| Berita Utama | Minggu, 19 Januari 2003 |
Mahasiswa Serbu Rumah Mega
JAKARTA-Setelah istirahat beberapa hari, akhir pekan kemarin demo kembali berlanjut. Bahkan aksi menentang kenaikan BBM, TDL, dan telepon oleh mahasiswa dan masyarakat itu sudah mengarah ke Jalan Teuku Umar Jakarta, kediaman Presiden Megawati Soekarnoputri. Para mahasiswa menyiapkan sejumlah tulisan yang menyatakan mereka menyegel kediaman Megawati, namun polisi menggagalkan aksi itu. Dalam aksi yang dijaga puluhan polisi yang membentuk barikade itu, para demonstran berusaha menarik perhatian khalayak dengan membunyikan klakson sepeda motor dan melantunkan lagu-lagu perjuangan. Di depan rumah dinas Presiden, para mahasiswa meminta polisi mengizinkan masuk untuk bisa menyampaikan aspirasi. Namun polisi memblokkir mereka dengan pagar betis. Aksi mahasiswa yang diikuti badan eksekutif mahasiswa se-Jabotabek dan beberapa elemen masyarakat itu tiba di Jalan Teuku Umar Menteng Jakarta Pusat pukul 15.25 WIB. Sebelumnya aksi itu dilakukan di Bundaran HI. Selain ada yang berjalan kaki, ratusan mahasiswa berkonvoi kendaraan bermotor. Sesampai di Taman Suropati, mereka diadang polisi yang memblokir jalan menuju ke kediaman Megawati Jl Teuku Umar 27. Mereka berhadap-hadapan dengan polisi dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan sambil berlompat-lompat. Beberapa di antaranya membagikan selebaran pernyataan sikap kepada para pengguna jalan. Rencananya mereka akan memasang plang yang bertuliskan ''rumah ini akan disegel'' di depan rumah Megawati itu. Namun upaya itu tidak berhasil karena mereka diadang barikade polisi dan terjadi aksi saling mendorong. Aksi mahasiswa yang tergabung dalam BEM se-Jabotabek itu merupakan peringatan ke semua pihak bahwa pemerintahan Megawati-Hamzah Haz tidak berpihak kepada rakyat kecil. Mengenai tudingan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono bahwa aksi mereka ditunggangi kelompok politik tertentu, Rico mengatakan, mereka beraksi atas dasar nurani. ''Eksistensi tuntutan ini timbul dan lahir dari ketidakpuasan atas kebijakan pemerintah. Aksi ini ditunggangi hati nurani, bukan oleh siapa-siapa.'' Ditegaskan, dana yang dipergunakan untuk melakukan aksi itu diambil dari pundi-pundi mahasiswa, dana gabungan dari BEM se-Jabotabek, bahkan dari rektor masing-masing. Batalkan Kunjungan Sementara itu, entah karena demo itu atau sebab lain, Megawati kemarin membatalkan kunjungannya ke kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Rencananya Presiden akan menghadiri pengukuhan Menneg Kelautan Dr Rokhmin Dahuri sebagai guru besar di perguruan tinggi tersebut. Di Bogor, sejumlah mahasiswa yang demo di Institut Pertanian Bogor (IPB) Sabtu, meluapkan kekesalan dengan melempar mobil pejabat dengan kotoran sapi. Para mahasiswa dari Keluarga Mahasiswa (KM) IPM, HMI-MPO, KAMMI, GMNI, dan elemen lain semula akan demo di hadapan Presiden Megawati. Namun Presiden urung hadir, sehingga demonstrasi mahasiswa ditujukan kepada para pejabat tinggi negara dan anggota DPR yang hadir. Di tiga titik pintu utama masuk ke kampus, mahasiswa melakukan sweeping mobil-mobil pejabat tinggi dan anggota Dewan dan mencegat agar tidak bisa masuk ke kampus. Malahan mereka melempari mobil yang ditumpangi dengan kotoran sapi. Sementara itu, aksi massa itu diakui Djuanda, salah seorang pengamat intelijen, telah mencapai hasil minimal dalam melakukan ''pembusukan'' terhadap pemerintah. ''Target minimal sudah tercapai, yaitu pembusukan terhadap pemerintah,'' ujar Djuanda di sela-sela diskusi di Jakarta, kemarin. Masalah pendomplengan terhadap gerakan mahasiswa, dinilai Djuanda sebagai hal yang wajar dalam dunia politik. Pelakunya bisa dari kalangan sipil atau militer, dalam atau luar negeri. Dia mengatakan, pendompleng bisa saja datang dari dalam militer, karena ada faksi yang merasa dirinya sebagai satriya piningit. Selian itu, ada faksi patriotik. Faksi terakhir ini adalah kelompok oportunis yang sengaja mengganjal kepentingan politik pihak tertentu. Dirinya juga menangkap usaha menciptakan martir dari kalangan mahasiswa. Tujuannya, memanipulasi kekecewaan dan kemarahan menjadi makin hebat. Martirisasi seperti itu merupakan skenario yang dipersiapkan. Saat ini ada skenario yang mengarah ke martirisasi mahasiswa. Hal itu untuk memanipulasi kekecewaan dan kemarahan menjadi makin besar. Kaligawe Macet Sementara itu akibat aksi demonstrasi di depan Kampus Unissula Jl Kaligawe Km 4 Semarang, kemarin, arus lalu lintas di jalur padat itu macet. Aksi itu diwarnai pembakaran tiga ban bekas di tengah jalan. Ular-ularan kendaraan dari barat dan timur kampus sepanjang 2 km berlangsung 45 menit. Aksi bersama itu, antara lain dilakukan Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Jateng, Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) Unissula, dan Komunitas Pengamen Bulu (KPB). Aksi yang diikuti sekitar 40 orang itu digelar sekitar pukul 10.30. Pengunjuk rasa melakukan orasi, meneriakkan yel-yel dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Semula mereka menggelar aksi di halaman kampus. Tidak lama kemudian, mereka bergerak ke tengah jalan sambil mengibarkan bendera dan panji-panji. Arus kendaraan tersendat ketika pendemo nekat memblokade jalan. Keadaan tersebut berlangsung hampir satu jam. Kemacetan kian menjadi ketika mahasiswa mengusung tiga ban bekas ke tengah jalan dan langsung membakarnya. Asap hitam pekat membubung. Aksi pendemo kian leluasa, karena hanya ada empat polisi berpakaian preman yang mengawasi demo. Aparat Polsek Genuk kemudian mengontak Poltabes yang segera menerjunkan dua peleton Pasukan Dalmas. Pembakaran ban membuat polisi bereaksi. Ketika itu arus kendaraan macet total. Polisi berusaha memadamkan api dan menghalau pengunjuk rasa. Sejumlah mahasiswa memprotes polisi hingga nyaris terjadi bentrokan. Puluhan polisi terus mendorong mahasiswa. Sikap tegas polisi terus dilakukan hingga mahasiswa kocar-kacir berlarian ke dalam wilayah otonomi kampus. Kemacetan di Jalan Kaligawe membuat pemakai jalan telantar. Puluhan penumpang bus dari barat yang hendak meneruskan perjalanan ke timur (Demak, Kudus, Surabaya) terpaksa turun sebelum pintu tol Kaligawe, lalu berjalan kaki ke Terminal Terboyo. Polisi tampak mengatur kendaraan satu per satu. Setelah aksi itu seluruh pengunjuk rasa masuk ke kampus. Setelah demo, seorang koordinator menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jalan. ''Kami mohon maaf kepada pengguna jalan. Aksi ini untuk membela rakyat yang ditindas pemerintah,'' kata koordinator aksi S Purnomo. (di,ant,G1,G3-64ce) |