logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 17 Januari 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Tidak Perlu Median Jl di Pandanaran

  • Berkali-kali Tertabrak Kendaraan

SEMARANG- Fungsi median jalan di Jl Pandanaran masih dipertanyakan. Sejak pembatas jalan tersebut dibangun justru berkali-kali tertabrak oleh pengendara kendaraan bermotor, terutama malam hari.

Rudi, pemilik usaha di kawasan Jl Pandanaran kemarin mengaku merasa was-was saat melihat kendaraan yang melaju kencang di jalur itu. ''Kalau terus-terusan begini dan tidak ada tindak lanjut penanganan yang tepat, saya bisa jantungan,'' ujarnya.

Ia berpendapat median tersebut sebaiknya dibongkar saja. Penyebabnya, arus lalu lintas di jalan tersebut dipandang tidak perlu untuk diberi pembatas.

''Laju kendaraan di sini sangat cepat. Kalau dibuat median malah menimbulkan kecelakaan. Berkali-kali saya menyaksikan kendaraan menabrak tiang rambu-rambu yang didirikan di atas median tersebut,'' kata dia yang tokonya persis di depan salah satu median yang terpotong-potong itu.

Pada jam-jam sibuk, tingkat kepadatan kendaraan tinggi. Ditambah lagi lalu lalang orang-orang yang menyeberang dengan melintasi median jalan tersebut.

Namun demikian, seorang pengguna jalan berpendapat bahwa median jalan itu sebaiknya diperpanjang. Miftachul Izah SE, karyawan swasta tinggal di Kaliwungu, mengungkapkan, median jalan tetap diperlukan.

Menurutnya, perlunya median itu disebabkan jalan itu berfungsi dua arah. ''Kalau saya, lebih baik median jalan itu diperpanjang dengan harapan lalu lintas menjadi lebih tertib.''

Selain itu, jalur tersebut belum tersedia jembatan penyeberangan. ''Penyeberang bisa berhenti sejenak di median yang tidak terlalu tinggi itu. Walaupun berisiko, tapi penyeberang jalan bisa memanfaatkan median itu untuk melihat kepadatan arus kendaraan,'' ujar pegawai swasta di Semarang itu.

Namun yang perlu diperhatikan adalah tersedianya lampu penerangan di sekitar kawasan tersebut sehingga bisa terlihat pengendara di malam hari.

Sebelumnya, pakar transportasi menilai median jalan tersebut justru tidak bermanfaat bagi manajemen lalu lintas. Sebab kenyataannya, pembatas jalan tidak mengurangi kesemrawutan lalu lintas di jalur tersebut.

Pakar transportasi Unika Soegijapranata Drs Ir Djoko Setijowarno MT mengemukakan, median jalan itu sebaiknya dibongkar. Apalagi niat pembuatan median itu sebagai kamuflase pemasangan iklan. Karenanya, pembuatan median dipandang mengabaikan manajemen transportasi.(G1-71)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA