logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 Februari 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Dari Bencana Banjir di Cilacap (2-Habis)

Siswa SD Belajar di Barak Penampungan

SAAT masuk hari pertama setelah libur semesteran anak-anak sekolah tampak begitu ceria dan bersemangat. Berbeda halnya yang dialami anak-anak sekolah korban banjir di Desa Sidamulya Kecamatan Wanareja, Cilacap, saslah satu desa paling parah terkena bencana banjir, dari raut wajahnya tampak kusut dan tidak bersemangat.

Menyambut hari pertama masuk sekolah itu, mereka hanya bermalas-malasan. Ada sebagian yang masuk, ada pula yang tetap tinggal di lokasi pengungsian -bagi yang rumahnya masih tergenang air. Maklum selama berhari-hari mereka kelelahan saat mengungsi. Belum lagi perbekalan sekolah seperti buku, tas, alat-alat tulis maupun pakaian sebagian ada yang rusak dan terbawa banjir.

Pihak Dinas pendidikan juga tidak memberikan dispensasi meliburkan sekolah sampai situasinya membaik. Bagi sekolah yang sudah tidak tergenangi air pihak sekolah dan siswanya sibuk melakukan kerja bakti membersihkan lumpur atau menjemur buku dan arsip yang tersisa.

Bagi anak-anak yang mengungsi di tanggul sementara ada yang belajar di barak dimana guru datang ke lokasi. Atau terpaksa sekolahnya harus bergabung dengan sekolah lain yang sudah tidak tergenang. Sedangkan yang tertampung di Wanareja digabung dengan SDN 1 dan 2 Wanareja.

Belajar di Barak

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cabang Wanareja mencatat, di Desa Sidamulya, ada 6 Sekolah Dasar Negeri (SDN), satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tingkat Tsanawiyah (MTS). Dengan jumlah siswa sekitar 939 anak. Selama banjir semua terendam banjir setinggi 2-3 meter.

Dari pantauan Suara Merdeka hingga kemarin sekolah yang sudah surut airnya hanya SDN 1, 2 dan 3. Selebihnya, masih tergenang banjir antara setengah hingga satu meter. Seperti SDN 5 Sidamulya seperti diungkapkan Wakil Kepala Sekolah Wagiyo (49), mereka yang belajar di barak sendiri ada sekitar 132 siswa mulai dari kelas satu hingga enam.

Bencana banjir kali ini juga telah merusakkan ribuan buku-buku paket dan penujang, alat-alat peraga, perlengkapan kantor maupun bangunan sekolah banyak yang rusak berat.

Kepala Dinas P dan K Cabang Wanareja Drs Suparno menjelaskan, ribuan buku pelajaran yang rusak tidak bisa lagi digunakan.

Saat bencana banjir kali pertama datang, sekolah dalan kondisi libur semesteran. Sehingga semua yang ada di dalam sekolahan tidak sempat diselamatkan.

Menurut Suparno, bila ada yang terketuk hatinya, bisa langsung mengirimkan bantuan buku-buku pelajaran sesuai dengan kurikulum pendidikan yang berlaku. Sebab, buku cadangan yang ada jumlahnya juga tidak menadai.

Untuk keperluan data bantuan yang diperlukan Pihak P dan K saat ini telah menerjunkan seluruh pengawas dan penilik sekolah untuk melakukan pendataan kebutuhan buku dan perlengkapan lainnya. (Agus Wahyudi-68)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA