| Bincang Bincang | Minggu, 19 Januari 2003 |
Perhitungan yang Memet Itu...
MENJALANI kesibukan sehari-hari seorang diri tidak membuat pribadi ini gelagapan. Dia terkesan enjoy menikmati "kesepian". Mengambil hikmah dari pelajaran berharga dari lakon yang telah dijalani. Meskipun rekan-rekan maupun seniornya mencoba meledeknya untuk menikah, Wali Kota H Sukawi Sutarip SH justru tersenyum. "Berat memang. Tapi saya justru bisa menghadiri pertemuan-pertemuan di tingkat RT hingga tengah malam," ujar ayah dari tiga anak-satu putri dan dua putra-ini enteng. Pria kelahiran 27 Januari 1951 ini lalu bertutur seringnya berkunjung ke masyarakat, hingga tingkat RT membahas persoalan pelik di masyarakat sampai larut malam. Karena memerlukan aspirasi langsung dari masyarakat, praktis persoalan itu baru selesai hingga larut. "Tidak ada yang mengomeli saya karena pulang malam. Saya mengatur waktu sendiri," tuturnya dalam perbincangan di rumah dinas Wali Kota di kawasan Manyaran. Sejak duduk sebagai orang nomor satu di jajaran Pemerintah Kota Semarang ini, dia dikenal rajin turun ke bawah. Bahkan beberapa tokoh masyarakat menyebutnya sebagai pimpinan yang membumi, meski masih banyak PR yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, kendala kesendirian baru muncul ketika terjadi miskomunikasi dengan bawahannya. Misalnya dalam sebuah perjamuan, dia merasa kaku. Sebuah isyarat yang kerap muncul kurang bisa diterjemahkan oleh orang-orang di sekelilingnya. "Yang demikian itu, kalau ada istri barangkali bisa menjelaskan. Maksudnya bapak itu seperti ini lho. Kalau sekarang memang agak kaku dan memilih diam saja," kata pria asal Pati ini dengan mimik agak serius. Istri pada masa sekarang memang tidak hanya sekadar sebagai kanca wingking. Tapi peran perempuan sangat diperlukan untuk mendukung kesuksesan seseorang. Terlebih terhadap saran, masukan, dan pendapatnya sebagai istri, sahabat, relasi, maupun rival. Artis Kesengsem Alumnus Fakultas Hukum Undip ini bukannya tak berkeinginan untuk memulai "hidup baru". Banyak perempuan yang mencoba dekat dengan pria yang pernah menjadi pengawas BRI Cabang Demak ini. Tidak tanggung-tanggung, seorang artis pun pernah kesengsem. Usianya sekitar 38 tahun. Dia mengakui pernah dibuat kelimpungan dengan kehadiran artis itu. Tapi, rupanya masih perlu berpikir lebih jauh untuk buru-buru menggaetnya. "Yang namanya artis ya begitu. Suatu ketika saya tahu rambutnya disemir warna-warni. Waduh, gimana ya, masa istri wali kota seperti itu" katanya sambil tersenyum tak melanjutkan kalimatnya. Kendati usianya telah berkepala lima, bukan hanya artis yang coba-coba mendekat dan didekatinya. Beberapa perempuan yang masih berusia di bawah 25 tahun juga pernah meliriknya. Dia hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum saat menceritakan perempuan itu. Sosok pejabat teras yang satu ini memang memiliki kriteria khusus terhadap perempuan spesialnya. Dia menyebutkan bahwa perempuan itu jangan kemaki dan konsumeris, selain harus cantik, tentunya. Perempuan itu juga harus bisa menghormati orang lain. Jangan meremehkan orang lain yang menjadi bawahannya, dan tidak sok kuasa. "Perhitungan saya soal yang satu ini memang memet. Sekarang (menjadi wali kota) tidak bisa, beristri kemudian cepat berpisah. Lain halnya kalau (orang) swasta," katanya. Tentang hidup yang tidak boros tampaknya menjadi prinsip pejabat yang patut diteladani. Prinsip itu untuk lebih mendekatkan diri terhadap masyarakat. Karena itu, sebuah kado berupa barang sepatu dan jam tangan impor tak pernah dikenakan. Sepatunya pun produksi dari sebuah industri rumahan di Kabupaten Tegal. Sikap hidup hemat itu juga diberlakukan terhadap proyek atau fasilitas untuk bawahannya. Kecuali terhadap kegiatan yang berorientasi langsung terhadap kinerja. "Rekan-rekan saya menyebut saya itu medit (pelit), pantas saja sugih (kaya). Maksud saya bukan begitu, kalau yang dipakai uang pribadi akan saya beri. Tapi kalau menyangkut uang negara, no way!" tandasnya. Toh, dia sangat bersyukur diberi rahmat dan kesempatan untuk memimpin Kota Semarang. Dengan segala tanggung jawab yang harus dipikul maupun fasilitas sebagai Wali Kota. Prestis, jabatan, kehormatan, hingga sanjungan tidak lantas membuatnya tinggi hati. Kini, dia hanya berpikir bagaimana cara mengangkat kehidupan rakyat agar kesejahteraannya lebih meningkat. "Tidak usah berpikir yang neko-neko." Bagaimana kalau artis sinetron tadi yang neko-neko?(Agus Toto W, Setiawan HK-25) | |||||