logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 10 Februari 2003 Berita Utama  
Line

Arafah, Hijau Royo-royo oleh Pohon Soekarno

Senin (hari ini-red) seluruh jamaah haji yang jumlahnya mencapai 3,5 juta orang lebih akan mengikuti puncak ritual haji di Padang Arafah. Bukit tandus bebatuan itu, kini tidak lagi gersang. Malahan terlihat ''ijo royo-royo'' dengan jalan aspal lebar dan mulus berada di tengah dan kanan kirinya. Wartawan Suara Merdeka Agus Fathuddin Yusuf yang berada di Makah, menuliskan laporan tentang padang tempat pertemuan Nabi Adam dan Hawa itu.

ARAFAH adalah tempat ketiga bagi jamaah haji, yaitu setelah Makah dan Mina. Di sinilah pelaku haji harus melakukan wukuf, yang arti harfiahnya berdiam diri atau berhenti tidak jalan. Meski waktu wukufnya baru Senin besok, mulai bakda zuhur sampai terbenamnya matahari, sekitar enam jam, calon jamaah haji sudah didatangkan sejak Minggu sore ini mulai bakda asar hingga tengah malam.

Arafah artinya tahu atau mengerti. Ada sebuah hadist yang menyebut, ''Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu'' (Siapa yang tahu jati dirinya, maka dia akan tahu tentang Tuhannya). Konon di tempat itulah, manusia pertama di bumi Nabi Adam Alaihissalam mengerti tentang jati dirinya.

Wukuf di Arafah merupakan rukun haji. Artinya, tanpa wukuf di Arafah berarti hajinya tidak sah. Jadi wukuf maksudnya berada di tempat itu, antara tergelincirnya matahari (tengah hari) tanggal 9 Zulhijjah sampai tengah malam dengan berpakaian ihram. Walau pun keberadaannya di lokasi itu hanya sebentar.

Sajarah Soekarno

Padang itu terletak sekitar 25 km arah Tenggara Kota Makah. Merupakan tanah lapang yang sangat luas dan di bagian belakang dikelilingi bukit berbentuk setengah lingkaran. Padang yang luasnya sekitar 5,5 km x 3,5 km itu sekarang sudah dipisah oleh pemerintah Arab Saudi dengan jalan-jalan besar beraspal dan ditanami pohon-pohon rindang, sehingga bila dilihat dari atas, seperti kotak-kotak hijau dengan garis-garis hitam.

Orang Arab menyebut pohon-pohon itu dengan nama ''Sajarah Soekarno'' atau pohon Soekarno. Hal itu dibenarkan H Thoriq, orang Arab yang kini menjadi perwakilan sebuah Biro Perjalanan Haji (BPH) Plus di Makah. Di Indonesia, pohon-pohon itu dikenal dengan nama ''Pohon Imbo'' atau ''Pohon Imba''.

Konon berkhasiat untuk obat diabet. Keistimewaan pohon itu, tahan hidup dalam cuaca panas. Gagasan besar Presiden Soekarno di Arab Saudi waktu itu, menurut Drs HM Chabib Thoha MA, Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Adisumarmo Solo, ada dua. Yaitu penanaman pohon di Arafah dan pembuatan tiga jalur di Mas'a atau tempat Sai.

Sampai sekarang, tempat Sa'i antara Bukit Safa dan Marwa terbagi menjadi tiga jalur. Yaitu jalur Safa ke Marwa, dan jalur Marwa ke bukit Safa. Di tengah-tengahnya terdapat jalur khusus untuk orang-orang yang sudah uzur menggunakan kursi roda. ''Dua gagasan Ir Soekarno itu dilaksanakan betul-betul oleh Raja Fahd,'' katanya.

Makanya wajar sampai sekarang orang Arab menyebutnya sebagai ''Sajarah Soekarno''. Pada musim haji, di bawah pohon-pohon itu dipasang tenda-tenda untuk penginapan jamaah. Acaranya, setelah shalat zuhur jamak takdim dengan asar disampaikan khutbah wukuf. Puncaknya disampaikan di Masjid Namirah, yang terletak tepat di tengah-tengah Padang Arafah.

Tetapi karena jumlah jamaah haji yang luar biasa banyaknya, praktiknya mereka shalat berjamaah di tenda masing-masing sesuai kloternya. Di setiap kloter telah ditunjuk imam salat, khatib yang menyampaikan khutbah wukuf dan orang yang memimpin doa. Waktu wukuf, termasuk tempat yang mustajabah, artinya segala permintaan akan dikabulkan Allah SWT. Makanya di tempat itu biasanya hampir semua jamaah haji berlinangan air mata.

Bagi orang asli Arab Saudi atau orang Indonesia yang sudah tinggal di negara itu (mukimin-red) biasanya membuat tenda-tenda di luar kawasan pagar. Bahkan tak sedikit yang cukup menggelar karpet atau tikar di dekat mobil. Adanya pohon-pohon itu membuat Arafah terasa tidak panas atau tandus lagi. Buktinya tanpa tenda pun mereka bertahan.

Malahan sekarang ini pemerintah Saudi membangun pipa-pipa air. Setiap 20 meter, ada pipa setinggi 8 meter yang dari atasnya memancar air halus yang mirip gerimis, sehingga mendinginkan suhu sekitarnya. Pancaran air itu dirasakan sangat bermanfaat, terutama mengurangi sengatan matahari. Hanya pancaran air itu belum seluruhnya merata. Baru terbatas di bagian tengahnya saja.

Pertemuan Adam-Hawa

Dinamakan Arafah yang berarti zahu atau kenal, karena lokasi itu tempat pertemuan Nabi Adab dan Hawa. Ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surga berpisah tempat. Ada yang berpendapat Adam di turunkan di daerah India, sementara Hawa diturunkan di Irak.

Beratus-ratus tahun dalam pencariannya, maka bertemulah kedua orang pertama di dunia ini. Dan tempat pertemuannya itu di padang Arafah, tepatnya di pegunungan kecil bernama Jabal Rahmah. Kisah mengenai Adam dan Hawa serta perjumpaan mereka di Arafah membutuhkan penjelasan. Kita membayangkan keadaan Nabi Adam dan Siti Hawa yang semula hidup berkasih-kasih di surga. Tapi karena melanggar aturan Allah, maka diturunkanlah kedua ke dunia.

Mereka harus menerima pahit getirnya hidup di dunia dan harus berpisah satu sama lain. Mengapa antara keduanya bisa bertemu di Arafah? Ada kisah lain yang mengatakan para malaikat mengingatkan Adam dan Hawa, setelah keduanya diturunkan ke bumi. Ini dimaksudkan agar mereka mengakui dosa-dosanya dan memohon ampunan kepada Allah.

Kemudian dikatakan, Adam dan Hawa telah mengetahui (arafa) dosanya. Mereka juga mengetahui (arafa) caranya bertaubat. Ada pula kisah lain yang menceritakan saat Jibril memberi tahu Ibrahim cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya: ''Arafta, tahukah Anda?''

Ibrahim menjawab: ''Araftu. Aku mengetahui.''

Dialog ini bisa jadi berarti bahwa di tempat itu manusia mengenali robnya, dan manusia datang ke tempat itu untuk mengakui dosanya serta memohon ampunan pada Rob-nya dengan penuh kerendahan. Walhasil, apa pun asal-usulnya, penamaan Arafah dan kegiatan ibadah pada hari itu dengan hari Arafah atau Tarwiyah. Namun yang tidak diragukan, hari itu merupakan hari mulia. Yaitu hari yang dibanggakan Allah kepada para hambanya. Di Arafah, kita melihat persamaan yang merata dalam waktu yang bersamaan.

Semua jenis bangsa, warna kulit dan bahasa, berbagai pangkat dan jabatan, harus memperlihatkasn kebersamaan yang utuh. Semua berkumpul dalam sebuah padang dan waktu yang sama. Pakaian pun sama dan seragam, tidak ada bedanya antara kaya dan miskin, yang pangkatnya tinggi dan rendah. Tidak ada rasa sombong dan angkuh.

Semua merendahkan diri mengharap ampunan Ilahi. Keutamaan Arafah adalah sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya: ''Doa yang paling afdhal adalah doa di hari Arafah''. Dalam riwayat lain, Nabi bersabda: ''Tidak ada hari yang paling banyak Allah menentukan pembebasan hambanya dari neraka, kecuali hari Arafah''.

Kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina sekitar 5 km untuk melempar jumrah. Kemudian thawaf ifadhah di Makah, Sa'i dan tahallul. Selesailah sudah prosesi ibadah haji. Mereka pulang dengan sebutan haji dan hajjah yang mabrur.(Agus Fathuddin Yusuf, dari Tanah Suci Makah-64).


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA