logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 3 Januari 2003 Sala  
Line

Banjir, Siswa Otomatis Libur...

BEBERAPA murid berseragam merah putih itu dengan tenang mengikuti pelajaran yang disampaikan seorang guru di depan kelas. Sesekali suara nyaring mereka terdengar.

Situasi yang terjadi memang tampak seperti situasi pembelajaran di sekolah-sekolah pada umumnya. Namun siapa sangka, ketekunan belajar mereka terpaksa terhenti saat banjir menggenangi sekolah dan lingkungan sekitar.

Salah satunya adalah Kompleks SD di Kampung Demangan. SD Negeri Sawahan I dan SD Negeri Sawahan II berada di satu lokasi, tepatnya di barat tanggul Sungai Bengawan Solo. Sementara beberapa puluh meter di selatan sekolah itu terdapat tanggul Kali Pepe.

Bila musim penghujan, air Bengawan Solo sering meluap ke tempat tersebut. Demikian halnya bila pintu air Demangan ditutup, air Kali Pepe juga meluap ke daerah itu. Di wilayah itu juga terdapat bangunan rumah warga dan masjid yang ikut tergenang bila terjadi banjir.

Dari dua SD yang ada, hanya tinggal SDN Sawahan II yang beroperasi. SDN Sawahan I dalam proses ditutup, sebab kekurangan murid. Murid dari sekolah itu kebanyakan anak-anak dari warga sekitar yang juga rawan banjir.

''Sebagian besar dari mereka anak-anak warga sini. Hanya sedikit yang dari luar wilayah,'' ujar Kepala Sekolah SDN Sawahan 2 Dra Warsiti.

Saat musim hujan tiba, mereka mulai waswas akan meluapnya air sungai. Jika ini terjadi, sekolah akan tergenang air dan bahkan masuk ke ruangan kelas sampai 50-60 cm.

''Murid-murid otomatis juga meliburkan diri karena rumah mereka juga kebanjiran,'' tutur dia. Genangan biasanya akan hilang dalam satu atau dua hari dan mereka masuk kembali meski beberapa dari mereka terpaksa harus memakai buku yang telah dikeringkan lebih dahulu akibat terkena banjir.

Februari dan Maret

Banjir tahunan biasanya melanda Februari dan Maret, sehingga pada Desember guru-guru biasanya sudah mengantisipasi secara khusus. ''Kami menaikkan buku paket, rapor, dan kertas-kertas ke rak yang lebih tinggi. Sementara lemari-lemari yang kosong, kami isi dengan batu agar tidak ambruk.''

Banjir tahunan juga dialami beberapa SD di Kecamatan Jebres. Salah satunya adalah SD Negeri Kampung Sewu 25. Sekolah itu juga terlanda banjir tahunan akibat meluapnya sungai kecil atau drainase di belakang sekolah tersebut.

''Sekolah itu memang sering banjir bila musim penghujan, tapi tak sampai masuk ke kelas. Dahulu sekitar 1999, pernah airnya masuk sampai ketinggian 20-30 cm,'' ujar penjaga sekolah, Suyamto.

Sekolah itu memang terletak di Kampung Sewu yang rawan banjir. Lokasinya juga berada di daerah rendah dan dekat sungai kecil yang terhubung dengan Bengawan Solo.(Evie Kusnindya-42j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA