logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 3 Januari 2003 Budaya  
Line

Banyolan Politik dan Hafalan Dialog

SEBUAH parodi politik, tepatnya demokrasi, Senin (30/12) malam dipentaskan oleh Teater Gema di aula kampus IKIP PGRI Semarang. Sebuah lakon yang mungkin klise, terlebih setelah masa euforia politik yang (ternyata) mulai menjenuhkan.

Entah kebetulan entah tidak, pertunjukan sepanjang satu jam yang mestinya bisa cair dan mengajak penonton tersenyum itu justru terlihat beku. Dibandingkan dengan pentas-pentas Teater Gema sebelumnya, maaf, Banyolan Politik (Banpol) yang digarap Apito Laire itu mengalami degradasi kualitas.

Terus terang, banyak catatan dalam pertunjukan yang sebenarnya dipersiapkan untuk pentas Sasi Ageng Semarang, akhir Januari mendatang itu. Tempo yang sangat lambat, vokal pemain yang terlalu tipis, juga kegagalan mereka memunculkan karakter tokoh.

Tak seperti biasanya, Apito Laire yang mengambil lakon dari naskah Yusef Muldyana gagap di banyak bagian. Kegagalan tempo, misalnya, sudah terlihat ketika pentas baru saja dimulai.

Tokoh orang tua yang masuk ke panggung dan bermonolog, menghabiskan waktu terlalu panjang. Untuk melintas separo panggung, sang tokoh menghabiskan waktu sekitar 10 menit.

Karena Banyolan Politik sebagai lakon realis, maka kedekatan antara rekaan ke alam realitas menjadi kurang sempurna. Kegagapan itu membuat penonton jengah karena sepanjang 10 menit pertama tak segera menemukan sesuatu yang ''enak'' ditonton.

Hafal Naskah

Para pemain juga kurang memahami keseluruhan lakon. Sebaliknya, mereka masih sebatas menyampaikan peran sesempurna mungkin. Alhasil, keunggulan pemain hanya terjadi pada tataran ''hafal naskah''. Namun kondisi itu justru tak menciptakan interaksi yang natural antartokoh.

Beberapa simbol tak sampai pada penonton. Dua pemain di balik jaring laba-laba, tempat mereka berperan sebagai banci dan pelacur (?), belum bisa menjadi ''korban politik''.

Mereka merintih, menangis, juga menggugat. Tapi agaknya penonton belum bisa memahami bahwa tangisan tersebut adalah gambaran ketidakberdayaan orang kecil.

''Ketika nonton pentas ini, saya berharap ada yang lucu dan menghibur. Apalagi judulnya banyolan politik. Tapi ternyata warna parodi itu tidak muncul,'' komentar seorang penonton.

Ketua Teater Gema Herry SGR mengakui, pertunjukan tersebut belum maksimal. Dia menilai akting pemain masih panggung banget.

''Akting dan dialog belum terlihat natural. Mungkin karena mereka pemain baru.''

Bisa jadi. Tapi masalahnya, ketika pentas di panggung, penonton tak lagi membedakan antara anggota baru dan lama. (Ganug Nugroho Adi-75)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA