
| Jumat, 17 Januari 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Pamong Desa Butuh TunjanganDEMAK -Tingkat ekonomi pamong desa di Kabupaten Demak banyak yang memprihatinkan. Untuk itu mereka membutuhkan tambahan penghasilan guna mencukupi kebutuhan keluarganya. Hal itu dikatakan Ketua Paguyuban Pamong Desa se-Kabupaten Demak, H Idham Kholid di sela-sela acara halalbihalal Paguyuban Pamong Desa Sultan Fatah Demak di Gedung KONI Demak, Kamis (16/1). Gedung yang dipenuhi hampir seluruh pamong desa se-Demak itu, dihadiri Bupati Dra Hj Edang Setyaningdiah, Kapolres Drs Her Aris Sumarman dan Ketua DPRD KH M Nurul Huda MA. Yang unik dalam acara itu adalah dekorasinya. Bila biasanya halalbihalal berdekorasikan masjid atau tangan bersalam-salaman, saat itu dekorasi berupa klenteng berwarna merah dengan daun palem di samping kanan dan kiri klenteng. Idham Kholid menambahkan, penghasilan itu berupa tunjangan yang diperolah dari Pemkab. Tunjangan itu bisa diambilkan dari Dana Alokasi Umum (DAU) atau pendatapan asli daerah (PADS). Hal itu diusulkannya, karena sampai saat ini penghasilan para pamong hanya bersumber dari hasil tanah bengkok. Umumnya, bila tanah itu ditanami padi dan palawija, yang harganya selalu menurun. "Bila dibandingkan biaya tanam sampai panen, hasilnya kurang cucuk," kata Lurah Desa Kedung Waru Lor, Karanganyar, Demak itu. Bantuan Aspal Dalam sambutannya Bupati Dra Hj Endang Setyaningdiah meminta agar pamong desa mengelola tanah bengkok dengan baik. Hal itu penting agar kebutuhan para pamong tercukupi. Dia menambahkan, pihaknya berjanji akan memperhatikan pembangunan desa se-Kabupeten Demak. Diantaranya, sekarang ini mengusulkan alokasi dana pembangunan desa Rp 500 juta untuk 247 desa. Selain itu, pihaknya akan mengupayakan antisipasi bahaya bannjir dan bantuan 20 drum aspal untuk setiap desa. (G5-71) |