
| Jumat, 3 Januari 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Tak Beda Suara Akademisi dan Anak JalananMENDENGARKAN keluhan akademisi, praktisi, dan suara anak jalanan soal situasi lokal (Kota Tegal) dan nasional seperti tak beda jauh. Hal itu terlihat dari dua kegiatan diskusi yang menyoroti kilas balik 2002 dan menjalani 2003. Kegiatan yang diselenggarakan Forum Pemberdayaan Masyarakat Tegal (FPMT) dan sekelompok anak jalanan yang tergabung dalam Lembaga Eksternal Anti Kongkalikong (LEAK). Kegiatan diskusi pertama dihadiri Prof Dr Abu Su'ud, Wali Kota Tegal Adi Winarso SSos, dan sejumlah akademisi UPS Tegal antara lain Hamidah Abdurachman SH MH (hukum), Sono Prabowo (politik), Drs Gunistio MM (ekonomi), Drs Yayat Hidayat Amir MPd (pendidikan), Sekota Tegal H Rahardjo SH (otonomi daerah), Ketua DPRD Kota Tegal Drs Kartomo MM (kebijakan publik), Wijanarto SPd (sosial budaya), dan Kepala Bappeda Drs H Dulrachman (pembangunan daerah). Diskusi berlangsung di hotel bintang tiga Bahari Inn, pukul 08.00-15.00. Hampir semua pembicara mengeluhkan soal ketidakberdayaan aturan politik, hukum, situasi ekonomi, dan dunia pendidikan yang penuh dengan rekayasa dan pelanggaran. Demikian pula saat sorotan bidang kebijakan publik dan sosial budaya diembuskan, semua hampir bermuara pada kekecewaan para pemain. Tekanan Eksternal Kandidat doktor Unpad Bandung, Drs Yayat Hidayat Amir MPd, yang juga dosen UPS Tegal mengungkapkan, pendidikan sebagai wahana pemberdayaan bangsa mengalami multikrisis dan ketidakberdayaan. ''Seharusnya pendidikan tak kehilangan daya untuk menunaikan fungsi pemberdayaan. Bahkan, pendidikan kini justru telah menjadi ketidakberdayaan bangsa.'' Di dunia hukum, PR I UPS Hamidah Abdurachman SH MH mengeluhkan soal ketidakberdayaan hukum dalam upaya penegakannya. Dunia hukum penuh rekayasa dan pelanggaran yang sulit diluruskan. Semua pilar dan komponen hukum seperti sulit mengadapi kenyataan di atas. Dunia hukum mengalami krisis keterpurukan. Menjelang pergantian tahun baru, sekelompok anak jalanan yang dibina Sapto Aji dan M Afis Zein menggelar diskusi lesehan dan di warung padang, juga menyuarakan hal senada. ''Banyak idealis, tapi kenyataannya tidak seperti apa yang dia omongkan. Asal ada uang, persoalan beres,'' ungkap Rudi saat berkomentar mengenai penanganan hukum dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu Sapto Aji mengkritik dunia pendidikan yang masih dinikmati kalangan berpunya. Anak-anak jalanan terpinggirkan. Padahal mereka, tandas dia, memiliki keinginan berbenah diri lewat jalur pendidikan yang disediakan pemerintah. ''Salah satu jalan, semua komponen pemerintah yang bertanggung jawab harus dapat bersikap adil. Agar kemajuan dapat dinikmati oleh kalangan bawah. Anak jalanan bila berbenturan sedikit langsung disikat, sedangkan kalangan atas atau yang berpunya atau yang sering membuat keputusan selalu dihadapkan dengan upaya kompromi dan penuh kongkalikong. Itu jelas tidak beres,'' papar M Afis Zein. Banyak hal yang dapat direkomendasi untuk memperbaiki kebijakan publik pada 2003. Namun dari dua diskusi yang berbeda itu, yang terlihat adalah kemunculan keluhan ketidakberdayaan dan upaya pembelaan diri.(Riyono Toepra-17j) |