logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 27 Januari 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Tulang Belakang Bengkok Bisa Diluruskan

PENYANDANG kelainan bawaan berupa tulang bengkok (scoliosis), kini tak perlu jauh-jauh untuk berobat ke luar negeri. Kelainan tersebut kini dapat diobati di Semarang.

Seperti yang dilaksanakan pada Minggu (26/1) di RS Telogorejo, tim dokter berhasil melakukan pelurusan tulang belakang yang bengkok ke samping terhadap pasien wanita berusia 13 tahun, warga Banyumanik.

Anggota tim operasi dr Suhardiyono SpBO mengakui, dunia kedokteran belum mengetahui secara pasti penyebab utama pembengkokan tulang tersebut. Namun berdasarkan penelitian, biasanya hal itu merupakan cacat bawaan.

Penyangdang scoliosis mudah dilihat dengan bentuk tubuh yang selalu miring ke kanan atau ke kiri. Karena biasanya penyandangnya adalah perempuan, maka hal itu dapat mempengaruhi bentuk payudara, yaitu besar sebelah. Selain itu, tulang belikat korban juga tidak simetris atau besar sebelah.

Bagi penyandang cacat tulang belang bengkok, masih harus menyangga beban psikologis. Belum lagi keluhan klinis, berupa rasa nyeri punggung yang terus menerus.

Menurut dia, fisioterapi tidak memungkinkan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Karena itu, tindakan satu-satunya adalah dengan melakukan bedah ortopedi.

''Pada kasus biasa, operasi dilakukan setelah penderita mencapai usia dimana masa pertumbuhannya berhenti, yaitu sekitar 13 tahun,'' kata dia.

Rumit

Dia mengakui, operasi pelurusan tulang bengkok memiliki tingkat kerumitan yang sangat tinggi. Tulang belakang selain berfungsi untuk menegakkan tubuh, juga merupakan jalur utama syaraf manusia. Maka dalam operasi semacam itu, pasien juga menghadapi resiko komplikasi, termasuk kelumpuhan.

Demi mendapatkan hasil memuaskan dari tindakan medis tersebut, operasi harus ditangani oleh tim yang beranggotakan beberapa dokter spesialis bedah ortopedi. Pada operasi hari Sabtu dan Minggu, tim beranggotakan dr Suhardiyono dari RS Telogorejo, dr Tedjo dari UGM dan dr Ivone dari UI.

Sebelum operasi dilakukan, tim dokter mengkaji kondisi pasien berdasarkan pemeriksaan, termasuk hasil foto foto X-ray. Dalam foto tersebut terlihat, tulang belakang pasien memang sangat bengkok.

Setelah pasien dibedah, dokter memasang besi penyangga pada tulang itu. Besi penyangga itu kemudian dipanjangkan perlahan-lahan, sehingga membuat tulang bengkok tersebut akan tertarik dan menjadi relatif lurus.

Setelah diperkirakan cukup, tim melakukan wake up test, untuk mengetahui apakah syaraf pasien terganggu atau tidak. Test itu dilakukan dengan cara mengurangi dosis obat bius, sehingga pasien agak sadar.

Setelah itu dokter mencubit kaki pasien. Jika pada saat itu kaki pasien bergerak, berarti tidak terjadi syaraf masih dalam keadaan aman. Sebaliknya jika pasien tidak memberikan respon, bisa diduga bahwa terjadi gangguan dan akan diperbaiki pada saat itu juga.

Tindakan perbaikan tulang belakang itu tidak berhenti setelah operasi dilakukan. Setelah operasi, selama tiga bulan pasien harus memakai penyangga tubuh.

Keberhasilan operasi ini, menurutnya, juga tergantung dari berbagai faktor. Antara lain tipe kelenturan sendi tulang itu sendiri. Pada orang yang memiliki tipe placid atau fleksibel, koreksi bisa dilakukan hampir 90%. Namun pada yang kaku atau rigid, biasanya koreksi kurang dari 50%. Artinya, tulang belakang tidak bisa benar-benar lurus.

''Bagi yang bertipe rigid, tidak bisa dipaksakan agar koreksi kebengkokan lebih dari 50 persen,'' kata dia.

Selanjutnya, dalam kehidupan sehari-hari pasien juga harus benar-benar menjaga cara hidupnya. Antara lain tidak boleh terlalu sering membungkuk, melakukan olah raga berat misalnya sit up dan push up. Selain itu, pasien perlu menjaga diri agar tidak mengangkat barang yang berat.

Namun demikian, bukan berarti pasien sama sekali tidak boleh berolah raga. Sebaliknya olah raga tertentu seperti renang justru sangat dianjurkan.

Kelainan pada tulang belakang sebenarnya bisa bermacam-macam. Selain tulang bengkok ke samping scoliosis, ada pula tulang yang bengkok ke depan (kyphosis) dan kebelakang (lordosis).

Kelainan lain tulang belakang adalah spondililolethesis atau pergesaran tulang belakang. Dari luar, penyandang kelainan ini kadang bisa dilihat dari pantat yang ''njenthit'' ke belakang. Namun, orang yang tampak seperti itu, belum tentu mengalami spondililolethesis.

Sama seperti pembengkokan tulang belakang, pada kasus ini belum diketahui penyebabnya secara pasti. Namun biasanya, spondililolethesis terjadi karena trauma atau kegemukan.

Meski bentuk tubuh penyandangnya tidak selalu terlihat aneh, namun orang itu biasanya mengalami nyeri yang luar biasa. Keluhan itulah yang biasanya dilontarkan pada dokter pada pemeriksaan awal.

Dokter akan memastikan diagnosis pasien mengalami spondililolethesis, setelah dilakukan pemeriksaan, termasuk foto X-ray. Berdasarkan hasil pemeriksaan itu pula, kemudian dokter merekomendasikan dilakukan operasi.

Operasi untuk memperbaiki kelainan ini juga cukup beresiko. Komplikasi yang mungkin terjadi, pasien bisa mengalami kesulitan untuk buang air besar maupun kecil.

Mahal

Sayang, untuk melakukan perbaikan kelainan tulang diperlukan biaya cukup mahal. Untuk meluruskan tulang belakang yang bengkok, dan memasang besi penyangga, diperlukan biaya sekitar Rp 50 juta.

Mahalnya biasa operasi tersebut, menurut Suhardiyono, karena harga peralatan, termasuk besi penyangga yang cukup mahal. Dia mengakui, besi itu bentuknya sederhana. Namun demikian, Indonesia belum bisa membuat karena susunan metal besi itu memang rumit. ''Kadang pasien mengurungkan niatnya untuk dioperasi lantaran tidak mampu menanggung biayanya,'' kata dia. (Purwoko Adi S-73)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA