logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 19 Desember 2002 Olahraga  
Line

Dominasi Indonesia Terancam

  • Kejuaraan Dunia Pencak Silat

PENANG- Indonesia terancam gagal mempertahankan gelar juara umum setelah hanya mampu, meloloskan satu pesilat ke final dari tiga kelas semifinal yang diikuti pada pertandingan hari keempat Kejuaraan Dunia Pencak Silat Ke-12 di Penang International Sports Arena (PISA) Penang, Malaysia, Rabu.

Satu-satunya pesilat yang lolos ke final adalah Irsan Anwar, pesilat asal Makassar yang mengalahkan pesilat Myanmar Zan Lot Khot dengan skor telak 5-0 di semifinal kelas D putra. Sementara dua rekannya Pengky Simbar di kelas A putri dan Suprapto di kelas F putra, harus mengakui ketangguhan lawan-lawan mereka.

Pengky dikalahkan pesilat tuan rumah Malaysia Jurida Hussein, sementara Suprapto tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi pesilat Vietnam dan menyerah telak 0-5. Suprapto, pemuda berusia 25 tahun itu tampil mengecewakan karena tidak tampil taktis dan malah tidak berusaha bertanding lebih agresif pada babak ketiga setelah menyadari ia kalah dalam pengumpulan angka.

Dengan gugurnya Suprapto dan Pengky Simbar, maka Indonesia tinggal menyisakan enam pesilat dari total 16 nomor yang diikuti. Berbeda dengan Indonesia yang dari awal bertekad untuk mempertahankan gelar juara umum, tuan rumah Malaysia berhasil meloloskan empat pesilat ke final dari lima kelas yang mereka ikuti di pertandingan hari keempat tersebut.

Secara keseluruhan, Malaysia masih menyisakan 12 pesilat dari total 18 nomor kategori silat tanding yang mereka ikuti. Sementara itu, Vietnam semakin menunjukkan kelas mereka sebagai salah satu kekuatan pencak silat dunia dengan meloloskan tiga pesilat ke final dari empat kelas yang mereka ikuti.

Seperti halnya Malaysia, Vietnam juga masih menyisakan 12 pesilat lagi dan sepertinya kedua negara berpeluang besar untuk bertarung menjadi pengumpul medali emas terbanyak untuk kategori silat tanding.

Di antara pesilat Indonesia yang masih bertahan, hanya Irsan Anwar yang terlihat konsisten karena dari tiga kemenangan sebelumnya, seluruhnya diraih dengan skor telak 5-0.

Di final, Sabtu (20/12), Irsan harus berhadapan dengan pesilat tuan rumah Malaysia Ahmad Sharil yang pada pertandingan semifinal lainnya menyingkirkan Emmanuel Andres Baesa dari Filipina dengan skor 4-1. Seperti halnya banyak peserta lainnya, Irsan mengakui bahwa ia tidak hanya harus mengalahkan lawan di lapangan, tapi juga wasit yang sering memberikan keuntungan kepada tuan rumah.

Mengenai peluangnya untuk meraih emas untuk tim Indonesia, Irsan menegaskan dari perjalanannya sampai ke final, ia yakin bisa mengatasi perlawanan pesilat tuan rumah, tapi dengan catatan wasit bersikap adil.

Permalukan Malaysia

Kejutan terjadi di pertandingan semifinal terakhir di kelas F putra ketika pesilat Prancis Chatelier Philipe setelah melalui perjuangan luar biasa karena dalam kondisi cedera, mampu mengalahkan pesilat tuan rumah Malaysia Alwie Jidin dengan skor 3-2. Kekalahan Alwie Jidin seperti menodai dominasi tuan rumah yang meloloskan empat pesilat ke babak final.

Philipe tidak hanya menjadi satu-satunya pesilat dari Eropa yang mampu melaju ke final, tapi sekaligus membalas kekalahan rekannya asal Belanda Martijn Houwerzul yang kalah kontroversial dari Alwie Jidin di babak pertama.

Pesilat Prancis tersebut mendapat sambutan luar biasa usai kemenangan karena meski dalam kondisi terkilir pergelangan kaki kanan dan bertanding terpincang-pincang, ia masih mampu membanting lawan sebanyak empat kali.

Sabaruddin Che Any, pelatih Malaysia mengakui kekalahan Alwie disebabkan sikap tidak sabar untuk menghabisi lawan yang sudah terkilir dan sulit bergerak lepas.

Namun kondisi cedera Philipe membuatnya terancam tidak bisa tampil di final menghadapi pesilat Vietnam Dinh Cong Son yang di semifinal sebelumnya mengalahkan pesilat Indonesia Suprapto. (D3,ant-77)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA