
| Jumat, 31 Januari 2003 | Sala |
PKL Slamet Riyadi Tolak Direlokasi
KLECO- Sekitar 150 pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang tergabung dalam paguyuban PKL Rukun Abdi Santosa (RAS), menolak untuk pindah dari tempat mereka sekarang. Penolakan itu mereka sampaikan dalam forum pertemuan di salah kios milik pedagang di Kleco yang dihadiri oleh Kepala Kantor Pengelolaan PKL Bambang Santosa W SH MM, kemarin. Reaksi itu muncul setelah mereka menerima surat edaran dari Kantor Pengelolaan PKL yang melarang mereka berjualan di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Slamet Riyadi. Edaran itu juga mengimbau agar para pedagang memindahkan dasaran atau tempat usahanya dari ruas jalan tersebut. Dalam edaran tersebut juga diperingatkan, jika sampai 10 hari sejak edaran diterbitkan tidak dipindahkan, akan ada penataan dan pembinaan dari Kantor Pengelolan PKL. ''Kami buat forum ini untuk menyampaikan aspirasi secara damai. Karena ketika menerima surat itu, anggota kami banyak yang bereaksi keras,''ujar Ketua Paguyuban RAS, Wied Sukamto. Penolakan tersebut, kata Wied, disebabkan sekitar 80% pedagang di lokasi itu adalah warga sekitarnya. Ketika harus berpindah lokasi, mereka mengaku kesulitan. Tidak Digusur Mereka juga menyoroti ketidakadilan Pemkot dalam menindak pedagang. Dicontohkan, banyak pengusaha makanan banting setir ke PKL untuk menghindari pajak.
Selain itu, dengan menjadi PKL, tidak pernah digusur. Jika harus pindah lokasi, omset penjualan dikhawatirkan menurun. Menanggapi penolakan itu, Kepala Kantor Pengelolaan PKL Bambang W SH MH mengatakan, tidak akan menggusur mereka yang berjualan di lokasi tersebut. ''Nanti akan ada usaha relokasi PKL ke Pasar Semanggi, yang bisa menampung 1.100 PKL. Tujuannya, agar semua dapat tempat dan tidak diancam penggusuran.'' Menurut dia, pasar PKL Semanggi memang diprioritaskan untuk pedagang klithikan Banjarsasri, yang telah diketahui jumlahnya kurang lebih 600 orang. Sementara sisanya, akan diperuntukkan pedagang dari wilayah lain. ''Tapi kalau kami dipindah ke sana, kami pikir-pikir. Karena lokasinya sepi dan belum tentu bisa laku seperti di tempat awal. Masak, hanya demi ketertiban kota, rakyatnya harus tidak makan, karena dilarang jualan,'' imbuh Wied. Meski ada pernyataan tak akan digusur dari Kantor Pengelolaan PKL, para pedagang di sepanjang Jalan Slamet Riyadi tetap waswas. ''Kantor PKL memang tidak akan menggusur dan menertibkan, wong yang bertugas menertibkan itu lembaga lain,'' papar Wied. Mengenai kelanjutan dari penolakannya, Wied mengatakan mereka tetap akan berjualan sambil menunggu janji Pemkot apakah akan menggusur atau tidak. (ev-51) |