logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 3 Januari 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Penjahat Itu Ternyata Lelaki Romantis...

SOSOK Ngadiyono alias Thole, yang di kalangan polisi dikenal sebagai perampok kelas kakap ternyata seorang lelaki yang romantis. Paling tidak, ini tercermin dari goresan tinta yang tertulis dalam lembar-lembar buku hariannya. Buku tebal yang ditemukan polisi di rumah Ngadiyono itu penuh berisi catatan perjalanan hidup, termasuk saat dia menjalani hidup di balik terali besi LP Kedungpane dan LP Nusakambangan.

Beberapa bagian buku itu menceritakan kerinduan mendalam Ngadiyono terhadap istrinya, Tipuk, yang berpisah dengannya beberapa tahun lalu sebelum ia masuk penjara karena kasus pencurian. Rasa rindu itu diungkapkan dengan bahasa yang puitis dan romantis.

''Dimanakah dirimu, sayang, aku selalu merindukanmu. Aku berharap kita akan bertemu suatu waktu, setelah aku keluar dari tembok derita ini,''.

Itu salah satu kalimat yang ditulis Ngadiyono ketika ia masih mendekam di LP Kedungpane sekitar tahun 2000. Masih banyak lembaran lain yang juga menggambarkan sisi halus dalam diri pria bertato di hampir sekujur tubuhnya itu.

Selain itu, Ngadiyono juga banyak mengungkapkan kekecewaan dan kemarahannya terhadap oknum-oknum aparat penegak hukum, yang memanfaatkan penahanannya demi memperoleh keuntungan pribadi. Namun, Ngadiyono hanya bisa berkeluh kesah tanpa mampu berbuat apa-apa.

Dari buku tersebut, diketahui pula bahwa Ngadiyono merupakan sosok yang amat disegani narapidana dan tahanan lain yang menghuni LP Kedungpane. Dia juga dikenal sebagai otak kerusuhan beberapa waktu lalu di tahanan itu. Dia bahkan diakui sebagai pimpinan di antara ratusan penghuni LP. Demikian pula ketika dia dipindahkan ke LP Nusakambangan, dia mendapat perlakuan yang cukup baik dari penghuni lama.

Lantas, bagaimana sosok Ngadiyono di mata keluarga dan teman-temannya? Tidak banyak yang bisa diketahui. Pi'i (30), salah seorang adik korban yang ditemui Suara Merdeka di RT 4 RW 5 Gangin Sari II, Bangetayu Wetan, Genuk, mengaku tak mengetahui persis aktivitas sehari-hari kakaknya. Sebab, Ngadiyono amat jarang pulang.

Paling banter dia pulang seminggu sekali. Itu pun hanya satu-dua hari di rumah, setelah itu ''menghilang'' lagi entah ke mana. Ngadiyono yang merupakan anak sulung pasangan Sapuan-Fathonah itu juga tidak banyak bercerita mengenai pekerjaan di luar rumah.

''Kalau pulang kadang-kadang dia nyambi melayani orang yang minta gambar atau ditato. ''

Beberapa tamu nampak melayat di rumah papan ukuran 5x8 meter itu. Menurut Pi'i, keluarganya sebenarnya bukan asli warga Ganginsari. Orangtuanya berasal dari Jalan Tikung Baru. Mereka pindah ke Gangin Sari, Bangetayu Wetan tahun 1986. (P Heru Subono, Nugroho Dwiadhiseno-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA