
| Jumat, 3 Januari 2003 | Olahraga |
Catatan dari Kejurnas WushuNomor Taolu Belum Sesuai HarapanKEJURNAS wushu yang berlangsung di GOR Jatidiri Semarang telah berakhir. Tuan rumah Jateng meraih 9 medali emas, 15 perak, dan 14 perunggu. Perolehan itu mengantarkan daerah ini berada di urutan kedua setelah Jatim yang keluar sebagai juara umum dengan 17 emas, 15 perak, dan 14 perunggu. Jika melihat hasil, maka 9 emas itu sudah sesuai dengan target yang dicanangkan. Namun dari segi kualitas teknik, khususnya di nomor taolu, apakah sudah sesuai dengan harapan? Pertanyaan itu dijawab oleh Ketua Kontingen Jateng Drs Sudarsono. ''Belum,'' jawabnya. Jawaban itu bukan hanya patut untuk direnungkan dan dievaluasi, melainkan juga harus ditindaklanjuti dengan tindakan nyata perubahan pola pembinaan yang terprogram, terencana, dan serius. Terlebih lagi, pada babak kualifikasi PON dan PON XVI di Palembang 2004 dilombakan nomor-nomor baru di kategori taolu. Munculnya nomor-nomor baru itu otomatis menuntut setiap pelatih untuk belajar secara teori sekaligus mempraktekkannya.
Pelatih tidak boleh malu untuk bertanya kepada yang lebih tahu. Kursus kepelatihan adalah wadah yang paling tepat untuk menimba, mengasah, dan mempraktekkan semua ilmu baru. Gerakan Dengan demikian, diharapkan mereka tidak salah lagi dalam menularkan teknik-teknik baru kepada anak didiknya. Mengapa? Sebab, nomor taolu bukan sekadar melakukan gerakan-gerakan yang benar dengan diimbangi kecepatan, power, dan fleksibilitas. Nilai tinggi bakal diperoleh jika gerakan demi gerakan dilakukan dengan penuh penghayatan, sehingga menimbulkan rasa seni yang mampu membawa penonton menikmati keindahan tersebut. Di nomor yang tidak terukur ini, dibutuhkan keseragaman gerak, sehingga setiap pelatih dan juri harus memiliki persepsi yang sama tentang teknik-teknik yang benar. Karena itu, setiap atlet dan pelatih harus selalu mengasah kemampuannya. Kegagalan Arief Susanto, Teguh Ika Royani, Sonny Yolanda, dan Deni Kristian menyabet emas sebenarnya tidak perlu terjadi, jika fisik mereka bagus. Akibat tidak didukung fisik yang prima, gerakan-gerakan mereka jadi tidak sempurna, terutama ketika melakukan gerakan-gerakan sulit yang membutuhkan keseimbangan dan akurasi. Tak heran jika pelatih taolu sulit menerima kegagalan para atletnya.
''Sayang sekali, karena kekalahan atlet kita bukan karena dikalahkan oleh lawan, melainkan karena melakukan kesalahan sendiri,'' kata asisten pelatih taolu pelatda jangka panjang (PJP), Eko Sapuan. Menurut dia, kesalahan yang tidak perlu terjadi itu karena pola latihan yang salah. Untuk menjadi atlet yang baik, bukan hanya dituntut kesiapan teknik, melainkan juga kesiapan fisik yang prima. Latihan fisik diperlukan untuk mempersiapkan otot-otot, terutama bagian kaki, tangan, dan perut, agar mampu melakukan gerakan-gerakan yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. ''Latihan fisik tidak sekadar lari-lari kecil, tapi juga perlu latihan beban. Selama ini, mereka tidak diperkenankan melakukan latihan fitness. Ini kesalahan fatal yang terbukti di kejurnas lalu,'' ungkap Eko yang mantan atlet taolu nasional. Jatim Rasa kecewa tampaknya juga dirasakan Ketua Kontingen Jateng Drs Sudarsono. Ini bisa dimengerti, karena menurut estimasinya, dari kategori tersebut bakal diraih minimal lima medali emas. ''Ini memang di luar dugaan. Bukan hanya kegagalan atlet kami, tapi juga karena melejitnya prestasi para atlet Jatim,'' ujar Sudarsono.
Hasil 9 emas memang di sisi lain cukup memuaskan para pembina dan pengurus pengda. Namun jika melihat prestasi daerah lain seperti Jatim dan Sumut, tampaknya para atlet, pelatih, dan pembina kita harus tergugah, termotivasi, terpacu untuk berbuat lebih baik lagi. Sebab, kalau tidak, bukan tidak mungkin pada PON XVI 2004 mendatang Jateng tidak kebagian medali emas dari nomor taolu. Secara jujur, harus kita diakui, Jatim telah berhasil membina atletnya. Sementara Jateng kurang beruntung (jika tak mau dikatakan gagal). Apa yang harus dilakukan daerah ini sekarang tak lain adalah melakukan evaluasi menyeluruh secara cermat. Artinya, pelatih harus mengevaluasi letak keberhasilan dan kegagalan atletnya. Sebab, bukan tidak mungkin, keberhasilan atlet kita karena terbantu oleh keputusan juri. Ini bisa saja terjadi, karena faktor tuan rumah sangat besar pengaruhnya di mata juri. Jika dugaan saya ini benar, maka 9 emas itu beberapa di antaranya merupakan hadiah atas keberhasilan Jateng menyelenggarakan kejurnas yang konon menelan dana ratusan juta rupiah. Di sisi lain, kegagalan harus menjadi pelajaran berharga dalam menapak prestasi yang lebih bagus di PON XVI. Upaya promosi degradasi atlet PJP sudah sepatutnya diberlakukan berdasarkan hasil di kejurnas. Selain itu, perlu terbangun komunikasi yang kondusif sesama pelatih dan atlet, agar tercipta suasana yang harmonis. (Ahmad Muhaimin-22t) |