logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 18 Januari 2003 Ragam  
Line

Usir Nyamuk dengan Tomat

NYAMUK, meski kecil namun sering kali mampu membuat orang stres. Makhluk bersayap yang terdapat di seluruh dunia kecuali di Antartika ini selalu saja bisa membuat orang tidur tidak nyenyak karena suara bising dan gigitannya. Hampir tak ada orang yang bisa cuek dengan gigitan nyamuk sebab sekali gigit maka kulit akan terasa sangat gatal dan panas.

Bagi yang memiliki kulit peka rasa gatal pada kulit akan diikuti dengan bentolan merah yang setelah beberapa hari berubah menjadi bercak hitam yang tentu saja sangat mengganggu keindahan kulit. Yang lebih berbahaya, beberapa jenis nyamuk seperti nyamuk culex sp dan aedes aegypty juga berperan sebagai vektor penyakit.

Selama ini orang banyak terbantu dengan keberadaan obat nyamuk baik yang berbentuk lotion, semprot, elektrik maupun bakar untuk menghindari gigitan nyamuk. Sayangnya bila pemakaian obat nyamuk tersebut tidak benar, dapat membahayakan kesehatan, dari yang sekedar infeksi kulit, gangguan pernafasan hingga keracunan, tergantung pada jenis, jumlah, dan bahan campuran obat nyamuknya.

Bahan Aktif

Obat nyamuk biasanya terbuat dari bahan aktif yang termasuk golongan organofosfat. Bahan aktif ini adalah Dichlorovynil dimethyl phosfat (DDVP), Propoxur (Karbamat) dan Diethyltoluamide, yang merupakan jenis insektisida pembunuh serangga. Masing-masing obat nyamuk memiliki dosis yang berbeda satu sama lain.

Ditilik dari segi konsentrasi atau komposisi, bahan aktif pada obat nyamuk terdiri dari konsentrasi ringan sampai berat. Dari yang kurang toksid sampai yang lebih toksid. Kadar konsentrasi bahan aktif obat nyamuk semprot mungkin sedikit, tapi kalau disemprotkan berulang kali tentu kadarnya akan bertambah banyak. Obat nyamuk yang memiliki kadar demikian mungkin bisa mematikan nyamuk dengan cepat, tapi membahayakan kesehatan manusia.

Risiko terbesar terdapat pada obat nyamuk bakar karena secara langsung mengeluarkan asap yang dapat terhirup. Sedangkan obat nyamuk semprot berbentuk cair memiliki konsentrasi berbeda, karena cairan yang dikeluarkan ini akan diubah menjadi gas. Artinya, dosisnya lebih kecil. Sementara obat nyamuk elektrik lebih kecil lagi, karena bekerja dengan cara mengeluarkan asap tapi dengan daya elektrik.

Di Amerika Serikat obat nyamuk yang paling populer dan paling banyak digunakan adalah obat nyamuk yang terbuat dari DEET atau N,N-dienthyl-3-methylbenzamide. Lebih dari sepertiga warga Amerika Serikat menggunakannya karena DEET diyakini sebagai obat nyamuk yang paling aman. Sayangnya dalam perkembangan selanjutnya juga ditemukan DEET hanya seratus persen aman bila digunakan dengan cara yang seratus persen benar. Bila tidak, senyawa ini bisa menimbulkan efek samping yang tidak ringan seperti infeksi kulit, ruam kulit, rasa panas pada kulit, lecet, dan bahkan kulit melepuh. Itulah mengapa orang membutuhkan obat antinyamuk alternatif.

Ekstrak Tomat

Adalah Michael Roe, seorang entomologis atau ahli serangga pada North Carolina State University, yang berhasil menemukan alternatifnya, yakni berupa ekstrak tomat. Temuan ini sebenarnya didapatnya secara tidak sengaja sewaktu ia sedang membuat obat antiserangga sintesis yang kemudian ia sadari ternyata senyawanya mirip dengan senyawa yang terdapat pada ekstrak tomat.

Roe kemudian menindaklanjuti temuannya dengan mengadakan percobaan. Percobaan yang pertama dilakukan dengan cara mengambil pakaian yang bahannya terbuat dari senyawa sintesis tomat, kemudian dimasukkan kedalam sebuah kotak yang penuh dengan kecoa. Ternyata kecoa-kecoa dalam kotak berhamburan kesana-kemari menghindari pakaian tersebut. Selanjutnya ia melakukan percobaan yang sama pada nyamuk dan kutu. Ternyata hal yang sama terjadi.

Mengetahui temuan ini Alan Brant, seorang kepala pelaksana pada perusahaan Insect Biotechnology Inc. tidak mau menyia-nyiakannya. Brant yang beberapa kali telah bekerjasama dengan Roe dalam beberapa proyek segera merangkul Roe untuk bekerja sama. Mereka lalu melakukan uji coba dengan membandingkan keampuhan ekstrak tomat dan DEET. Para sukarelawan sebagian diberi larutan DEET dan sebagian diberi larutan ekstrak tomat.

Larutan tersebut mereka oleskan pada tangan mereka. Setelah dua belas jam diketahui bahwa dari seratus nyamuk yang ada, empat di antaranya masih menggigit sukarelawan yang menggunakan lotion dari senyawa DEET.

Sedangkan yang menggunakan lotion dari ekstrak tomat tidak digigit nyamuk sama sekali. Ini membuktikan bahwa ekstrak tomat lebih ampuh mengusir nyamuk dibanding DEET.(Maratun Nashihah/discovery-35)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA