logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 7 Januari 2003 Ekonomi  
Line

Peternakan Jabar Pencetak PAD (2-Habis)

Jateng Pasok Unggas BPT Jatiwangi

Balai Pembibitan Ternak (BPT) Unggas Jatiwangi, Kecamatan Majalengka, Bandung, merupakan salah satu UPTD Dinas Peternakan Jabar. Balai yang didirikan pada tahun 1952 itu memiliki bermacam koleksi budi daya ayam ras dan itik.

Di bawah Jawatan Kehewanan Jabar saat itu, BPT Unggas Jatiwangi memiliki koleksi antara lain sapi perah, kambing/domba, serta beraneka ragam ternak unggas.

Dalam perkembangan, pada tahun 1980 balai itu berubah nama menjadi BPT HMT Jatiwangi dan bergerak dalam budi daya sapi perah, kambing, dan unggas. Pada tahun 2002 kembali balai itu berubah nama menjadi Balai Pengembangan Pembibitan Ternak Unggas Jatiwangi.

Lahan kompleks peternakan itu 16,5 ha, namun yang ditempati baru 7 ha. Banyak ayam buras, seperti ayam tedu, ayam sentul, pelung, arab, dan ayam hasil perkawinan silang dikembangkan di tempat itu.

''Kami sudah mengembangkan crossing ayam arab dan tedu. Alhamdulillah, keturunannya sudah ada. Namun baru F1-nya. F2-nya belum ada. Malah beberapa waktu lalu Pemerintah Provinsi Banten memborong 1.000 ekor ayam dari sini,'' kata Kepala BPT Unggas Jatiwangi, Ir Idih Purnama Alam, ke peserta tur studi Dinas Peternakan Jateng.

BPT unggas Jatiwangi mengelola 10.000 ekor itik dan 15.000 ayam buras. Sejumlah kandang dihuni banyak ayam buras muda. Peremajaan ayam itu kabarnya untuk persiapan stok bibit berkualitas tahun ini.

Di lokasi itu juga ada itik manila, yang sebagian didatangkan dari Jateng. Ada pula itik tegal, branjangan putih dan hitam, dan itik bali. Itik tegal diakui memiliki banyak keunggulan ketimbang jenis lain. Yakni, berdaya produksi tinggi dan berdaya tahan terhadap serangan penyakit.

Dikembangkan pula itik campuran tegal-branjangan cirebon dan tegal-bali. Namun BPT Jatiwangi ingin menciptakan ras/jenis dan spesies unggas produksi BPT Jatiwangi. ''Kami pernah menjalin kerja sama dengan Balitnas Bogor. Yakni, menguji coba cara mengurangi masa mengeram ayam buras,'' ujar dia.

BPT itu menyediakan pelatihan bagi peserta yang ingin magang. Selama magang peserta tak dipungut biaya. Namun urusan akomodasi sehari-hari ditanggung peserta. Pada tahun 2001 BPT memberikan kontribusi ke PAD Rp 604 juta dan 2002 menjadi Rp 821 juta lebih. Selama lima tahun ini target PAD dapat dipenuhi 100%.

BPT Unggas Jatiwangi dilengkapi enam unit mesin tetas berenergi listrik. Mesin itu meliputi dua rak. Rak pertama untuk menampung telur ayam ras dan disimpan 1-18 hari. Rak kedua adalah rak penetasan; dalam waktu tiga hari telur akan pecah.

Telur itik hanya membutuhkan waktu 25 hari dengan masa tetas tiga hari. Karena kulit telur itik agak tebal, suhu panas ke telur itik 38 derajat. Adapun telur ayam ras hanya 37 derajat.

Di tempat itu diperagakan proses kawin suntik ayam ras. Semula alat kelamin ayam pejantan dirangsang sehingga berahi. Sperma pejantan ditampung dalam tabung, lalu dicampur NaCl dengan perbandingan 1:3. Tabung lalu dikocok dengan gerakan membentuk angka delapan dengan halus. Setelah itu disuntikkan ke alat kelamin ayam betina.

Basirun, peternak ayam Maron, Temanggung, menilai penggunaan alat mesin penetas telur BPT Unggas Jatiwangi selangkah lebih maju ketimbang di daerahnya. ''Umumnya peternak lokal ayam ras dan itik di tempat kami masih menggunakan tenaga manual. Terus terang kami cemburu melihat alat mesin BPT Unggas Jatiwangi ini,'' ujar dia.

Dia menuturkan tingkat keberhasilan tetas telur unggas di Temanggung lebih rendah ketimbang di BPT Unggas di Jatiwangi. Kendala lain, peternak lokal sulit memasarkan telur ayam ras karena keterbatasan sarana kendaraan bermotor. Hal itu berbeda dari BPT Unggas Jatiwangi yang menyediakan kendaraan bermotor, sehingga tak ada masalah.(Arwan P-69g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA