logo SUARA MERDEKA
Line
 Olahraga Minggu, 19 Januari 2003  
Line

Daniel Roekito

Kebagian Tim Sederhana

PADA kompetisi Liga Indonesia I, namanya pernah meroket. Dia berhasil membawa Barito Putra, tim yang baru berdiri, merangsek ke Senayan, bahkan menembus babak semifinal. Itu jelas bukan prestasi kecil. Soalnya, Daniel Roekito mesti meramu tim yang tanpa pemain bintang. Sayang, setelah itu namanya tenggelam. Prestasi timnya merosot. Dia juga beberapa pekan terserang penyakit.

Lepas dari sakit, mantan pemain PSIR Rembang, BPD Jateng dan Gajah Mungkur Muriatama ini kembali turun gelanggang. Dia dipercaya manajemen PT Pupuk Kaltim mengarsiteki tim PKT Bontang pada musim 1997/1998. Hanya setahun di klub tersebut Roekito tak betah. Pada musim berikutnya, dia kembali ke tim yang pernah diangkatnya, Barito Putra. Namun, seperti ketika di Bontang, di Banjarmasin kali ini ternyata dia cuma betah semusim.

Pada gelaran kompetisi 2000/2001 dia dipinang Arema Malang yang ketika itu merupakan salah satu klub kaya dan terkemuka di Indonesia. Di klub tersebut dia berhasil, sehingga kembali dipercaya mengasuh Charis Yulianto dkk pada musim berikutnya.

Namun, Roekito adalah petualang. Dia tipe orang yang tak mudah puas hanya dengan satu-dua prestasi dan pengalaman. Karena itu, pada musim ini, meskipun Arema masih membuka pintu lebar-lebar baginya, dia memilih hengkang. Semarang menjadi pelabuhan berikutnya.

"Saya tidak asing lagi dengan PSIS," kata pelatih kelahiran Rembang, 19 Mei 1952 tersebut.

Tentu saja. Sebagai anak Rembang--kota kabupaten yang hanya sekitar 120 km dari Semarang--Roekito cukup akrab dengan klub yang dia tangani kini. Apalagi rumahnya juga di Semarang. Dia pun pernah melatih tim PON Jateng yang home base-nya di Stadion Citarum, pernah bermain di klub BPD Jateng yang juga ber-home base di stadion sama.

Namun, dari tim-tim yang pernah dia pegang itu, semua nyaris serupa: tanpa pemain bintang. Paling tidak, materi awal tim-tim tersebut biasa-biasa saja, termasuk PSIS.

"Bahkan, tim ini (PSIS-Red) merupakan salah satu tim di Liga Indonesia IX yang pada musim ini melakukan belanja pemain paling murah," ujar dia.

Angka pembelian pemain, kata Roekito, tak sampai dengan Rp 1 miliar. "Nilai kontrak pemain kita kalau dijumlah nggak sampai Rp 1 miliar. Jumlah itu yang terkecil di LI IX."

Ini tentu sangat berbeda bila dibandingkan dengan PSPS Pekanbaru, Persija Jakarta, Gelora Putra Delta, atau bahkan Persik Kediri dan Perseden Denpasar yang baru promosi. Tim-tim itu rata-rata mengeluarkan lebih dari Rp 2 miliar untuk belanja pemain.

"Namun, saya siap. Membangun tim bintang tidak harus dengan pemain bintang. Kepercayaan, kebebasan, dan komunikasi yang saling terbuka dengan para pemain, jauh lebih penting sebagai modal untuk membangun tim kuat," ujarnya.

Dan, dia kini telah berada di rel yang benar. Kepercayaan manajemen telah diraihnya. Kebebasan berimprovisasi diberikan pula kepada dirinya. Komunikasi dengan para pemain juga telah terjalin erat.

Dia tinggal menjaga konsistensi dan kreativitas dalam memoles strategi tim. Karya tangan dinginnya ditunggu ribuan fans PSIS. Buktikan, Roekito. (Gunarso-77e)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA