logo SUARA MERDEKA
Line
 Berita Utama Minggu, 19 Januari 2003  
Line

Nikmatnya Terbang di Angkasa

INDAH ALAM: Indahnya alam ciptaan Tuhan terlihat jelas dari ketinggian 2.500 kaki, di atas pesawat trike yang sedang digandrungi kalangan the haves. (Foto: Suara Merdeka/D11-64c)

PERNAHKAH membayangkan melihat kawah Gunung Merapi dan Merbabu dari angkasa? Pernah terbayang oleh Anda, terbang bagai burung di udara, mengarungi angkasa, sambil memandangi indahnya hamparan alam ciptaan Tuhan ini?

Tak cuma bayangan. Itulah hobi baru yang sedang melanda kalangan the haves di wilayah Solo. Mereka sedang gandrung olahraga dirgantara. Terbang sendirian dengan pesawat ringan, mengarungi angkasa luar sambil menikmati pemandangan dari udara.

Di Solo, tepatnya di Bandara Adi Sumarmo dalam tiga bulan terakhir, sering lepas landas pesawat ringan microlight jenis trike. Dibandingkan dengan pesawat Boing 747 yang membawa rombongan haji, pesawat trike ini seperti mainan anak-anak dan kelihatan sangat ringkih.

Pesawat terdiri atas batangan almunium dengan tiga roda dan mesin berkekuatan 500 cc. Sayapnya yang berbentuk segitiga dari batangan almunium dibalut terpal warna-warni yang memang khusus untuk pesawat jenis microlight.

Di Solo memang sedang diadakan kursus tidak resmi oleh Lawu Flying Club, di bawah pengawasan FASIDA Jawa Tengah. Kursus digelar untuk memenuhi keinginan mereka yang ingin menerbangkan pesawat trike ini. Saat ini ada empat orang dari Semarang yang sedang belajar, sedangkan bulan lalu tiga orang sudah dinyatakan lulus untuk terbang solo oleh Pordirga Microlight FASIDA Jawa Tengah.

Ketiga penerbang trike yang lulus dalam waktu hampir bersamaan, yakni keluarga Candra Darmawan, pengusaha sukses di Klaten yang tiga bulan terakhir menggandrungi olahraga ini. Bersama dua anaknya, Candra Budi Darmawan dan Candra Agus Budiman, mereka rela merogoh kocek ratusan juta untuk bisa terbang dengan pesawat ini.

Terbang dengan pesawat jenis trike ini, paling murah merek Airborne buatan Australia seharga Rp 160 juta. Yang mahal keluaran terbaru, bisa mencapai Rp 400 juta. Ada beberapa merek buatan pabrikan ataupun home industry, selain Airborne itu. Misalnya Cosmos (Perancis) dan satu lagi diproduksi sebuah pabrik di Inggris yang harganya ditawarkan 19.000 Euro.

''Dengan terbang sendirian, pikiran kita benar-benar bisa fresh, sekaligus meningkatkan syukur kepada Tuhan, karena ternyata ciptaan-Nya yang berwujud alam semesta ini sangatlah indah,'' kata Candra kepada Suara Merdeka.

''Kalau naik pesawat, nggak ada macetnya. Kita benar-benar melaju bebas seperti burung. Merdeka. Tak satu pun halangan yang kami temui di angkasa. Semua terpampang jelas di depan mata. Segar dan nyaman,'' katanya.

Tiga Bulan Lalu

Kesenangan Candra terhadap olahraga dirgantara ini bermula ketika dia diajak bermain ke Lido, Sukabumi. Tempat itu biasa digunakan untuk berkumpul dan terbang kalangan pencinta olahraga angkasa ini. Di situ biasa berkumpul pencinta gantolle, paralayang, dan terbang layang.

''Mula-mula saya hanya mbonceng (terbang tandem-Red) di belakang mereka yang sudah mahir mengemudikan pesawat ini. Tentu perasaan ngeri muncul. Bagaimana mungkin pesawat sekecil ini bisa terbang dengan aman.''

Hanya, ketika pesawat kecil itu berhasil take-off dengan mulus, terbang ke angkasa sampai ketinggian 2.500-3.000 kaki, perasaan takut itu sirna, berganti ketakjuban melihat pemandangan indah dari angkasa raya.

Sejak saat itu Candra pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia memutuskan belajar mengemudikan sendiri pesawat kecil itu. Tak peduli usianya yang sudah 61 tahun. ''Pokoknya, saya harus bisa menerbangkan pesawat ini sendiri.''

Dia tidak mau kalah dari kedua anaknya yang juga bersama-sama belajar terbang. Memang anak-anaknya lebih cepat menyerap dan menguasai materi menerbangkan pesawat trike itu. ''Mereka (Budi dan Agus) hanya memerlukan 15 jam terbang untuk langsung mendapatkan lisensi terbang solo. Sedangkan saya hampir 30 jam, sebab saya perlu menyempurnakan kemampuan,'' kata Candra.

Kini, Candra memiliki dua pesawat trike merek Cosmos buatan Perancis seharga Rp 200 juta per unit yang sering dia gunakan bersama anak-anak dan keluarganya. Bahkan, dua cucunya yang berumur 6 dan 8 tahun, anak Budi dari hasil perkawinannya dengan atlet bulutangkis Cina, Huang Hua sudah sering diajaknya terbang bersama.

''Mereka tidak takut, malah senang. Sebab memang menyenangkan bisa melihat pemandangan bebas lepas dari angkasa. Mereka bisa melihat Waduk Cengklik, Boyolali, melihat hamparan sawah, gunung, dan pemandangan lain. Pokoknya menyenangkan sekali,'' ujar Budi yang sebelumnya mengantongi lisensi untuk menerbangkan pesawat ringan sejenis Cessna di Amerika .

Paling Aman

Bagaimana kalau mesin pesawat trike yang kecil itu tiba-tiba mati saat dalam posisi terbang di angkasa? Tidak perlu panik. Meski mesin mati, pesawat itu masih bisa dikendalikan tanpa mesin, sampai mendarat dengan mulus.

''Dari sekian jenis pesawat olahraga dirgantara, trike paling aman dibandingkan dengan ultralight ataupun pesawat swayasa. Ujian akhir untuk dinyatakan lulus terbang sendirian, salah satunya dengan mematikan mesin pada ketinggian 3.000 kaki (kurang lebih 900 meter) dan harus bisa mendarat mulus di landasan, menjadi syarat utama seseorang untuk mendapatkan lisensi terbang solo,'' ujar Rudolf Lenzun, instruktur dari Jakarta.

Saat akan menulis hobi baru pengusaha sukses Klaten itu, Suara Merdeka ditantang ikut merasakan terbang. ''Saya nggak mau ditulis kalau you tidak ikut merasakan. Percuma, Anda nggak bisa cerita bagaimana rasanya terbang mengitari kota ini,'' kata dia.

Dengan waswas, akhirnya Suara Merdeka nekat mencoba. Beruntung Candra tidak mau berisiko, sehingga memilihkan pilot terbaik, yakni instrukturnya.

Ternyata benar. Terbang dengan pesawat kecil itu sangat nyaman dan aman. Pesawat hanya bergoyang sedikit ketika akan take-off karena tiupan angin bertambah kencang. Namun begitu naik ke ketinggian sekitar 2.500 kaki, terasa benar sangat tenang dan tidak bergoyang. Bahkan pesawat terasa seperti terhenti di udara, karena hanya bisa melaju sekitar 20 kilometer per jam.

Dolf tertawa ketika Suara Merdeka bertanya, kenapa pesawat seperti terhenti. ''Itu karena kita hanya melaju lambat. Tapi coba lihat ke bawah, kita bergerak. Ini karena tiupan angin sangat kencang,'' ujar dia.

Meski hanya 20 km/jam, karena di udara, berputar mengelilingi kota Solo, Boyolali, dan beberapa kawasan sekitar Bandara Adi Sumarmo terasa cepat. Dan tidak terasa, sekitar 30 menit Suara Merdeka terbang di angkasa.

Kecepatan

Menurut Dolf, pesawat itu dinamai trike karena disangga oleh tiga roda. Itu hasil pengembangan yang dilakukan mahasiswa di Amerika ketika mereka mempelajari teori pesawat tanpa awak yang dikembangkan Francis Rogalo, ahli pesawat NASA. ''Oleh para mahasiswa itu, pesawat dikembangkan sehingga bisa digunakan untuk berolahraga angkasa. Juga dipasang mesin pendorong dan diberi roda tiga, sehingga berbentuk pesawat ringan,'' ujar dia.

Satu hal yang harus dipatuhi, ketika akan terbang, semua harus mematuhi aturan penerbangan profesional. Mulai jadwal jam terbang, kapan naik, mendarat, termasuk pengetahuan tentang angin dan kode penerbangan.

Di Indonesia, saat ini ada beberapa kelompok penggemar olahraga ini. Terbanyak di Lido, Sukabumi yang isinya pencinta dari Jakarta dan sekitarnya. Di sana ada sekitar 30 pesawat.

Selain itu di Bandung sudah ada 12 orang yang memilikinya, dan Yogyakarta 2 pesawat, Semarang 1, Solo 2, dan Klaten 3 pesawat yang dimiliki Candra sekeluarga. (Joko Dwi H, Setyo Wiyono-64c)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA