
| Jumat, 17 Januari 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Pembangunan Dupan Plaza
Turunnya Izin Prinsip Kejutkan Wakil Ketua DPRDPEKALONGAN - Dua wakil ketua DPRD Kota Pekalongan, H Machmud Masjkur dan Slamet Imron Ustman SH, mengaku tidak tahu-menahu soal rencana pembangunan Dupan Plaza di depan Terminal Pekalongan. ''Saya terkejut kalau izin prinsip pendirian itu sudah turun. Selama ini pemimpin DPRD belum pernah diajak bicara soal tersebut,'' kata Machmud Masjkur, kemarin. Kota Pekalongan akan bertambah pasar swalayan atau mal yang akan berdiri di atas tanah 2,5 ha di depan Terminal Pekalongan. Sayang, pasar swalayan itu hanya untuk kalangan pengusaha besar dengan harga minimal setiap kios Rp 60 juta. Pengelola Pasar Grosir Setono dan Pusat Kulakan Grosir Gamer Drs Sony Hikmalul menyatakan protes. Boleh saja mendirikan plaza, kata mereka, namun harus mengalokasikan untuk pengusaha kecil. Kalau pengusaha hanya menjual kios termurah Rp 60 juta itu tak memberikan kesempatan ke pengusaha kecil untuk memiliki. Machmud mengerti keinginan pengusaha kecil. Dia memperjuangkan agar pengusaha diberi tempat untuk berjualan di mal tersebut kelak. Dia mendukung protes itu. ''Semestinya Pemerintah Kota juga memperhatikan tuntutan para pengusaha kecil,'' katanya. ''Yang mengherankan ternyata hingga kini belum ada informasi ke DPRD. Namun izin prinsipnya kok sudah keluar. Ini bagaimana? Padahal, pembangunan Matahari Plaza dan Pekalongan Plaza sebelumnya selalu melibatkan DPRD,'' katanya. Kalau rencana itu serius, dia meminta pemerintah memikirkan alokasi untuk pedagang kecil dan kelancaran lalu lintas di depan terminal. Apalagi kini intensitas lalu lintas meningkat sesuai dengan perkembangan zaman. ''Pokoknya harus dipikirkan agar arus di jalan depan terminal tidak macet setelah Dupan Plaza dibangun.'' Sederhana Dia menuturkan sebenarnya tahun ini perdagangan bebas sudah diberlakukan, meski masyarakat Pekalongan belum siap menghadapi. Karena itu pendirian Dupan Plaza perlu dicermati pemerintah. ''Jangan sampai pendirian toko swalayan itu menimbulkan masalah baru dengan pengusaha kecil,'' katanya. Slamet Imron SH secara terpisah berharap pembangunan plaza itu juga memberikan kesempatan ke pengusaha menengah dan kecil sehingga mereka berpeluang menjadi pengusaha besar. ''Saya kira kurang tepat jika Dupan Plaza hanya khusus untuk pengusaha besar,'' kata Imron. Teknis penjualan, kata dia, dapat dilakukan dengan subsidi silang. Kios untuk pengusaha kecil dibantu pengusaha besar agar dapat berkembang. Selain itu, kalau bangunan untuk pengusaha kecil sewajarnya kios itu dibangun sederhana dan tidak luas. (A15-20g) |