
| Jumat, 31 Januari 2003 | Surat Pembaca |
Jasmerah
Maraknya aksi-aksi demo menentang kebijakan pemerintah menjadi berita hangat. Ibarat ulah balita yang selalu mengundang kegelian nampaknya demokratisasi sedang berada pada tingkatan mencari bentuk. Karena baru saja diterapkan oleh bangsa yang lama dibungkam, akhirnya menampakkan fenomena kentalnya warna euforia perjalanan proses menuju demokrasi yang sesungguhnya. Yang memprihatinkan sindrom tersebut tidak hanya menjangkiti kaum grassroot yang tingkat pemahaman tentang demokrasi belum matang, tetapi juga masuk ke wilayah elite bahkan sampai ke tingkat akademisi. Kalau kita simak, nampak jelas aksi-aksi tersebut sudah tidak murni lagi, penuh muatan politis. Bagaimana pun kebijakan pengurangan subsidi sebenarnya amanat di mana DPR ikut memutuskan dan selanjutnya dilaksanakan pemerintah. Jadi mengundang tanda tanya besar kalau aksi-aksi protes hanya ditujukan kepada pemerintah semata. Seharusnya yang dituntut kali pertama justru mereka yang berada di lembaga legislatif. Tentunya bila mengacu mekanisme yang benar serta tidak meninggalkan obyektivitas dan proporsionalitas. Lucunya sebagian dari anggota Dewan justru terlibat dan memprovokasi lewat statemen yang kontroversial. Mereka berkesan apologis, tujuannya membuat polemik untuk mengangkat popularitasnya sehingga marketable untuk dipajang pada etalase politik pemilu 2004. Maka ada benarnya bila Dewan dianggap tak konsisten, arogan bahkan kekanak-kanakan. Masyarakat yang sudah bisa berpikir dengan jernih justru melihat ini manuver untuk mengaburkan permasalahan internal Dewan. Salah satu yang mencoreng citra institusi Dewan adalah dipimpin ketua berstatus terpidana. Tentu merupakan sebuah pemandangan tidak sedap, aneh dan kemungkinan satu-satunya di jagad ini. Rakyat segera menanyakan mengapa anggota DPR diam, bahkan berkesan melupakan. Maka jangan salahkan bila terdengar isu buruk, bahwa hiruk pikuk ruang publik yang dipadati aksi protes ini terindikasi hanya kolaborasi manuver yang penuh muatan kepentingan baik politisi, pengusaha, obligor nakal dan sisa-sisa Orba yang ingin lolos dari jerat hukum. Untuk itu kepada semua elemen yang saat ini getol bak pahlawannya rakyat, terlebih adik-adik mahasiswa, perlu instrospeksi dengan menengok kembali ke belakang. Jasmerah, jangan lupa akan perjalanan sejarah bangsa ini. Bagaimana pun semua ini sebetulnya warisan pemerintahan rezim lama. Yang lebih ironis dan mungkin lepas dari ingatan kalian, aktornya masih bercokol bahkan sekarang beratribut keheroikan dan berada satu barisan dengan Anda, berusaha keras dengan segala cara mengaburkan dosa-dosa politiknya. Catat dan camkan baik-baik. Mereka yang ber-KKN-ria di era Orba juga bekas demonstrans menggunakan atribut baju kebesaran keheroikan, nampak sangat idealis seolah berkepihakan kepada rakyat seperti Anda saat ini. Tetapi jangan terkejut kalau rakyat juga muak serta meragukan skenario atraksi akrobatiknya. Karena akhirnya mereka tetap rakyat yang sebatas sebagai kedok dan ditinggalkan setelah sandiwara usai. Siapa pun orangnya termasuk pengamat yang selalu bersuara lantang, sok pinter serta sok hero akan mengalami kesulitan yang sama di dalam membenahi persoalan ini, karena warisan utang sudah sedemikian hebatnya. Sebenranya ada dua variabel untuk menangani permasalahan tersebut. Pertama bangsa ini harus berani menerapkan pola hidup sederhana. Kedua konsisten di dalam persoalan yang menyangkut bidang hukum. Terutama untuk semua insan hukum, di pundakmu letak tanggung jawab penegakan hukum yang penyelesaiannya mengutamakan kejujuran serta keadilan. The Hok Hiong
***
Tanggapan tentang "Pindah Sekolah"
Surat Pembaca, 18 Januari 2003 memuat tulisan Sdr Luluk di Jl Agus Salim, Batu, Malang berjudul "Pindah Sekolah." Intinya mempertanyakan putrinya Stephanie Claudia Yolanda (O'o) bisa diterima di TK Kanisius Tlogosari Kulon, sementara pihak orang tua tidak merasa memindahkan ke sekolah kami. Juga disampaikan agar sekolah kami bila menerima murid dari tempat lain agar disertai surat pindah. Kami jelaskan bulan Oktober keluarga Aldy menitipkan anak tersebut ke TK kami. Ketika anak tersebut didaftarkan memang belum disertai surat pindah sekolah. Tetapi pihak Aldy menyatakan akan segera melengkapi. Dengan pertimbangan kemanusiaan dan melihat pentingnya pendidikan bagi anak kami menerimanya, dengan janji agar surat-surat untuk keperluan administratif segera dipenuhi. Tetapi sebelum surat-surat itu dipenuhi, ternyata anak yang bersangkutan sudah ditarik kembali, dan kini tidak lagi bersekolah di tempat lain. Anak tersebut hanya sekitar satu bulan mengikuti pelajaran di sekolah kami. Bukannya sekolah kami menerima siswa pindah tanpa surat-surat, tetapi pihak yang mendaftarkan anak tersebut berjanji akan melengkapi. Yang lebih utama, kami ingin membantu anak tersebut untuk bisa mendapatkan pendidikan. RB Subagijo Sigit A Md
***
Jawaban PDAM
Memperhatikan berita di harian Suara Merdeka edisi Senin tanggal 30 Desember 2002 halaman VI tentang Terhibur Komisi C soal air PDAM, Kami ucapkan terima kasih. Tanggal 30 Desember kami telah mendatangi rumah saudari namun penghuninya ke Bali. Setelah dilakukan pengecekan ternyata pada skep valve mengalami kerusakan dan telah kami perbaiki 3 Januari 2003, hasilnya mulai 5 Januari 2003 air sudah mengalir normal. Direktur Umum ***
Awas Pembekalan Perilaku Syirik
Siapa yang tak senang terhadap sinetron Mak Lampir, Angling Darma, Karmapala dan lainnya yang menggiring akidah sebagian orang Islam untuk lepas atau sengaja dilepaskan. Sayang hanya karena mencari status, uang dan ketenaran sebagian pemeran sinetron yang mayoritas beragama Islam melakukan dialog/memerankan tokoh yang menyebabkan syirkul lisan atau syirik lisan dan juga syirkulamal. Syirik misalnya menyembah Grendaseba. Kami tidak mempermasalahkan alur ceritanya tapi mbok yao mendidik masyarakat dengan peran yang lebih bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Pesatnya perkembangan media TV, komunikasi memang tidak mungkin bisa dibendung dan memang eranya demikian. Tapi mari kita yang masih memiliki sisa keimanan pertahankan agar tidak terpolusi dengan hal-hal yang menghilangkan aqidah kita. Zaman sudah edan, koruptor dilindungi, narkoba merajalela dan togel sudah tidak tabu lagi, orang hamil di luar pernikahan dianggap wajar. Selingkuh dibudayakan dan yang lebih celaka lagi fatwa ulama tidak dihiraukan. Ulama dianggap penghalang karena barangkali sebagian ulama kita masih memikirkan perutnya. Semoga ulama kita tidak membiasakan selingkuh sebagai perbuatan sunah sebab kalau sudah demikian maka namanya ulama syu'atau yang tidak perlu lagi diikuti ajarannya. Mari turuti kata hati kita yang paling dalam, berbuatlah wajar sesuai ketentuan, perbanyak istighfar karena semua kesesatan sedang berjalan. Fajar |