logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 17 Januari 2003 Berita Utama  
Line

Kanibalis dari Palumutan, Purbalingga (1)

"Daging Manusia Langu, tetapi Membuat Tenang"

TULANG MANUSIA: Sejumlah tulang-belulang manusia ditemukan di rumah Sumanto. Pamapta III Ipda H Sutarno menunjukkan sebuah tulang berbentuk pipih yang sudah mengering. (Foto: Suara Merdeka/F10-47t)

Terlihat pendiam. Sorot matanya tajam. Dan postur tubuhnya tak begitu kekar. Itulah Sumanto (30), kanibalis dari RT 5 RW 5 Desa Palumutan, Kemangkon, Purbalingga. Meski kini sedang diperbincangkan banyak orang karena ulahnya yang nggegirisi, dia tetap tenang. Di wajahnya tak tergurat sedikit pun rasa menyesal. Sebaliknya, dia terlihat bangga menceritakan kisahnya memakan daging manusia, yang tak lain adalah sesamanya.

"Sampai hari ini, paling tidak saya telah memakan tiga orang. Dua orang waktu saya bekerja di Lampung, sedangkan yang ketiga ya Bu Rinah itu," tuturnya tanpa ekspresi. Sementara Kapolres AKBP Drs Agus Sofyan Abadi SH dan sejumlah wartawan bergidik mendengarnya, Sumanto tetap tenang bercerita, Kamis kemarin.

Biasanya, demikian Sumanto, satu tubuh dihabiskan dalam sehari semalam.

Korban pertama adalah seorang lelaki yang akan membegal ketika dirinya bekerja sebagai satpam di sebuah perkebunan tebu di kawasan Gunung Madu, Lampung. Dalam pergulatan itu, begal bisa diringkusnya. Karena dia merasa jengkel, begal itu dibunuh kemudian dikuliti. "Karena jengkel, ya saya bunuh saja," tuturnya pelan.

Korban kemudian disayat kulitnya, diambil dagingnya, dan kemudian dimakannya mentah-mentah. Seperti makan daging ayam, dia sayati lebih dulu paha kaki, kemudian lengan, kemudian baru bagian lainnya. Sebenarnya langsung dimakan lebih enak, segar, tetapi jika sudah beberapa saat bau anyirnya menyengat.

"Ya, kadangkala harus saya masak juga," tuturnya kalem.

Korban Kedua

Korban kedua yang diakuinya juga berusaha membegal, mengalami nasib yang sama. Diambil dagingnya, sedangkan jeroan-nya dibuang di semak-semak. Kenapa jeroan dibuangnya karena rasanya tidak terlalu enak, mungkin karena banyak kotorannya.

Untuk menuntaskan seleranya, biasanya Sumanto juga menglamuti tulang-tulang korban yang sudah dihabiskan dagingnya. Seperti lazimnya orang makan daging ayam goreng, jika dagingnya habis, ya nglamuti tulangnya. "Terasa ada nikmatnya," tuturnya, sambil tangannya memeragakan cara dia menyantap korban-korbannya.

Sedangkan Ny Rinah (80) adalah korban ketiga. Tak ada alasan yang dilontarkan Sumanto kenapa memilih mayat nenek itu. Tetapi, diakuinya, setelah memakan daging korban, hatinya merasa damai dan tenang.

Mengapa mayat Ny Rinah tidak disantapnya sampai habis seperti korban-korban sebelumnya, dia mengaku karena sudah terdengar azan subuh sehingga sisa-sisa tubuh korban segera dikemasi. Seandainya subuh belum menjelang, mungkin tubuh korban ketiga itu pun akan dihabiskan juga. "Habis, waktu menggali cukup lama, sehingga kesempatan makan tinggal sedikit waktu saja," kata anak dari pasangan Nuryadikarta dan Samen itu.

Karena waktunya habis, dia segera menguburkannya karena takut ketahuan tetangganya. "Tetapi jangan khawatir, meski Ny Rinah sudah saya makan, dia sudah saya hidupkan kembali di dalam diri saya. Bahkan, saat ini dia sedang berjoget di dalam tubuh saya," katanya tetap tanpa ekspresi.

Terasa Langu

Meski mengaku sudah memakan tiga korban manusia, toh Sumanto mengakui bahwa sebenarnya daging manusia itu tidak begitu enak. "Daging manusia itu rasanya langu. Meskipun demikian membuat saya tenang," katanya kepada Suara Merdeka. "Dan, lebih enak daging tikus, kucing, celeng, dan anjing. Daging manusia itu lebih lembek, karena banyak minyaknya. Apalagi jika dimasak, seperti airnya tak habis-habis. Anak tikus lebih enak. Saya olesi madu, kemudian ya saya telan," kata dia yang mengaku suka makan daging binatang-binatang yang disebutnya itu.

Lebih jauh Sumanto malah menuturkan perilakunya lain yang masih dekat-dekat dengan ulahnya memakan mayat. Sudah menjadi kebiasaannya, sewaktu dirinya ketagihan sering menggali kuburan untuk mencari tulang-belulang manusia. Sudah beberapa kuburan dibongkarnya untuk mendapatkan sebanyak mungkin tulang yang kemudian ditaruh di bawah tempat tidurnya.

Motifnya? "Saya ingin nembus nomor jitu. Biasanya kan orang cari nomer buntutan di kuburan. Saya ambil jalan pintas saja, tulang-belulang manusia itu saya kumpulkan, saya tiduri setiap hari, siapa tahu ada wisik dari arwah mereka," kata Sumanto tanpa menjelaskan apakah sudah pernah nembus nomer atau belum.

Setelah diamankan polisi, kini Sumanto meninggalkan gubuknya yang kecil dan ringkih itu. Meski sudah diamankan, masih banyak pertanyaan tentang Sumanto, apakah dia waras atau gila. Juga termasuk, benarkah dia sudah memakan tiga korban, atau jangan-jangan lebih? (Arief Nugroho-16t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA