
| Jumat, 17 Januari 2003 | Olahraga |
Petarung Deny Trubus Kantongi Rp 11 JutaSEMARANG - Ring TPI Fighting Championship ternyata memberi lahan baru bagi para atlet bela diri untuk mencari nafkah. Ini dibuktikan petarung dari Sasana Gelora Massa Semarang Deny Trubus yang turun di kelas bebas (80 kg ke atas). Dia yang memiliki disiplin ilmu karate kyokushinkai dan judo, dalam dua kali naik ring mencatat kemenangan atas lawan-lawannya. Kini dia mengantongi total hadiah Rp 11 juta. Kemenangan pertama atas Dany (Jakarta), membuat Deny mendapat hadiah Rp 1,5 juta dari TPI, dan bonus Rp 3 juta dari Gelora Massa. Kemenangan kedua dia catat pada Sabtu lalu atas Armadi (Semarang). Dia kemudian mengantongi Rp 2 juta dari panitia dan bonus dari sasana Rp 4 juta. Belum lagi uang saku pada saat berangkat ke Jakarta yang sepenuhnya ditanggung sasana. Dengan kemenangan terakhir itu peringkat Deny di kelas bebas langsung melejit ke posisi ketiga. Menurut rencana, bulan depan dia naik ring lagi untuk mencari tiket menantang pemegang mahkota juara Galih (Jakarta). ''Saya harus berlatih lebih giat,'' tegasnya ketika menerima bonus dari bendahara sasana Alwin Basri di posko Gelora Massa Jl Sompok Baru 93 Semarang, kemarin. Bagi Deny, pengayoman yang diberikan pemilik sasana Setyo Adi membuat para atlet nyaman. ''Kami di sini tidak ada perbedaaan. Baik pengurus, pembina, pelatih maupun atlet sepakat menjadi sahabat, guru dan orang tua. Kami maju bersama membawa bendera sasana ke tingkat internasional.'' Sangat Disiplin Hal itu juga diakui duet pelatih Iwan A Cahyadi dan Gunawan Wijaya. Menurut Iwan, kunci sukses tiga anak didiknya, Deny, Lukman, dan Robert di TPI Fighting Championship adalah mereka sangat disiplin dalam berlatih. ''Mereka sangat menurut pada pelatih. Semua instruksi pelatih dijalankan dengan senang hati, tidak malah jadi beban,'' tutur Iwan. Pemilik sasana Setyo Adi menjelaskan, anak-anak pantas menerima bonus. ''Kalau TPI memberi Rp 1,5 juta, saya akan kasih dua kalinya. Jika hadiahnya Rp 2 juta, ya kami beri Rp 4 juta,'' tuturnya. Untuk mendapatkan prestasi, seorang atlet harus melakukan perjuangan sangat berat. ''Ibarat seorang pegawai, dia pun harus bekerja setiap hari. Mereka latihan tiap hari, digebuki, diantemi, bonyok-bonyok. Kasihan kalau bonusnya terlalu kecil.'' Namun, di balik penghargaan terhadap atlet, Setyo memiliki keinginan lebih jauh, yakni memberi ruang bagi para remaja mendapatkan tambahan penghasilan. Hal yang sama dikatakan Ir Alwin Basri MM ketika menyerahkan bonus kepada Deny dan juga para pelatih. ''Ini sekadar tali asih dari pengurus. Tugas atlet adalah berlatih. Kami dari pengurus sasana hanya bisa mengantar kalian untuk memburu prestasi. Di atas ring semua tergantung pada kalian.'' Kini, lanjut dia, tidak kurang dari 40 atlet bergabung di sasananya. Hal itu memerlukan perhatian serius dari pengurus. ''Kami sediakan arena untuk menyalurkan bakat di bidang olahraga yang memberi nilai positif bagi anak-anak muda yang ingin maju.'' Sasananya membina tiga cabang olahraga, yakni karate kyokushinkai, wushu, dan kick boxing. (C8-59e) |