logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 3 Januari 2003 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Jembatan Gantung Ambruk

Muncul Jasa Perahu Penyeberangan

BANJIR menyebabkan jembatan gantung Rawajaya yang melintas di atas Sungai Cimeneng, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap ambruk. Jalur transportasi yang menghubungkan beberapa desa di Kecamatan Bantarsari seperti Rawajaya, Bantarsari, Sidakaya. Bulureja dan Sikerang kini terganggu.

Jembatan itu selama ini menjadi urat nadi lalu lintas untuk aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat setempat. Ambruknya jembatan itu, mendatangkan keberuntungan tersendiri bagi para pemilik perahu jukung.

Sebab perahu itu sekarang menjadi sangat dibutuhkan warga yang akan menyeberang. Padahal sebelumnya warga tidak tertarik, namun kini sebaliknya alat transportasi air ini menjadi penyeberangan utama.

Pemilik perahu, Sutarwan (35) dan beberapa rekannya mulai Minggu ( 29/12) lalu mencoba memanfaatkan peluang itu. Kenyataannya minat warga untuk memanfaatkan jasa penyeberangan itu masih tinggi. Perahu ditambatkan di sekitar jembatan gantung yang putus atau di lokasi penyeberangan yang dulu pernah ada. Mereka sejak pagi hingga sore selalu siap di lokasi.

Peluang itu dimanfaatkan para pemilik perahu mengingat pembangunan jembatan itu masih butuh waktu lama. Warga juga jarang melalui jalan melingkar lewat Sitinggil jalan raya Cilacap-Sidareja sebab jaraknya sekitar 2,5 kilometer. Di samping itu pada daerah tersebut juga tidak ada angkutan umum (Angkudes) kecuali angkutan ojek.

Sungai Dalam

Jembatan gantung itu kebanyakan untuk hubungan kegiatan pertanian ( meuju sawah, ladang dan kebun), keagamaan (pengajian dan pendidikan pesantren) serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Sedang untuk ngr obyok Sungai Cimeneng, tak berani karena tergolong dalam.

Sutarwan menuturkan, warga yang memanfaatkan jasa perahu biasanya mereka yang akan pergi ke sawah sebab sebagian besar sawah mereka berada di seberang sungai.

Selain itu anak-anak sekolah maupun warga yang mau pergi ke pasar Bulureja, Sidakaya dan Cikerang. Sekali penyeberangan ditarik ongkos Rp 500/ orang. Sedangkan anak sekolah ongkosnya hanya separonya.

Menurut dia, pada hari Minggu penghasilan yang diperoleh mencapai Rp 20.000. Itu pun sebatas mengangkut orang saja. Sementara untuk mengangkut barang belum dilayani mengingat kemampuan perahunya terbatas.

''Saya menyediakan perahu kembali karena sebelumnya warga sudah biasa memanfaatkan untuk menyeberang. Namun setelah jembatan gantung dibangun dua tahun lalu warga lebih memilih lewat jembatan itu,'' tuturnya.

Masyarakat setempat berharap agar Pemkab Cilacap segera membangun kembali jembatan tersebut. Lelaki setengah baya itu tidak gelisah bila jembatan gantung tersebut dibangun kembali. Meskipun ia kehilangan peluang untuk mencari penghasilan tambahan.

Kata dia, perahu yang disediakan itu selama ini tidak hanya untuk alat penyeberangan saja. Namun dipakai pula untuk melaut di perairan Segara Anakan. Apa yang dilakukan sekarang sekaligus untuk membantu warga yang kesulitan melewati sungai Cimeneng. (Agus Wahyudi-47)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA