
| Jumat, 31 Januari 2003 | Tajuk Rencana |
5 Februari Sebuah Teka-teki Baru- Pidato kenegaraan Presiden Bush pada Rabu pagi tidak menggambarkan kapan serangan terhadap Irak akan dimulai. Bahkan, bisa dikatakan tidak ada hal baru dalam pidato kepada seluruh bangsa AS itu, yang diikuti pula oleh dunia dengan cermat. Bush cuma mengulang-ulang kebenciannya kepada Saddam Hussein. Kembali dia menyatakan akan memimpin koalisi untuk melucutinya, jika pemimpin Irak itu tidak bersedia melucuti diri sendiri. Bahkan membohongi PBB. Ada satu kemungkinan langkah AS yang berkorelasi dengan tekadnya melucuti pemimpin Irak. Pada 5 Februari, dia mengutus Menlu Colin Powell untuk menghadiri sidang DK PBB. Powell akan membeberkan bukti yang disebutkan dari intelijen tentang berton-ton kuman antraks dan gas saraf yang disimpan oleh Baghdad.
- Pernyataan bahwa AS mempunyai bukti tentang senjata pemusnah massal yang disimpan Baghdad berkali-kali dinyatakan oleh para pemimpin di Washington. Berkali-kali pula dikatakan, bukti itu akan dikemukakan jika tiba saatnya nanti. Kapan waktu itu tiba? Sangat mungkin yang dimaksud adalah setelah 27 Januari, sesudah tim inspeksi senjata PBB melaporkan hasil penelitiannya. AS akan mendengar dan melihat dulu laporan tersebut, untuk kemudian mengambil langkahnya sendiri. Sebab, sejak awal sebenarnya sudah ada gambaran, tekad AS tidak akan bisa dihentikan untuk menyerang Baghdad hanya karena laporan tersebut. Apakah berarti pada 5 Februari atau sesudah hari itu menjadi kemungkinan penetapan serangan tersebut?
- Sedikitnya ada dua sasaran dengan membeberkan data yang disebutkan dari intelijen di depan DK PBB pada Rabu pekan depan. Pertama, Presiden Bush hendak meyakinkan sekutu-sekutunya tentang kebohongan Irak. Sekaligus memberi bukti kepada dunia tentang kebenaran langkah melucuti pemimpin Irak. Kedua, memberi data kepada DK PBB yang bisa menjadi alasan menerbitkan mandat baru yang memberi peluang kepada AS untuk memulai serangan. Soal sikap sekutu AS sangat mungkin tidak akan berubah. Pendirian Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina bisa diduga akan tetap. Negara-negara itu tetap tidak menghendaki perang. Yang diisyaratkan untuk sementara ini adalah memperpanjang tugas tim inspeksi di Irak guna merampungkan penelitian. - Sikap masyarakat dunia pun jelas. Mayoritas mereka tidak menghendaki perang. Bukan karena faktor Saddam Hussein, melainkan karena mengkhawatirkan dampak buruk perang. Yakni, dampak di bidang ekonomi dan ancaman terorisme dengan sasaran kepentingan-kepentingan AS di seluruh dunia. Sementara itu, di AS rakyat yang menentang niat Presiden Bush juga makin luas. Janji perbaikan-perbaikan sosial di dalam negeri belum tentu mendongkrak dukungan bagi rencananya. Hingga sekarang, negara yang jelas mendukung niat Bush selain Inggris, cuma Spanyol dan tiga negara anggota baru NATO di Eropa Timur, yaitu Hongaria, Polandia, dan Rumania. Namun, dukungan tiga negara itu lebih karena butuh AS bagi masa depan pemerintahan ketimbang faktor Irak.
- Sikap Presiden Bush terhadap Saddam Hussein, identik dengan sikap PM Israel Ariel Sharon terhadap Presiden Palestina Yasser Arafat. Keduanya bernafsu besar untuk secepat-cepatnya menyingkirkan kedua tokoh itu. Penyingkiran kedua pemimpin tersebut membuka peluang keduanya membentuk pemerintahan boneka yang gampang dikendalikan. Cuma Presiden Bush sekarang masih menunda dukungan terhadap niat pemimpin Israel itu. Bush hendak menyelesaikan persoalan Irak dulu. Kecuali itu, dia juga dibatasi oleh sikap para pemimpin Arab yang tetap mendukung Arafat. Langkah yang ditempuh sekarang adalah mendorong dilakukan reformasi kepemimpinan Palestina. Namun, sasaran akhir sebenarnya tetap mengakhiri kepemimpinan Yasser Arafat yang dituduh mendukung terorisme.
- Masyarakat dunia sebenarnya mengetahui AS memiliki lebih dari sekadar mampu menggempur dan melengserkan Saddam Hussein. Dengan atau tanpa dukungan sekutu-sekutunya. Bahkan tidak dengan mandat baru dari PBB. Perang pada 1991 membuktikan hal itu. Hingga sekarang kekuatan serdadu dan persenjataan yang digelar mengepung Irak sudah luar biasa besar. Presiden Bush cuma tinggal menunggu izin Kongres untuk mulai menggempur. Petuah Bush kepada serdadu-serdadu yang siap siaga di Timur Tengah lewat pidato kenegaraannya seolah-olah menjadi isyarat terakhir sebelum gempuran dimulai. Hal itu kembali harus diterima sebagai peringatan bahwa dunia bakal dihadapkan kepada keadaan makin sulit. Lebih-lebih bagi kita di Indonesia, yang dalam kemelut Irak pada posisi dilematis. |