logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 3 Januari 2003 Sala  
Line

Tak Kondusif, Kru Haji Asing Hengkang

BANJARSARI- Pergantian tahun ternyata belum membawa angin segar bagi kalangan perhotelan. Yang muncul malah berita menyedihkan.

Kru penerbangan haji dari My Travel Air Ways dan British Air Ways yang disewa Garuda Indonesia untuk melayani jamaah haji di Embarkasi Solo, memindahkan akomodasinya ke Batam.

''Mereka tidak mau menginap di Solo, karena takut dengan situasi dan kondisi keamanan yang dinilainya masih belum kondusif. Karena itu, mereka meminta akomodasinya di Batam,'' kata Ketua PHRI Surakarta Drs Subandono kepada Suara Merdeka, di sela-sela Halalbihalal di Hotel Sahid, Selasa lalu.

Pengalihan seluruh akomodasi kru penerbangan haji itu memukul PHRI, pasalnya jumlah mereka cukup besar, sekitar 150 orang.

Mereka bekerja melayani keperluan jamaah calon haji di Embarkasi Bandara Adi Sumarmo Solo sekitar tiga bulan.

''Bayangkan, berapa dolar kami kehilangan peluang dari hengkang-nya para kru penerbangan haji itu. Mulai dari penginapan, makanan, dan seluruh keperluan sehari-hari mereka selama bertugas di Solo,'' ungkap dia.

Pengalihan akomodasi itu baru terjadi tahun ini, lanjut Subandoro, menyusul semakin maraknya berita tentang pengeboman yang ternyata berpusat di Solo.

Karena itu kalangan penerbangan asing masih menganggap Kota Solo sebagai kota berbahaya. Hal yang sama terjadi di Makasar, yang baru saja dilanda aksi pengeboman.

Karena adanya insiden itu, kru penerbangan haji yang semestinya bertugas di Bandara Hasanudin, Makassar juga meminta untuk dipindahkan akomodasinya ke Batam.

''Jadi yang tinggal di Solo dan Makasar tinggal kru asli PT Garuda Indonesia. Kru asing dari perusahaan penerbangan yang disewa Garuda memilih pindah.''

Masih Suram

Karena kondisi itu, PHRI meminta pemerintah segera menyikapi persoalan ini. Sebab gambaran mengenai kota Solo ternyata masih suram, tidak seperti yang selama ini diangankan.

Berbagai usaha mengembalikan citra Kota Solo masih belum berhasil mengangkat.

''Kami juga akan terus berjuang dan berusaha untuk mengampanyekan Kota Solo yang aman, namun juga harus dibarengi kerja secara sinergis dengan pihak lain, terutama pihak aparat keamanan,'' ungkap dia.

Secara umum, prediksi tahun 2003 ini masih akan berjalan lambat, belum menggembirakan, khususnya untuk kalangan bisnis perhotelan dan restoran.

Tamu yang selama ini juga banyak yang transit ke Solo, ternyata hanya berhenti di Yogyakarta saja. ''Dulu, banyak tamu yang transit ke Yogya namun juga mampir beberapa hari ke Solo. Tapi kondisi akhir tahun menunjukkan, selama libur lebaran, tamu tidak banyak ke Solo, hanya berhenti di Yogyakarta.''

Jika wisawatan nusantara menurun, tentu wisatawan asing juga demikian. Hasil penelitian UGM Yogyakarta, diprediksikan jika kondisi masih seperti ini, maka jumlah wisatawan ke Yogyakarta hanya sekitar 25.000 orang saja.

''Itu yang ke Yogyakarta. Nah, yang ke Solo tentu jauh lebih sedikit,'' kata Subandoro.(an-51)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA