logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 Februari 2003 Tajuk Rencana  
Line

Warga Solo Resik-resik Kutho

- Wara-wara atau ajakan "Resik-resik Kutho" yang selama beberapa hari ini mengumandang di udara Kota Solo ternyata bukan omongan belaka. Minggu pagi lalu menjadi saksi. Ribuan warga kota ramai-ramai turun ke berbagai tempat yang sudah ditentukan untuk dibersihkan. Ada saluran air, lingkungan pasar, pinggir-pinggir jalan, seputar Alun-alun Kidul dan lain-lain. Hampir semua lapisan masyarakat tampak, seperti para pejabat Pemkot, Wawali J Soeprapto, pegawai, pemuda, pelajar, anggota TNI, polisi, dan pengurus RT-RW. Mereka membawa alat apa pun yang dimiliki. Ada arit, cetthok, cangkul, sapu lidi, engkrak. Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang dikomandani Drs Triyanto mengerahkan mobil pengangkut sampah.

- Peristiwa itu menarik perhatian lantaran beberapa hal. Kebersihan kota adalah salah satu segi yang tak pernah terselesaikan. Ada saja bagian yang tampak kumuh dengan gunungan sampah tidak terurus. Saluran air yang dangkal karena penuh lumpur. Atau sungai yang airnya mampet karena terbendung tumpukan seribu satu jenis sampah. Dari mana asal sampah itu, pada dasarnya juga dari warga kota baik buangan rumah tangga maupun puluhan jenis usaha yang tidak menyediakan tempat penampungan sampah memadai. Belum lagi warga kota, tamu pendatang, yang membuang sampah seenaknya di pinggir-pinggir jalan kendati bak sampah sudah disiapkan di sana. Budaya bersih merupakan salah satu perilaku warga kota, di kota mana pun, yang begitu sulit ditanamkan.

- Karena itu, kebersamaan warga kota seperti yang terjadi di Solo sangat menarik. Apalagi bila sampai Minggu berikutnya nanti, 9 dan 16 Februari, mereka masih terus bersedia turun membersihkan kota. Bila harapan Kepala DKP mengajak lebih banyak warga kota untuk turun mendapat tanggapan positif, adalah layak ditiru kota atau instansi lain. Kebersamaan warga tak hanya penting untuk merawat kota, tetapi terutama untuk membangun kebersamaan dan kehidupan yang aman tenteram. Apalagi di sana ada warga lain yang bersedia cucul dalam bentuk lain. Pasukan Soeporter Solo Sejati (Pasoepati) mengirim 5.000 buah nasi bungkus dari Persijatim Solo FC. Ketua PSSI Jateng Drs Soemarjoto, anggota DPR asli Wonogiri, menyumbang 200 dus air minum mineral kemasan.

- Kebersamaan, itulah salah satu kata kunci untuk membangun kehidupan yang aman damai di kota. Namun betapa sulit mewujudkan hal itu, sudah menjadi rahasia umum. Yang sering kita lihat justru rasa saling curiga. Namun alasannya juga masuk akal. Misalnya dalam hal sampah kota. Jangan salahkan bila ada warga enggan turun tangan. Mereka juga punya alasan kuat. Tiap bulan mereka sudah dibebani retribusi sampah yang ditarik bersama rekening PDAM atau yang lain. Tak peduli warga itu tinggal di tengah kota yang sampah buangannya tiap hari diangkut truk DKP, dan di daerah pinggiran yang tiap hari tetap membuang sampahnya. Atau mbok-mbok bakul di pasar yang juga kena iuran sampah, namun barang buangan itu tetap menggunung.

- Mengapa hal itu terjadi? Alasan yang dikemukakan biasanya klise. Misalnya Pemkot tak mampu menyediakan tenaga kebersihan yang relatif memadai. Atau anggaran tak cukup untuk pengadaan sarana kebersihan. Misalnya untuk membeli truk baru, kontiner sampah, atau gerobak. Kadang-kadang ada pengusaha atau organisasi pengusaha yang menyumbang sarana. Namun itu semua belum sebanding dengan jumlah sampah yang diproduksi semua warga kota dari hari ke hari. Di sana, sangat gampang terjadi perbedaan pendapat antara Pemkot dan warga yang sudah membayar retribusi. Untuk memecahkan hal itu, yang dibutuhkan adalah dialog-dialog dengan warga dan keterbukaan dari jajaran kota dalam penanganan tiap masalah. Para bapak sering-sering turun ke tengah warga.

- Faktor penting lain adalah pemilihan momentum. Solo memilih HUT ke-258 pada 17 Februari. Secara kebetulan berdekatan dengan HUT Suara Merdeka pada 11 Februari, yang tahun ini genap 52 tahun. Pemkot dan Suara Merdeka bisa menyusun dan mengampanyekan acara bersama. Yang lebih penting lagi, antusiasme dan kebersamaan warga menanggapi "Resik-resik Kutho". Bagaimanapun, gebrakan semacam itu dibutuhkan oleh kota mana pun. Pemkot dan jajarannya tak akan mampu memberesi semua problem kota. Warga sudah disiplin membayar retribusi, namun problem yang muncul dalam kehidupan kota jumlahnya selalu tambah banyak. Kebersamaan warga kota Solo sangat fenomenal, karena berkebalikan dengan semangat duet pemimpinnya yang malah ngalor-ngidul.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA