logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 17 Januari 2003 Berita Utama  
Line

"Saya Hanya Bisa Berucap Allah, Allah..."

  • Supriyanto Kapok Bersihkan Gorong-gorong

KONDISI Mustofa (40) dan Supriyanto (27), dua pekerja yang selamat dari musibah air bah ketika membersihkan gorong-gorong Jalan MT Haryono, Rabu (15/1) berangsur membaik. Supriyanto yang "menghilang" sejak Rabu malam lalu, dirawat di RS Panti Wilasa Dr Cipto.

Dia bahkan sudah mampu berjalan normal, meski selang infus masih tersambung ke lengannya. Luka-luka di kepala, kedua kaki dan tangannya belum benar-benar kering. Sementara itu, Mustofa hingga petang kemarin belum diperbolehkan turun dari ranjang di ruang ICU RS Telogorejo.

Ditunggui istrinya, Sumiyatun (35) beserta dua anaknya Eka Sri Hermawati (17) dan Yumaroh (18), Mustofa dikunjungi banyak tamu. Tidak hanya tetangganya di Desa Teluk, Karangawen Demak, para pegawai DPU Kota Semarang yang menyewanya sebagai tenaga pembersih gorong-gorong juga menjenguk bergantian.

Ketika diterjang air bah, dia mengaku antara sadar dan tidak. "Saya terseret beberapa meter. " Ketika tergelontor bersama lumpur dan sampah, dia sempat meraih topi. Selanjutnya topi itu dipakai untuk menutup hidung dan mulut agar tidak kemasukan air. "Setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi. Saya merasakan badan terus meluncur," kata Mustofa.

Bersamaan dengan air di dalam gorong-gorong surut, Mustofa mencoba mencari lubang yang bisa membawanya keluar sembari memanggil-manggil nama temannya. Namun, tak satu pun ada yang menyahut. Di bawah lubang gorong-gorong yang tidak diketahui persis lokasinya, dia berhenti. "Saya ingin naik, tapi tenaga saya tidak kuat lagi. Lagipula jaraknya terlalu jauh, sekitar empat meter."

Lantaran tidak memungkinkan untuk keluar, Mustofa mencoba mencari lubang dekat Pasar Peterongan. "Saya hafal saluran di daerah itu. Sejak 1992 saya sering membersihkannya. Untung posisi badan saya pada saat itu bisa untuk merangkak pelan-pelan," katanya.

Selama hampir 1 km merangkak dalam gorong-gorong, Mustofa merasakan sakit di sekujur tubuh. Apalagi, dadanya terkena hantaman batu yang terseret air bah. Kepala, tangan, dan kakinya juga terantuk dinding gorong-gorong. Namun, demi harapan hidup dia tidak mempedulikan sakit itu.

Bila kecapaian, dia berhenti merangkak. Setelah tenaganya agak pulih, Mustofa melanjutkan merangkak di antara sampah dan lumpur hitam. Akhirnya dia berhasil keluar dari gorong-gorong. "Saya kemudian menceritakan apa yang baru saya alami. Saya bersyukur bisa selamat," kata dia.

Bagaimana dengan Supriyanto? Apa yang dia alami tak kalah mengenaskan. Ketika air bah menggelontor kencang, dia berada di belakang Mustofa dan Sugiyono. Terjangan air menyeret tubuh ketiga pekerja itu.

Badan Supriyanto membentur kaki Slamet yang berdiri di dasar lubang. Pada saat itulah Supriyanto meraih kaus Slamet, sambil berusaha melawan terjangan air bercampur lumpur dan berbagai macam sampah.

Namun, pegangannya lepas ketika Slamet ditarik keluar oleh beberapa orang yang menolong dari atas lubang. Tak ayal, dia pun terhanyut. Harapan hidup yang muncul sekejap itu pun lenyap bersama aliran air hitam pekat.

Dalam posisi telentang Supriyanto terbawa arus air. Berkali-kali keningnya membentur atap gorong-gorong, sedangkan kayu dan batu yang ikut hanyut menggores-gores beberapa bagian tubuhnya. Meski terancam maut, dia masih berpikir mencari cara agar selamat. Karena tidak tahan keningnya terbentur terus, dia membalikkan badan menjadi telungkup.

Itu memang menyelamatkan keningnya, tapi gantian kedua kakinya yang jadi korban. Kulit pahanya terkelupas, karena bergesekan dengan dasar gorong-gorong. Lebih dari 15 menit dia dibelit aliran air tanpa mampu berbuat banyak. Supriyanto hanya pasrah, apa pun yang terjadi. "Saya cuma bisa menyebut asma Allah berulang-ulang. Allah... Allah...," tutur Supriyanto yang mengaku dibayar Rp 21.000 per hari.

Dia cukup beruntung, karena air bah yang deras membawanya terus hingga ujung selokan di terowongan belakang Pasar Peterongan. Melihat ada cahaya, dia langsung merangkak keluar, menuju ke tepian. Supriyanto langsung pingsan begitu tangannya menyentuh tanah.

Bapak seorang anak itu tak tahu persis berapa lama dia tak sadarkan diri. Setelah siuman, dia berjalan ke arah kios pasar. Rasa penasaran terhadap nasib teman-teman membuatnya ingin kembali ke tempat mereka kali pertama masuk gorong-gorong di dekat pasar kambing.

Dua kali dia mencegat becak, tapi dua-duanya seperti takut dan tak memedulikannya. Agaknya, kedua tukang becak itu miris melihat tubuh Supriyanto yang berdarah, belepotan lumpur, dan berbau busuk. "Waktu saya cegat, eh, mereka malah takut. Mungkin dikira saya ini apa," ujar Supriyanto sambil terkekeh.

Beberapa pedagang yang melihatnya, bahkan mengira Supriyanto orang gila, sehingga dibiarkan begitu saja. Supriyanto pun memutuskan pergi ke rumah saudaranya, Muhayan yang tinggal di Jalan Kanalsari. Sesampai di sana, dia segera dibawa ke rumah sakit.

Supriyanto mengaku kapok bila diminta membersihkan gorong-gorong lagi. Dia lebih memilih bekerja di proyek bangunan--pekerjaan yang selama ini dia tekuni--daripada disuruh merangkak-rangkak dalam lorong sempit dengan risiko kehilangan nyawa.

Sementara itu, jenazah Sugiyono (45) sudah dimakamkan di pemakaman Desa Teluk, Karangawen Demak, Rabu (15/1) malam. Pemakaman dilakukan beberapa jam setelah mayatnya tiba di rumah duka pukul 19.00. (P Heru Subono, Nugroho Dwiadhiseno, Karyadi-64e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA