
| Selasa, 4 Februari 2003 | Semarang & sekitarnya |
Renovasi Kelenteng Sam Poo Kong (2)Diuruk 4 Meter, Dibangun Gua BaruKELENTENG Sam Poo Kong, bangunan aset Kota Semarang, tak terlepas dari sejarah pendirian bangunan. Budayawan Djawahir Muhammad menyatakan dalam buku Semarang Sepanjang Jalan Kenangan, tempat ibadah itu dibangun sekitar tahun 1406. Tempat pemujaan Sam Poo Kong yang lebih dikenal dengan sebutan Kelenteng Gedung Batu itu bukan hanya tempat pemujaan bagi masyarakat Tionghoa. Masyarakat Jawa juga sering berkunjung ke tempat itu, terutama pada malam Jumat Kliwon. Djawahir menyebutkan pula gua di tempat itu bukan gua asli. Sebab, ada kisah gua itu runtuh pada tahun 1704 ketika angin puyuh melanda kawasan tersebut. Kekhawatiran renovasi akan mengubah bentuk asli muncul dari Ketua Semarang Heritage Society, Ir Pudjo Koeswhoro. Rencana peninggian lantai altar Kelenteng Sam Poo Kong untuk menghindari luapan air, kata dia, sebaiknya menjadi pilihan terakhir. ''Sebab, renovasi itu dapat mengurangi keaslian dan nilai sejarah bangunan tua kebanggaan Kota Semarang. Yang perlu diperhatikan justru aspek lingkungan yang menyebabkan genangan di kompleks kelenteng dan sekitarnya,'' ujar Pudjo. Pakar tata kota dari Undip, Prof Ir Eko Budihardjo MSc, menilai langkah renovasi apa pun terhadap bangunan atau situs bersejarah seharusnya dikonsultasikan lebih dahulu dengan pihak yang berkompeten dan masyarakat. Bangunan seperti Kelenteng Sam Poo Kong adalah milik bersama, bukan milik perorangan atau kelompok. Kendati hanya peninggian lantai, upaya itu sedikit banyak akan mengganggu main building sehingga sangat riskan dilakukan. Setelah melalui berbagai dialog, renovasi bisa dimulai pada awal Juni 2002. Pengerjaan proyek diserahkan ke PT Wijaya Kusuma Contractors. Saat ini renovasi sudah berlangsung sekitar 10%. Diperkirakan renovasi memakan waktu dua tahun. Kontraktor menyebutkan, renovasi tidak akan mengubah bentuk asli. Ornamen Cina dipertahankan, bahkan ditambah gua baru segaris dengan gua lama. Gua itu berukuran 11 X 11 m. Di mulut gua akan ada air yang senantiasa mengalir dari sumur di dekat bangunan Sam Poo Kong. Di atas gua akan ditimbuni tanah dan rerumputan, namun tidak akan pengap karena memanfaatkan saringan udara. Di dalam gua ada altar pemujaan. Agar pengurukan terhindar dari air yang menggenang atau setidaknya sejajar dengan jalan harus setinggi 4 m. Pada masa datang, aset Kota Semarang itu pun diharapkan lebih menarik wisatawan Nusantara dan mancanegara. (Agus Toto Widyatmoko-73g) |