
| Jumat, 17 Januari 2003 | Berita Utama |
Mahasiswa Paksa DPRD Gelar Rapim "Dadakan"
SEMARANG - DPRD Jateng akhirnya ikut mendesak DPR RI dan Pemerintah Pusat untuk membatalkan kenaikan BBM, TDL, dan telepon. Keputusan tersebut merupakan hasil rapat pimpinan (rapim) "dadakan" DPRD Jateng setelah para wakil rakyat itu mendapat tekanan dari berbagai elemen mahasiswa yang tergabung dalam Forkomas (Untag, STIK, Unpand, IKIP PGRI Semarang, IAIN Walisongo, Udinus, UWH, dan Akperdag), kemarin. Sebelum ada rapim "dadakan" itu, kemarin memang telah dijadwalkan adanya rapat pimpinan Dewan. Dalam rapim yang dipimpin oleh Ketua DPRD Jateng Mardijo di lantai IV sekitar pukul 09.00, di Gedung Berlian, telah disepakati beberapa hal, antara lain meminta pemerintah memberikan penjelasan tentang latar belakang kenaikan ketiga komponen itu, serta mengusulkan kepada pemerintah untuk meninjau kembali kebijakannya, dan menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Jateng yang telah menyampaikan aspirasi. Sekitar pukul 12.00, hasil rapim disampaikan oleh pimpinan fraksi dan komisi kepada para mahasiswa, di ruang serbaguna lantai I, Gedung Berlian. Namun, keputusan tersebut ditolak mentah-mentah. "Apa-apaan ini ! Kalau ini yang menjadi keputusan rapim tadi pagi (kemarin pagi-Red), saya akan membuang ke dalam keranjang sampah. Tidak ada gunanya, keputusan ini sama sekali tidak mencerminkan aspirasi mahasiswa," kata seorang mahasiswa. Spontan puluhan mahasiswa yang ikut dalam dialog tersebut membuang pernyataan tersebut di depan meja Dewan sebagai simbol penolakan keputusan. Para mahasiswa kemudian memaksa DPRD Jateng segera menggelar rapim ulangan. Mahasiswa juga meminta Ketua DPRD Mardijo dan Wakil Ketua HA Thoyfoer MC menemui para mahasiswa. "Kalau dalam waktu lima menit Mardijo tidak datang ke sini, saya dan kawan-kawan menjemput di lantai II. Kalau pengusaha demo ditemui, kenapa tidak mau menemui mahasiswa. Ini namanya pelecehan kepada mahasiswa," kata Koordinator Aksi Sukiran, mahasiswa IAIN Walisongo Semarang. Setelah mendapat penjelasan bahwa Mardijo tidak ada di kantor karena sedang menghadiri acara HUT PDI-P di Kabupaten Pati, dan Thoyfoer sedang takziah, para mahasiswa bisa memahami. Rapim Dadakan Setelah terjadi negosiasi, akhirnya sekitar pukul 14.00 disepakati diadakan rapim "dadakan" di lantai II. Ketika para Dewan sedang menggelar rapim, puluhan mahasiswa menunggu hasil keputusan di lantai II dan lobi gedung. Untuk mengisi waktu, mereka meneriakkan yel-yel menolak kenaikan BBM dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Pukul 14.30 rapim selesai. Ada enam poin yang dihasilkan, antara lain mendesak pemerintah pusat dan DPR RI untuk secepatnya membatalkan kenaikan BBM dan TDL hingga kondisi perekonomian rakyat memungkinkan, dan memutus kerja sama dengan IMF, serta menghentikan privatisasi BUMN. (D14,G1-29t)
| |||||