, yang salah satunya tercermin dari kinerja lembaga legislatif, itulah masyarakat kemudian berpikir alternatif. Mungkin inilah yang dalam manajemen, disebut sebagai think out of the box atau berpikir di luar kotak. Ketika seseorang atau kelompok orang menghadapi situasi dilematis, biasanya muncul pemikiran-pemikiran alternatif seperti itu. Mereka tidak lagi berpikir dalam ''kotak-kotak rutinitas'' tetapi keluar dari kotak itu dan menemukan pilihan-pilihan baru. Muncullah tokoh-tokoh yang bisa diasumsikan independen, tidak ''terbelenggu'' oleh kepentingan-kepentingan partai politik. Rakyat sudah cukup jenuh menghadapi situasi yang ''begini-begini saja.''

- Pemikiran alternatif muncul karena kinerja partai-partai politik belum sesuai dengan harapan rakyat. Orang-orang partai sibuk memikirkan dirinya sendiri, kelompoknya, dan partainya. Kapan mereka memikirkan rakyat, memikirkan bangsa ini? Itulah sebabnya, rakyat pun merasa tidak perlu memikirkan mereka. Kredibilitas partai politik merosot, sehingga rakyat menoleh pada tokoh-tokoh independen. Kecenderungan ini pun terjadi di dalam tubuh partai politik sendiri dengan terbukanya kemungkinan mencalonkan tokoh di luar partai. Artinya, di kalangan partai pun muncul keragu-raguan terhadap kader mereka sendiri. Karena itu, bukan tidak mungkin calon-calon independen yang akan muncul sebagai pemenang.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA