
| Selasa, 4 Februari 2003 | Berita Utama |
Da'i: Ini Peringatan bagi Kami
JAKARTA- Sebuah bom kemarin pukul 07.20 meledak di Wisma Bhayangkari, yang terletak di kompleks Mabes Polri. Tak ada korban jiwa pada peristiwa yang terjadi bersamaan dengan berlangsungnya apel personel di Mabes Polri tersebut. Ledakan yang berasal dari bom low explosive (berdaya ledak rendah) itu merusakkan plafon bagian depan, pot-pot bunga, dan atap tenda putih biru di gedung yang terletak di Jalan Sanjaya 1 Jakarta Selatan tersebut. Kaca-kaca jendela gedung Dinas Personalia Mabes Polri juga pecah. Ledakan tersebut juga menghancurkan kaca belakang Toyota Kijang B-7634-JD dan merusakkan sedan Toyota Corolla B-2882-JN yang parkir di depan gedung tersebut. Berdasarkan keterangan sementara, sebelum meledak bom tersebut sudah diketahui petugas kebersihan gedung tersebut, Entik dan Norman, pada pukul 06.30. Menurut mereka ada tas hitam mencurigakan di dekat sebuah pot di bagian depan wisma. Mereka langsung melaporkan benda mencurigakan tersebut kepada komandan jaga, yang segera ditindaklanjuti dengan dikirimkannya tim Gegana. Namun sebelum ditangani, bom tersebut sudah meledak. Kapolri Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar dan petinggi Mabes lainnya serta Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) Makbul Padmanegara langsung melakukan peninjauan. Setelah rombongan Kapolri meninggalkan tempat, lokasi tersebut langsung tertutup bagi pers dengan dibentangkannya police line di pintu masuk Wisma Bhayangkari. Tanpa Deteksi Sementara itu, dalam raker dengan Komisi II DPR RI kemarin Kapolri mengatakan, walaupun terletak di kompleks Mabes Polri, Wisma Bhayangkari merupakan salah satu fasilitas Mabes yang boleh disewakan untuk umum. Karena itu, penjagaan di tempat tersebut tidak ketat dan tak ada alat pendeteksi bom. Namun Da'i mengaku ledakan di lingkungan Mabes Polri itu juga menjadi pelajaran agar polisi tidak lengah. "Ini peringatan bagi kami supaya tidak lengah lagi. Tapi sebenarnya bom itu sudah kami temukan. Hanya sayangnya ketika dalam proses dijinakkan sudah keburu meledak," katanya. Di hadapan anggota DPR, Da'i mengatakan, saat ini polisi sedang memeriksa saksi-saksi secara intensif. Ada enam saksi yang diperiksa Badan Reserse dan Kriminologi Mabes Polri, yaitu Norman, Iman, dan Entik (ketiganya petugas cleaning service, yang terakhir kali membersihkan Wisma Bhayangkari sebelum ledakan terjadi), Sutikno (tukang kebun yang disebut-sebut tinggal di Cipete, Apang Jaya), dan Dewi Partogi (salah seorang staf pemasaran Wisma Bhayangkari). Berita terakhir menyebutkan, rekan Dewi, yaitu Ny Yopi, juga diperiksa. Dalam kesempatan yang sama Da'i juga menilai pengebom ingin membuat kesan psikologis bahwa rasa aman makin sulit tercipta. Dengan analogi bahwa teror bom pun bisa terjadi di Mabes Polri. Namun baginya tiada pilihan kecuali tetap mengupayakan rasa aman di tengah masyarakat, walaupun dengan berbagai keterbatasan. Pipa Besi Dalam konferensi pers di Mabes Polri kemarin, Brigjen Pol Edward Aritonang mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, bom yang meledak adalah jenis low explosive. Bom tersebut dikemas dalam pipa besi, berjenis bubuk hitam (black powder) dengan diameter 16 cm, tinggi 11 cm, bagian atasnya ditutup pelat baja, dan bawahnya ditutup semen. Bom tersebut juga dipasangi 130 potongan besi beton, yang ditemukan setelah ledakan. Bom itu kemudian dihubungkan dengan batere atau aki yang kemudian disambung ke timer dan meledak pada pukul 07.10. Saat di DPR, Komjen Pol Erwin Mappaseng mengatakan, penggunaan pipa pralon baja mengingatkan kejadian bom di Lampung dan Medan, namun sangat berbeda dari bom di Bali. Saat ditanya tentang korban, Aritonang hanya mengatakan, ada yang melapor seorang ibu pingsan karena kaget. Menurut dia, sampai saat ini pemeriksaan saksi-saksi sedang dilakukan. Karena itu, penyebab ledakan dan siapa pelakunya belum bisa secara pasti. Menantang Polri Beragam komentar muncul atas terjadinya ledakan bom di kompleks Mabes Polri. Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Marzuki Achmad berpendapat, ledakan tersebut seperti menantang Polri. "Ledakan itu seolah-olah menunjukkan para teroris dengan sengaja meledek pemerintah dan aparat keamanannya, khususnya Polri," kata Marzuki di DPR, kemarin. Dia menambahkan, karena itu kita jangan terlalu senang bahwa teroris bom Bali sudah tertangkap, sebab ternyata aksi-aksi seperti itu masih berlanjut. Dia mengingatkan, saksi-saksi teror seperti itu bisa mengancam ke mana-mana, termasuk kantor lembaga-lembaga tinggi negara, kalau tidak diatasi secara tuntas dan dengan tindakan pencegahan. "Dalam hal ini, aparat keamanan jangan underestimate. Kita jangan cepat merasa puas atas pengungkapan bom Bali, karena tindakan pencegahan aksi-aksi teroris perlu dilakukan secara optimal," katanya. (F4,nas-31t) | |||||