logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 4 Februari 2003 Budaya  
Line

Kisah Kematian dan Peti Mati

BERBICARA tentang peti mati, maka akan muncul berbagai kepercayaan yang berbeda di berbagai belahan dunia. Selalu ada kepercayaan yang berakar pada hal-hal mistis, klenik, makhluk halus, dan hal-hal lain yang irasional.

Di Jawa, misalnya. Jika peti mati yang akan laku terjual, maka pada malam sebelumnya peti itu akan menimbulkan bunyi gaduh. Benar atau tidak, jawabnya sama dengan percaya atau tidak.

Hal itulah, yang diangkat sutradara Mardali Syarif dalam film Peti Mati (The Coffin) yang menampilkan pemain baru Maya Caroline, serta muka lama seperti Sandy Nayoan, Joseph Ginting, Him Damsyik, dan Anita Carolina Mohede.

Film produksi Starvision itu, dibuat dalam format digital video, yang kemudian ditransfer ke pita 35 mm. "Ini sekadar untuk menghemat biaya, meskipun hasilnya memang kurang maksimal. Ada penurunan resolusi sampai 10 %, tapi gambarnya lebih bagus dibandingkan film Kafir yang kita produksi sebelumnya," tutur Chand Parves dari Starvision.

Tak bisa dipungkiri, film itu dibuat setelah sukses didulang dalam film Kafir (Satanic) yang dibintangi Sujiwo Tejo dan Meriam Bellina. Peti Mati (The Coffin) dibuat berdasarkan kisah nyata, yang dirangkai berdasarkan sisi-sisi kejadiannya; kemudian disajikan menjadi tontonan menarik dengan konsep dramaturgi.

Mardali, ketika meluncurkan film tersebut di Pusat Perfilman Usmar Ismail mengatakan, kepercayaan semacam itu bila diangkat ke film akan menghasilkan tontonan yang bernuansa horor, suspence; sesuatu hal yang tumbuh dan berkembang di lingkungan dan keseharian masyarakat kita.

"Jadi, kisah horor yang irasional merupakan sebuah ungkapan universal, karena tumbuh di seluruh dunia; baik dinegara maju maupun negara berkembang. Tontonan semacam itu, mempunyai penggemar yang luar biasa banyak, walaupun belum jadi ukuran banyaknya orang percaya, karena banyak yang semata-mata haus tontonan menegangkan. Saya cuma ingin membuat film yang bisa ditonton rakyat banyak. Itu saja," tegas Mardali, kemarin.

Film yang diangkat dengan latar belakang etnis Tionghoa itu, berseting tahun 1959 di suatu kawasan di Jakarta. "Ini bukan kepercayaan etnis Tionghoa, tetapi memang ada beberapa hal, yakni kepercayaan di kalangan mereka yang saya angkat. Misalnya kepercayaan, bahwa barang dagangan akan segera laku kalau dipukul dengan sapu lidi," tambah Mardali. (tn-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA