logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 3 Januari 2003 Berita Utama  
Line

"Siapa yang Akan Menjemput Saya...?"

FOTO KENANGAN: Foto kenangan Endang Wahyuni ketika masih kecil. Pelajar SLTP 25 Surakarta itu meninggal terkena ledakan mercon saat menikmati suasana awal tahun baru. (Foto: Suara Merdeka/dok-64)

SOLO-Kepergian Endang Wahyuni (13) seorang pelajar SLTP yang tewas mengenaskan akibat terkena ledakan mercon ketika menyambut tahun baru 2003, rupanya membuat kepedihan bagi keluarganya yang ditinggalkan. Putri terakhir dari empat bersaudara pasangan Rinto (51) dan (alm) Ny Warningsih (49) yang mengalami nasib naas itu, tidak dikira sama sekali oleh keluarganya.

Hanya saja sebelum meninggal, menurut keterangan keluarganya, perilaku korban agak sedikit aneh. Keanehan itu tampak ketika Endang Wahyuni yang masih berstatus pelajar kelas I di SLTP 25 Surakarta, berulangkali meminta sesuatu yang tidak biasanya dilakukan.

Sebelum tahun baru, dia memiliki keinginan melihat suasana malam tahun baru hingga pergantian tahun di Jl Slamet Riyadi. Bahkan menurut keterangan kakak kandung korban, Ari Wibowo (30), keinginan adiknya untuk menikmati suasana malam tahun baru sudah disampaikan beberapa hari lalu.

"Saat itu dia sempat berucap, siapa yang akan menjemput saya," tutur korban seperti yang ditirukan Ari Wibowo bersama kakak korban lainnya bernama Ratna (16).

Bahkan sebelum peristiwa naas yang dialami korban, kata Ratna, adiknya mempunyai keinginan untuk belajar Taman Pendidikan Alquran (TPA). Sebelum niat itu terlaksana, dia (Endang Wahyuni-red) juga sangat rajin menjalankan salat lima waktu.

"Saya juga heran kenapa adik saya memiliki keanehan semacam itu," urai Ratna yang sempat ditemui di rumahnya di kampung Batikan Jl Samanhudi 67, Bumi Laweyan, Solo.

Keinginan korban untuk menikmati suasana tahun baru rupanya tercapai ketika dia bersama kakaknya, Ratna dan empat tetangga kampung pukul 01.15 berjalan kaki untuk menyambut tahun baru.

Beberapa jam setelah menikmati suasana pergantian tahun di depan bekas Purwosari Super Ekonomi (SE), di lokasi itulah menjadi tempat akhir hidup bagi Endang Wahyuni akibat terkena ledakan mercon yang mengenai wajahnya.

Mercon yang membelit rambut korban (bukan matanya seperti yang diberitakan Suara Merdeka, 2/1) beberapa menit meledak hingga wajah korban sudah tidak bisa dikenali.

Korban usai di otopsi di laboratorium forensik (labfor) UNS, Rabu (1/1) siang dimakamkan di pemakaman Pulau Pajang, Solo.

Pelacakan

Polisi yang terus mengusut kasus tersebut, hingga kemarin belum berhasil menangkap penyulut mercon yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Sejauh ini pihak kepolisian telah mengimbau kepada pelaku untuk menyerahkan diri. Hanya saja upaya ultimatum yang diberlakukan sejak kemarin, belum ada indikasi penyulut mercon untuk menyerahkan diri.

Bahkan upaya tindakan tegas, juga sempat disampaikan Kapolresta AKBP Drs Bambang Hermanu SH MM melalui Kasatserse AKP Djoko Widiyanto apabila pelaku tidak menyerahkan diri.

Bahkan upaya untuk mengungkap kasus ini, lanjut Kapolresta, pihaknya juga mengimbau pada masyarakat yang mengetahui kejadian itu untuk melaporkan ke polisi terdekat. "Dalam perkara ini, saya akan melindungi siapa pun masyarakat yang bisa melaporkan kejadian itu," papar dia saat ditemui kemarin. (G11,san-64)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA