logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 17 Januari 2003 Olahraga  
Line

Berat, Peluang Rebut Piala Sudirman

SEMARANG - Peluang Indonesia untuk merebut Piala Sudirman bukan hanya berat, tetapi sangat berat. Dari lima nomor yang dipertandingkan, Indonesia hanya bagus di tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran. Itu pun tidak menjamin ketiga nomor itu bisa terus menang. Sementara itu, Cina, Denmark, dan Korsel akan menjadi batu sandungan bagi Taufik Hidayat dkk di Eindhoven, Belanda, pada 18-23 Maret.

Mantan mantan pemain putri nasional Minarni Sudaryanto mengemukakan hal itu kepada Suara Merdeka seusai membuka Kejuaraan Bulutangkis Beregu Antarsekolah SD/SLTP di GOR Trilomba Juang, kemarin.

''Peluang tetap ada, tetapi berat, karena Indonesia tidak punya pemain putri yang kuat. Indonesia hanya mengandalkan poin dari nomor tunggal putra, ganda putra, dan campuran,'' tegasnya.

Menurut dia, kaderisasi pemain putri sekarang sudah sangat memprihatinkan. Setelah era Susi Susanti dan Mia Audina, PB PBSI tidak memiliki pemain putri bagus. Indonesia ketinggalan jauh dari Cina, Denmark, dan Korsel.

Solusi tepat untuk melahirkan banyak atlet potensial adalah dengan menyelenggarakan pelatda di daerah. PBSI harus membantu memfasilitasi, misalnya memberi kesempatan kepada pemain pelatda mengikuti kejuaraan berbintang satu, dua, atau tiga. Dengan cara itu, bukan hanya antara pemain pelatda dan pelatnas yang berkompetisi, tapi juga pelatih.

Terlalu Banyak

Sementara itu, kebijakan PBSI mengirim tiga ganda putri ke All England 2003 mengundang kritik, karena pemain yang dikirim dinilai terlalu banyak. Kritik itu antara lain dilontarkan mantan pebulutangkis nasional Retno Kustiyah di Jakarta, kemarin. Menurut dia, seyogianya pemain yang dikirim cukup dua pasangan, sementara satu ganda lagi sebaiknya diganti dengan dua pemain tunggal putri.

''Ini kok tunggal putri malah tidak dikirim. Bagaimana mau mencoba, kalau tak ada yang dikirim?''

Menanggapi kritik soal tidak dikirimnya tunggal putri ke All England, Sekjen PBSI Lutfi Hamid mengatakan, keputusan tak mengirim tunggal putri sudah tepat. Sebab, All England merupakan kejuaraan dunia tidak resmi.(B18,bn-59t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA