
| Jumat, 3 Januari 2003 | Ekonomi |
Lesu, Penjualan Mobil DiselSEMARANG - Harga solar yang untuk kali pertama melebihi premium, diprediksi bakal berdampak langsung terhadap penjualan mobil disel (berbahan bakar solar). Bahkan, menurut beberapa pedagang mobil dan dealer di Semarang, penurunan penjualan mobil disel terasa sejak tiga bulan terakhir, ketika harga solar terus merangkak naik mendekati harga premium. "Memang kenaikan solar berdampak pada penjualan. Sejuah ini, penjualan kami sudah turun sekitar 10%," kata Budi Cahyo, Branch Manager Isuzu Karya Zirang Utama, Jl Siliwangi, kemarin. Namun, lanjutnya, penurunan penjualan itu hanya akan terjadi pada pembeli perorangan. Soalnya, konsumen korporasi cenderung memilih mobil disel, dengan pertimbangan awet dan mesinnya bandel. "Karena itu, tidak terlalu terpengaruh dengan kenaikan harga solar ini". Budi menjelaskan, sebelum harga solar naik, penjualan mobil Isuzu bisa mencapai 60 unit/bulan. Namun, dalam tiga bulan terakhir, dealer yang meliputi pasar di Jateng itu hanya mampu menjual 45 unit/bulan. "Namun, untuk ke depan kami yakin, meski tetap lesu, tidak akan terjadi penurunan tajam," lanjutnya. Managing Director PT New Ratna Motor-Nasmoco Group Fatrianto mengakui, kenaikan harga solar akan berpengaruh terhadap penjualan mobil Kijang solar. "Kondisinya jauh berbeda dari ketika harga solar masih stabil," katanya. Lebih Irit Sebaliknya, Regional Manager Isuzu Semarang Marsus Santoso menyatakan, kenaikan harga solar diperkirakan tidak banyak berpengaruh pada permintaan pasar mobil disel produk Isuzu. Hal itu terbukti dari permintaan pasar yang terus meningkat pada bulan-bulan lalu. "Penjualan Isuzu di Jateng-DIY pada Oktober 2001 naik 20% dibandingkan dengan September. Jika sebelumnya cuma 160 unit, naik menjadi 200 unit per bulan." Dia mengakui, selama ini pendapat masyarakat lebih banyak dipengaruhi harga solar yang lebih murah ketimbang premium. Karena itu, konsumen lebih tertarik membeli mobil berbahan bakar solar. Padahal, lebih dari itu, mesin disel lebih diminati karena konsumsi bahan bakarnya jauh lebih irit daripada mesin berbahan bakar bensin. "Karena itu, dari konsumsi bahan bakarnya, mesin disel tetap lebih irit. Selain itu, pemeliharaannya juga lebih mudah dan awet. Ini yang kami sosialisasikan kepada masyarakat, dan mereka tampak memahaminya," jelas Marsus. Karena itu, dia optimistis pasar Isuzu akan tetap diminati, kendati ada kecenderungan harga solar terus naik. (G2-48e) |