
| Jumat, 17 Januari 2003 | Surat Pembaca |
Penyerahan Bintang Gerilya
Saya menulis laporan kepada Presiden 2 Agustus 2002 yang isinya mohon kebijaksanaan untuk mendapatkan kredit rumah T-36 sesuai dengan jatah pangkat Pelda serta karena saya memiliki tanda jasa Bintang Gerilya. Namun sampai sekarang belum ada jawaban. Oleh karena tanda jasa ini tidak ada harganya, kecuali bila meninggal dikubur di Makam Pahlawan Taman Bahagia. Padahal hidup saya tidak pernah mendapatkan hak-hak dalam peningkatan kesejahteraan. Maka dengan ikhlas surat tanda jasa Bintang Gerilya saya kembalikan kepada negara lewat Presiden agar tidak membebani jiwa saya. Sebagai pejuang, jiwa saya tetap bergelora untuk ikut mempertahankan berdirinya NKRI. Saya pengagum dan penerus dari bapak rakyat Ir Soekarno, Presiden RI pertama. Dan lewat kemampuan yang ada, saya mengamalkan penyembuhan alternatif tenaga prana tidak untuk bisnis/tanpa biaya. Perlu diketahui selama saya dinas di PU Adisumarmo sejak 1967-1977 belum pernah menempati rumah dinas atau menerima uang sewa rumah. Sedangkan dari teman-teman eks pasukan AU yang bergerilya di daerah Karanganyar/Sragen di bawah pimpinan Bapak Komodor Wiryadinata sebagian besar sudah transmigrasi . Soeparman ***
Ingin Rumah Aman?
Saya punya pengalaman bagus di mana tempat tinggal saya di daerah pedesaan. Saya memiliki banyak ayam kampung, tetapi banyak yang hilang dicuri orang. Hal ini karena saya tak mampu membuat pagar keliling yang luas. Suatu ketika saya diberi petunjuk famili bila rumah, pekarangan beserta lainnya ingin aman, setiap pojok halaman ditanami telur yang tentunya sudah diberi doa. Alhamdulillah doa saya terkabul dan sampai sekarang ayam-ayam tidak ada yang hilang lagi, bahkan berkembang jadi banyak. Ny Ambar d.a Bakri
***
Derita Pemilik Telepon WirellesSungguh menarik iklan Telkom yang menggambarkan betapa menderitanya seorang petani yang menanggung kerugian karena tidak mempunyai telepon. Tetapi sungguh lebih menderita lagi saya pengguna jasa telepon wireless yang walau punya telepon, tetapi sering tidak bisa dihubungi. Ditambah lagi dengan kenaikan tarif telepon, yang katanya demi masyarakat lain yang belum terjangkau jaringan, biaya abonemen Rp 30 ribu benar-benar menjadi beban berat. Betapa menderitanya sehingga sampai-sampai saya takut mencantumkan nomor telepon. Terbersit di pikiran saya, betapa enaknya Bapak petani yang tidak punya telepon, tetapi tidak pernah mengecewakan relasi/kawan/saudaranya walaupun beliau menderita kerugian. Budi Pramono SKom
***
Pelajar Was-was
Saya sebagai pelajar di salah satu sekolah yang terletak di Jl Imam Bonjol sering merasa was-was jika ingin berangkat atau pulang sekolah. Sebab akhir-akhir ini sering sekali terjadi berbagai tindak kejahatan di Jl Imam Bonjol, antara lain: tawuran, trek-trekan, perampasan/penjambretan serta penodongan. Mohon ditingkatkan pengamanan dari pihak kepolisian untuk menindaklanjuti, agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Pelajar SLTP
***
Korban Penusukan
Sekitar 6 bulan lalu adik saya menjadi korban penusukan, penyebabnya karena kesalahpahaman. Dia tersinggung sehingga mendatangi pelaku guna memperjelas permasalahan. Tetapi pelaku emosi dan memukulnya, sehingga terjadi perkelahian. Merasa tidak puas, pelaku mengambil senjata tajam, mengajak beberapa temannya dan menusuk dada adik saya. Pelaku diamankan warga dan diserahkan ke Polsekta Semarang Timur. Setelah mendekam di tahanan kurang lebih satu bulan dia dibebaskan dengan alasan mengajukan penangguhan penahanan. Sampai sekarang belum ada kelanjutan proses hukumnya. Pihak aparat mengatakan proses hukumnya akan dilanjutkan sampai ke pengadilan. Bagaimana ini Pak Kapolsek. Apa penangguhan penahanan itu sama dengan pembebasan penahanan. Hal seperti inilah yang sering membuat masyarakat tidak menghargai aparatnya. Harapan saya keadilan harus ditegakkan dan semoga cita-cita Polri profesional dapat segera terwujud, agar bangsa dan negara ini tidak semakin terpuruk. Mujianto A Md
***
Undian Pelumas
Kami mengikuti undian pelumas Pertamina yang katanya akan diundi tanggal 26 November 2002 dan diumumkan di media cetak tanggal 2 Desember 2002. Namun nyatanya tak ada berita di harian mana pun. Tolong Pertamina jangan menipu publik. Mohon tanggapan. Sigit
***
Pilkada Banyumas
Sehubungan mulai ramainya persiapan Pilkada Banyumas, masyarakat mengharapkan agar calon bupati nanti selain memenuhi persyaratan umum seperti dalam pasal 33 UU No 22 Tahun 1999, juga harus punya visi dan misi terhadap pembangunan daerah. Pejabat eksekutif dan legislatif di Banyumas dirasa kurang memiliki visi dan misi pembangunan ke masa depan. Mereka lebih menikmati kekuasaan politik dan kekayaan daerah dibanding mengupayakan peningkatan pembangunan wilauah perkotaan dan pedesaan. Kegagalan mengupayakan Kota Administratif Purwokerto menjadi Pemerintahan Daerah Kota setelah lebih dari 17 tahun beroperasi, menunjukkan betapa para pejabatnya kurang memiliki kemampuan membangun di bidang pemerintahan daerah. Dengan berpijak dari peristiwa sejarah masa lampau, sudah selayaknya kota lama Banyumas dikembangkan kembali menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas. Sedang Purwokerto sebagai ibu kota eks Karesidenan Banyumas dipersiapkan menjadi pemerintahan Daerah Kota. Sebagian warga di Kabupaten Banyumas sampai saat ini masih merasa kecewa, karena waktu itu sebenarnya banyak kesempatan yang dapat dilakukan untuk mengupayakan Purwokerto sebagai kota mandiri. Kini banyak kota yang lebih kecil dari Purwokerto dan hanya memiliki 2-3 wilayah kecamatan telah menjadi Pemerintahan Daerah Kota. Padahal Purwokerto memiliki 4 wilayah kecamatan. Dampak kegagalan masa lalu, kini banyak PNS yang kehilangan jabatan dan menumbuhkan pengangguran terselubung pada beberapa instansi. Suatu kinerja para Bupati Banyumas yang sangat mengecewakan. Masyarakat mengharapkan agar figur bupati nanti bukan orang yang sibuk menggali kekayaan daerah untuk kepentingan pribadi, kelompok dan golongan. Tetapi mengupayakan pembangunan daerah termasuk peningkatan daerah perkotaan dan pedesaan dalam rangka menyejahterakan masyarakat dan menempatkan sekolah sebagai pusat kebudayaan.
P Susilo Sastrosuwignya |