logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 17 Januari 2003 Berita Utama  
Line

Tiga Mahasiswa Mogok Makan Dilarikan ke RS

  • Demo Diwarnai Pertunjukan "Republik Pantat"

SEMARANG-Kondisi kesehatan enam mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang melakukan aksi mogok makan di halaman Gedung DPRD Jateng merosot drastis. Hingga hari ketujuh, tiga mahasiswa dilarikan ke rumah sakit. Qomaruddin Rizal dibawa ke Rumah Sakit Roemani, karena muntah-muntah lalu pingsan di dalam tenda kemarin malam.

Aries Zam-zam dilarikan ke rumah sakit yang sama lantaran kondisinya sangat kritis. Wirawan Setya Barata lebih dulu dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, setelah kondisi fisiknya terus merosot. Sementara Ali Fauzan, Yoris Sindu Sunarjan, dan Ahmad Ali Azhar masih terus bertahan, meski fisiknya sangat lemah. "Saya akan terus mogok makan sampai pemerintah membatalkan kenaikan BBM dan TDL," kata Yoris.

Secara terpisah, hasil pertemuan Forum Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan PTN dan PTS Rayon 1 (Semarang, Kudus, Pati, Rembang, Cepu) menyatakan sikap mendukung gerakan mahasiswa. Yakni menyerukan kepada pemerintah untuk membatalkan kebijakan menaikkan BBM, TDL, dan telepon.

"Selain itu, kami juga membentuk tim advokasi ditangani oleh Untag, Unika, dan Unissula. Sedangkan tim kesehatan oleh Unissula, Undip, Unidus, Uwil, dan pusat krisis oleh Unisbank," kata Ketua Rayon I Machfudz Ali SH MSi.

Bervariasi

Sementara itu, kendati pemerintah telah menunda kenaikan tarif telepon, aksi demonstrasi terus bergelora. Penolakan terhadap kebijakan menaikkan harga BBM, TDL, dan telepon yang dilakukan elemen mahasiswa makin bervariasi.

Tidak hanya berorasi dan mogok makan, mereka juga menggelar aksi performance art. Kemarin, empat pelaku seni yang hanya mengenakan cawat dengan tubuh dilumuri cat hitam dan putih mengitari halaman Gedung DPRD Jateng dengan gerakan teatrikal.

Aksi itu dilanjutkan ke teras Gedung Berlian, tempat ratusan mahasiswa dari Forum Komunikasi Mahasiswa Semarang (Forkomas) menggelar unjuk rasa. Di tengah kerumunan pengunjuk rasa itu, sebuah "pentas" kembali dipanggungkan. Sembari mengibarkan bendera merah putih, mereka mengaduh, menjerit, berteriak, dan mengutuk kezaliman yang berlangsung di Tanah Air.

"Ketika mulut rakyat kecil sudah tidak lagi didengarkan, hanya pantat kami yang gosong ini yang bisa kami tunjukkan. Kami tak kuat membeli bahan makanan pokok dan tak mampu membeli baju. Yang kami miliki hanya pantat dan kemaluan," jerit Apito lewat megafon yang disodorkan rekannya.

Dia juga menjeritkan kepedihan ketika wakil rakyat sudah tidak memiliki taji untuk membela nasib rakyatnya. Maka, setelah memelorotkan cawat yang menutup auratnya, mereka membelakangi Gedung Berlian.

Dalam beberapa saat pantat itu seperti berbicara. Namun yang keluar hanya bisu bagaikan mulut rakyat yang sudah tidak ada artinya. "Kami memang sudah tidak memiliki apa-apa untuk disuarakan. Di "republik pantat" ini jeritan rakyat sudah tak berarti lagi," katanya. Maka, dia berniat untuk membuka kemaluan sebagai simbol harta benda yang masih dimilikinya.

Lalu mereka berguling-guling seperti kesakitan akibat didera penderitaan yang berkepanjangan. Para pelaku pertunjukan memegang perut masing-masing menggambarkan kelaparan rakyat, karena tak kuat membeli makanan.

"Ini hanya salah satu bentuk ekspresi seni terhadap kondisi Tanah Air," ujarnya. (G1,D14-64t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA