
| Jumat, 17 Januari 2003 | Sala |
Warga Mojosongo Tolak Tarif Limbah
SOLO- Warga Blok Sibela, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta menolak keputusan Wali Kota Surakarta, Slamet Suryanto, No 15/2002 tentang Penetapan Tarif Pengelolaan Limbah dan Golongan Pelanggan. Pasalnya, penetapan tarif itu menurut mereka dirasa terlalu besar jika dibandingkan dengan tarif lain. ''Maka kami tidak dapat menerima keputusan itu, sebab tarif yang ditentukan itu terlalu memberatkan,'' papar Sudirman Adinoto kepada Suara Merdeka, kemarin. Dia membandingkan tarif limbah dengan retribusi sampah yang juga untuk biaya pengelolaan. ''Sampah saja retribusinya hanya Rp 1.500 per bulan masa limbah Rp 7.500. Padahal pengelolaan sampah jelas-jelas membutuhkan transportasi dan tenaga setiap harinya,'' ujarnya di rumahnya Jalan Sibela Dalam Timur IV No 9. "Jika dibandingkan dengan yang lain, besarnya tarif limbah ini memang jauh terpautnya. Karena itu wajar kalau kami tidak bisa menerima," papar Soediyono, tetangganya. Peninjauan Kembali Untuk itu mereka berdua mewakili warga minta kepada pemerintah untuk meninjau kembali penetapan tarif tersebut. "Kami memohon dengan sangat agar pemerintah Kota Surakarta mau meninjau kembali keputusannya. Hidup kami sudah terlalu berat dengan naiknya beberapa harga kebutuhan pokok akhir-akhir ini, karena itu tolong jangan ditambah beban lagi" kata Sudirman. Harapan mereka dengan adanya peninjauan itu, pemerintah dapat mempertimbangkan lagi besarnya tarif, sehingga akan ditemukan tarif yang sesuai dengan kemampuan masyarakat. Mungkin disesuaikan dengan retribusi yang lain, yang penting bagi mereka asal jangan Rp 7.500. "Syukur kalau kami malah diajak berembug untuk menentukannya," ujar Soediyono. Mereka juga sepakat, jika permohonan itu tidak ditanggapi akan mengambil sikap dengan tidak membayar retribusi yang ditentukan. "Bukannya kami mengancam, tetapi kami memang merasa berat. Oleh sebab itu kami hanya mau membayar jika sudah ada peninjauan tarif." ujar mereka. Ketika ditanya, apakah mereka tidak takut dengan sanksi yang akan diberikan jika tidak membayar, mereka menjawab tidak. "Wong kami sendiri belum tahu sanksinya itu apa. Kalau sudah tahu mungkin bisa menjawab soal takut tidaknya."(wk-51) |