
| Jumat, 17 Januari 2003 | Olahraga |
Roekito Kecewa Kepemimpinan WasitBANJARMASIN - Pelatih kepala PSIS Daniel Roekito tak bisa menutupi kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit dan hakim garis pada pertandingan Kompetisi Liga Indonesia (KLI) IX di Stadion 17 Mei Banjarmasin, kemarin. Wasit Suwartono, hakim garis Jauhari Panggih dan Romadhon, dia nilai sangat merugikan timnya. Selain menganulir dua gol bersih yang dicetak Khusnul Yaqien dan German Osorio, wasit juga beberapa kali menghukum offside para pemain PSIS. Menurut Roekito, jika tidak dikerjai wasit, timnya tentu pulang dengan poin penuh. Namun, dia menegaskan, pihaknya tidak akan mengajukan protes ke PSSI atas kepemimpinan wasit yang buruk tersebut. "Tidak, kami tidak akan protes. Namun, sikap wasit itu jelas merusak permainan, sportivitas, dan membuat citra perwasitan ternoda," kata dia. Mantan arsitek Barito Putra dan Arema Malang itu mencak-mencak di sisi lapangan ketika gol kedua PSIS yang dicetak oleh German Osorio pada menit-menit akhir babak kedua dibatalkan karena dianggap lebih dulu terjadi pelanggaran. Wasit menilai, ada pemain Barito yang melanggar Julio Lopez di tengah. Ironisnya, ketika wasit menghukum Barito dengan tembakan bebas itu, bola sudah jauh dari tempat Lopez jatuh. Bola itu sudah dikuasai Osorio yang langsung mengontrol dengan dadanya, kemudian menyontek pelan hingga gol. Selang waktu antara wasit meniup peluit dengan "pelanggaran" tersebut juga sudah terlalu lama, sekitar lima detik. "Itu harusnya gol bersih. Wasit apa itu, mana ada pelanggaran? German handsball? Kalau itu pelanggaran, harusnya tadi ketika Lopez dijatuhkan, bukan setelah bola masuk gawang," kata dia sengit. Lalu, terhadap pembatalan gol pertama yang dicetak oleh Khusnul Yaqien, Roekito masih bisa memaklumi. Sebab, gol itu memang bisa dinilai berbau offside jika wasit tidak jeli. "Saya masih maklum ketika gol Khusnul dibatalkan, meskipun mestinya dia tidak offside. Nggak apa-apa. Saya anggap itu kecelakaan. Namun, setelah gol kedua juga dianulir, apa kita juga harus menyebut itu kecelakaan?" ujarnya. Selain menganulir dua gol manis PSIS, wasit pembantu (hakim garis) juga sering "menjebak" offside para striker PSIS. Lebih dari enam kali peluang laskar Mahesa Jenar melayang gara-gara "jebakan" tersebut. "Kami harusnya menang, harusnya menang. Saya kecewa. Ini keterlaluan. Mereka merampok nilai kami," sungutnya. Tak berbeda dari Roekito, Manajer Tim Yoyok Sukawi juga berpendapat serupa. Dia mengatakan, jeleknya kepemimpinan wasit membuat peluang PSIS membawa pulang tiga angka berantakan. "Sayang sekali kami dikerjai wasit. Anda lihat sendiri. Apa yang salah dari gol Khusnul dan Osorio? Itu bersih, kenapa dibatalkan? Saya kecewa berat dengan wasit," katanya. Berkat hasil imbang tersebut, PSIS menerima bonus dari manajemen tim Rp 15 juta. (F3-57e) |