
| Kamis, 19 Desember 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Lelang Mobil Dinas, Peserta Jorjoran HargaSUASANA Pendapa Graha Satya Praja Pemkab Sukoharjo kemarin tampak berbeda. Di bagian tengah pendapa dipasang kursi berderet layaknya acara seminar. Ternyata acara itu bukanlah seminar, karena terdengar teriakan lewat pengeras suara. Saat didekati, tampak kerumunan orang di bagian pinggir pendapa. Di bagian tengah, puluhan orang berseragam pegawai Pemkab duduk di kursi yang disediakan. Hari itu memang sangat berbeda, karena Pemkab punya gawe lelang terbatas mobil dinas. Ada 12 mobil yang dilelang dari berbagai merek. Bahkan kondisinya juga beragam, ada mobil yang memang dalam kondisi jalan. Namun, sebaliknya ada juga yang mesinnya mati. Misalnya, Holden Belmount AD 431 B dalam kondisi ndhongkrok alias tidak jalan, sedangkan mobil bekas kendaraan dinas Wakil Bupati, Peugeot 405 SRM, bodinya masih mulus. Namun menurut keterangan Wabup Drs M Toha, mobil itu sering mogok di tengah jalan ketika mesinnya panas. ''Sudah beberapa kali mobil mogok saat saya pakai,'' paparnya. Tak kurang 50 peserta lelang yang sebelumnya mendaftar pada panitia dan menyetorkan uang jaminan Rp 4 juta untuk satu jenis kendaraan sebelum pelaksanan lelang. Jaminan disetorkan langsung ke KP2LN dan pelaksana lelang hanya menerima bukti setorannya. Bila peserta tersebut kalah, uang jaminan dikembalikan utuh. Namun, bila yang bersangkutan dinyatakan menang maka diwajibkan melunasi pembayaran dalam waktu 1 kali 24 jam. Setelah lunas, mobil yang dimenangkan dalam lelang boleh dibawa pulang. Lelang berlangsung meriah. Apalagi panitia, Mahatma Kusumandono mampu memancing emosi peserta lelang agar menaikkan tawarannya. Sesekali dia berteriak agar peserta lelang terus menambah jumlah tawaran yang diajukan pesaingnya. Apalagi penonton pun ikut memberi semangat. ''Ayo terus- terus jangan menyerah,'' teriak penonton seraya bertepuk tangan. Memanas Lelang paling panas terjadi ketika tiba giliran mobil Toyota Hardtop AD-45-B. Tawaran pertama dibuka dengan harga Rp 30 juta yang diikuti lima peserta. Namun, harga terus membubung tinggi karena peserta terus menaikkan tawaran. Saat sampai pada harga Rp 50 juta, tinggal dua peserta yang tersisa yaitu Sarno (Bagian Umum) dan Bambang Riyanto (Kesbanglinmas). Keduanya tidak mau mengalah, keduanya terus mengacungkan tangan tanda setuju dengan tawaran panitia. Ketika tawaran mencapai angka Rp 62 juta dengan cepat Sarno mengacungkan tangan, sedangkan Bambang kurang perhatian karena bercakap-cakap dengan temannya. Ketika panitia menghitung hingga tiga kali, Bambang tak juga mengacungkan tangan. Otomatis lelang dimenangkan Sarno. Kakan HIK Drs DT Siswadi mengatakan, lelang berhasil melampui target. Semula ditargetkan hanya Rp 150 juta, ternyata hasil akhir mencapai Rp 198,01 juta. Padahal masih ada sebuah mobil yang tidak ada penawarnya. Persaingan memperebutkan Toyota Hardtop, sebenarnya sudah diperkirakan panitita sejak awal. Pasalnya, mobil tersebut mempunyai nilai historis tinggi karena pernah dipakai sebagai mobil operasional lima bupati di Sukoharjo. Yaitu Gatot Amrih SH, Drs Soeprapto, Drs Setyawan Sadono, Ir Tedjo Suminto dan Bambang Riyanto SH. ''Memang untuk mobil seperti Hardtop tidak ada patokan harga di pasaran. Penentuan harga semata berdasar klangenan saja,'' katanya. Sebaliknya, ada juga harga jadi yang justru lebih rendah dibandingkan dengan limit harga. Peugeot 405 SRM semula ditawarkan Rp 34,4 juta. Namun harga jadi hanya Rp 30,1 juta. Bahkan ada juga mobil yang tidak laku yaitu, Holden Belmount AD-431-B. ''Itulah kenyataan di lelang terbuka. Penawaran memang terus berganti dengan cepat karena setiap peserta dapat mengetahui jumlah penawaran pesaing,'' tegasnya. (Joko Murdowo-14k) |