
| Jumat, 3 Januari 2003 | Budaya |
Lomba Baca Puisi Teater Semut
''Jangan Tertawakan Gurumu...''LELAKI paro baya itu seorang guru. Berbaju biru muda lengan panjang, bercelana biru tua, berdiri di atas pentas di depan sana. Kedua tangannya memegang selembar kertas, bergetar. Gemetar. Lalu dengan wajah sangat serius, dia bersuara: ''Dewa Telah Mati... karya Subagyo Sastrowardoyo...'' Aha! Dia memang sedang membaca puisi. Bukan dalam pementasan, melainkan dalam lomba. Ya, lomba baca puisi tingkat guru yang diselenggarakan oleh Teater Semut di aula Dinas P dan K Kendal, Sabtu 28 Desember 2002. Pada mulanya, terus terang, peserta dengan nomor undi 01 itu membuat saya shock berat. Keseriusan dan gayanya saat membaca sungguh di luar dugaan: tak berbeda jauh dari gaya murid SD, SLTP, atau SLTA. Tampak penuh percaya diri meski tak berhasil benar menyembunyikan kegemetaran. Tapi ketika dia menyelesaikan pembacaan puisi pilihan dan menunduk hormat, kemudian dengan sangat santun meninggalkan panggung, keharuan yang paling mengharukan mengaduk-aduk perasaan. Betapa besar keberanian yang dia miliki dan tunjukkan. Keberanian untuk tampil, keberanian untuk dinilai, dan keberanian untuk kalah atau malah ''dikalahkan'' oleh tiga juri yang bisalah dibilang anak didiknya. Keberanian seperti itu ditunjukkan pula oleh peserta lain. Satu per satu mereka, guru SD hingga SLTA, maju dan membaca puisi dengan resepsi dan gaya masing-masing. Bahkan ada peserta yang memperagakan adegan terbang melayang-layang. Keberanian yang mencengangkan! Ini Keteladanan Sebagai salah satu juri yang merasa tak pernah selesai menjadi murid, saya pun bertanya-tanya. Apa yang membuat para guru itu begitu berani? Apa yang hendak mereka raih dalam lomba yang biasanya mendudukkan mereka sebagai pembina, pengantar, dan penunggu murid mereka saat menjadi peserta lomba yang sama? Cuma gelar pemenang dan trofi? ''Saya yakin, tujuan mereka tak sesepele itu. Dalam pandangan saya, mereka sedang menyatakan bahwa lomba dan persaingan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Kalah atau menang bukan persoalan. Yang penting, gali potensi diri dan tunjukkan bahwa 'aku juga bisa'. Membangun rasa percaya diri siswa dengan keteladanan, itulah yang sedang mereka lakukan,'' kata Agus Nuryatin, dosen Universitas Semarang yang siang itu menjadi juri I. Mukti Sutarman Espe, penyair yang juga guru dan juri III, setuju. ''Untuk diri pribadi guru pun sangat perlu. Dengan ikut lomba seperti ini, mereka bisa merasakan persentuhan langsung dengan karya sastra dan seni pertunjukan. Tidak hanya bisa ngomong di depan kelas,'' tambahnya. Persentuhan langsung itulah tampaknya ''target utama'' penyelenggara. ''Kami adakan lomba ini sebagai wadah bagi para guru untuk terjun ke lapangan, mengapreasiasi sastra secara bebas seperti apresian yang lain,'' kata Agus Suwanto, guru SLTP 3 Patebon Kendal, saat memberikan sambutan sebagai ketua panitia. ''Kami tak membatasi peserta harus guru bahasa dan sastra. Selain karena agar tak terlalu sedikit yang ikut, juga agar sastra dekat dengan siapa saja, termasuk guru Olahraga atau Fisika,'' tutur Ketua Teater Semut Kendal Aslam Kusatyo. Meski begitu, ''efek samping'' tetaplah ada, antara lain penunjukan oleh kepala sekolah terhadap guru yang mesti mengibarkan bendera sekolah di panggung lomba: bisa tak bisa, mau tak mau. Untunglah, cuma satu dua peserta yang seperti itu. Setelah lomba, adegan yang tak biasa terjadi pula. Peserta, juri, dan panitia bersalaman seperti hendak pulang usai kenduri. ''Jangan tertawakan gurumu...'' kata salah seorang peserta. Saya memang tertawa. Tapi sungguh, bukan menertawakan mereka. Saya justru sedang terasuki kebahagiaan dan kebanggaan, betapa mereka tetap layak digugu dan ditiru. Selamat dan hormat kepada A Nur Khafidz, Yuniasih, Bambang Soesanto, Sulastri, Romdonah, dan M Afwan yang berhasil menjadi juara I hingga juara harapan III. Bersama juara lomba baca puisi tingkat SD dan umum, mereka menerima hadiah usai pementasan Monolog Garba Teater Semut hari Minggu (29/12) malam. Selamat dan hormat juga kepada yang kalah karena telah mengantongi kemenangan lain, bahkan sebelum lomba dimulai: berdiri tegak sebagai sang teladan. (Budi Maryono-75) |