logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 31 Januari 2003 Sala  
Line

SERAMBI

Penumpang Bisa Tuntut bila Keberatan Tarif

MESKIPUN harga BBM sudah diturunkan, tidak diikuti penurunan tarif bus kelas ekonomi. Banyak keluhan dilontarkan para penumpang yang secara rutin memanfaatkan angkutan itu seperti karyawan swasta dan pemerintah.

Masyarakat berharap, penurunan harga BBM juga akan diikuti dengan penurunan tarif bus. Namun kenyataannya, tarifnya sama dengan saat harga BBM naik.

Berikut bincang-bincang dengan Kepala Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) Terminal Bus Induk Tirtonadi Solo Bambang Tukowibowo ST.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap keluhan tarif itu?

Sebenarnya, bila masyarakat pengguna jasa angkutan umum keberatan dengan tarif, bisa mengajukan tuntutan ke para pengusaha bus.

Dengan keberatan itu, semestinya para pengusaha mau memikirkan bagaimana agar kendaraannya tetap menjadi pilihan penumpang.

Mengapa demikian?

Dahulu yang menentukan besaran tarif adalah pemerintah. Namun keputusan seperti itu agaknya dianggap hanya menguntungkan pengusaha bus dan memberatkan penumpang terutama pada masa hari raya.

Sebab, pada masa-masa itu diberlakukan tarif tuslah. Namun sekarang yang menentukan tarif para pengusaha, dengan ketentuan tarif atas teratas 20% dan terbawah 5%.

Penentuan tarif itu kemudian ditetapkan pemerintah. Bila ada yang melanggar dengan menaikkan di atas 20%, baru dianggap melanggar.

Apakah tarif itu berlangsung seterusnya?

Tidak. Sebab, setiap enam bulan sekali akan dievaluasi. Bila tarif yang sudah berlaku sudah bisa diterima masyarakat, mungkin akan berlangsung enam bulan berikutnya. Namun jika dirasa memberatkan, akan ada perubahan pada evaluasi enam bulan berikutnya.

Dengan penetapan tarif demikian, apakah menguntungkan pengusaha dan masyarakat?

Sebenarnya akan terjadi persaingan antarpengusaha bus. Bisa saja mereka memasang tarif atas hingga 20% dengan memberikan pelayanan yang baik. Namun juga bisa dianggap merugikan pengusaha bus yang tidak siap memberikan pelayanan memuaskan baik fasilitas kendaraan maupun awak angkutan.

Bila kendaraan jelek tetap memasang tarif atas, harus bersaing dengan yang menggunakan bus baik, jelas tidak akan menguntungkan.

Saya kira faktor penentunya adalah penumpang. Mereka bisa memilih kendaraan yang mampu memberikan pelayanan terbaik.

Masalahnya sekarang, manajemen di sektor transportasi bergeser. Yang berkuasa bukan lagi pengusaha melainkan awak angkutan yang menjalankan kendaraan. Itu terjadi lantaran berlaku sistem setoran yang diterapkan para pengusaha ke para awak angkutan.(Sri Wahjoedi-51j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA