
| Kamis, 13 Maret 2003 | Berita Utama |
Polling SS Syndicated:Sri Sultan-Kalla Calon TerfavoritJAKARTA - Jajak pendapat atau pollingThe Ultimate Duets for the 2004 Presidential Race seri ketiga yang dilakukan SS Syndicated ternyata menempatkan pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono X-Jusuf Kalla sebagai calon terfavorit, dan yang paling diharapkan rakyat menjadi presiden dan wakil presiden tahun 2004 mendatang. Semua pasangan dipilih langsung oleh 10.000 responden di 29 kota/kabupaten di Indonesia. Pasangan Sultan-Kalla tersebut memperoleh 27,9 persen, disusul oleh pasangan Nurcholish Madjid-Jusuf Kalla yang menempati urusan kedua dengan 27 persen, Megawati Soekarnoputri- Susilo Bambang Yudhoyono 19,20 pesen. Pasangan Amien Rais-Yusril Ihza Mahendra 10,5 persen, dan pasangan Megawati-Hamzah Haz 6 persen. Sementara pasangan Megawati-Jusuf Kalla 1,3 persen, Sultan-Syafii Maarif hanya memperoleh 0,5 persen, Nurcholish-Yusril 0,4 persen, Susilo BY-Syafii Maarif 0,4 persen. Sedangkan pasangan Nurcholish-Hasyim Muzadi 0,2 persen, dan pasangan Amien Rais-Hamzah Haz hanya memperoleh 0,1 persen dan Susilo BY-Hasyim Muzadi 0,1 persen. Menurut Ketua SS Syndicated, Soegeng Sarjadi, jajak pendapat itu dilakukan tanggal 1 - 10 Maret 2003 di 15 kota dan 14 kabupaten di Indonesia. Melalui teknik pusposive random sampling, kata dia, dibidik 10.000 responden yang terdiri atas laki-laki sebesar 61,6 persen dan perempuan 38,4 persen. Dalam pemilu, kata dia, responden tersebut diidentifikasi sebagai kelompok pemilih kalkulatif rasional (terdidik), pemilih tradisional atau aliran dan massa mengambang (floating mass). Latar belakang pendidikan mereka adalah SD 7,7 persen, SMP 10,3 persen, SMU 51,5 persen, dan sarjana 20,3 persen. Tanggapan Hasil jajak pendapat yang menempatkan pasangan Sultan-Kalla di tempat terhormat ini ditanggapi secara kritis oleh pengamat politik dari CSIS Dr Kristiadi dan Dr Rizal Mallarangeng serta pengamat ekonomi dari UI, Chatib Basri. Kristiadi mengaku heran Sri Sultan-Kalla muncul sebagai calon yang paling diharapkan untuk memimpin negara berpenduduk 200 juta lebih ini. ''Sebagai orang Yogya, saya tak akan memilih Sri Sultan untuk menjadi presiden pada Pemilu 2004 mendatang. Sebab, kalau beliau sampai terpilih, saya khawatir Indonesia akan berubah menjadi kerajaan, sehingga demokrasi tidak akan jalan di negeri ini. Saya melihat Sri Sultan Hamengku Buwono X tak sehebat bapaknya (Sri Sultan Hamengku Buwono IX),'' ujarnya. Senada dengan Kristiadi, Rizal Mallarangeng mengatakan, memilih pemimpin adalah sebuah kehormatan di negara demokrasi. Karena itu, hak tersebut harus dimanfaatkan untuk memilih pemimpin yang benar-benar berbobot. Padahal, Sri Sultan yang dalam jajak pendapat ini menempati urutan teratas tidak pernah berbuat sesuatu yang mendasar bagi negara ini. ''Wong menata Malioboro saja tak bisa kok akan dipilih menjadi presiden,'' ujarnya. Mallarangeng mengatakan, dilihat dari hasil jajak pendapat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa calon presiden dan wapres yang bersumber dari satu partai tidak mungkin menang. Karena itu, partai-partai politik mulai sekarang harus memikirkan untuk melakukan koalisi dalam pencalonan presiden dan wapres tersebut. ''Ini penting untuk dipikirkan, sebab kalau tidak calonnya pasti kalah,'' ujarnya. Sementara itu, Chatib Basri mengatakan, dari calon-calon yang muncul dari jajak pendapat ini tidak ada yang memiliki program agar bangsa ini bisa keluar dari krisis ekonomi. Baik Sri Sultan maupun Nurcholish yang menduduki peringkat teraras, tidak pernah berbicara masalah ekonomi. Hanya Amien Rais yang punya program, yaitu IMF harus keluar dari Indonesia. ''Amien juga tidak mau privatisasi BUMN,'' ujarnya. Mengalkulasi Soegeng lebih lanjut mengatakan, dengan pemilihan presiden dan wapres secara langsung dalam satu paket, menjadikan partai politik harus mengalkulasi ulang terhadap tokoh-tokoh mereka. Bisa jadi seorang tokoh yang sangat populer untuk menjadi presiden, tidak mendapat dukungan masyarakat karena dipasangkan secara salah. Disebut sebagai contoh, pada jajak pendapat pertama (Juli 2002), pasangan Mega-Susilo menempati urutan teratas. Tapi ketika Mega dipasangkan dengan yang lain, angkanya merosot tajam. Pada jajak pendapat kedua (Oktober 2002), Sultan menggeser popularitas Mega untuk kursi presiden 2004. Tapi, jika Sultan dipasangkan secara salah, seperti kasus Mega, dia akan kehilangan dukungan massa. Partai politik, kata dia, yang melihat kecenderungan sentimen publik terhadap pasangan presiden dan wakil presiden tersebut, dapat dengan cerdas memilih pasangan mana yang bakal mereka jagokan pada Pemilu 2004. ''Saya melihat, ada pergeseran dalam perilaku politik masyarakat. Tampaknya, masyarakat kurang percaya terhadap tokoh partai politik untuk menduduki kursi presiden,'' ujarnya. Soegeng berpendapat, pasangan Sultan-Kalla dan Nurcholish-Kalla yang menempati pe-ringkat terhormat dalam jajak pendapat merupakan ancaman serius bagi pasangan yang dijagokan PDI Perjuangan. Berdasarkan hasil jajak pendapat, komulasi angka kedua pasangan itu mencapai lebih dari 54 persen. Artinya, apa pun partai besar yang mencalonkan salah satu dari mereka, apalagi Golkar, maka kemungkinan untuk memenangi pemilu sangat besar. (tri-16t) |