logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 18 Desember 2002 Sala  
Line

Sisa Pecahan Gethek Jaka Tingkir di Makam Butuh

''KAMI memercayai Desa Butuh sebagai cikal-bakal Kabupaten Sragen. Makanya setiap menjelang ulang tahun kebupaten, Makam Butuh menjadi prioritas pertama untuk diziarahi. Kami sungguh bangga sebab Kiai Ageng Butuh yang bersemayam di sini kami percayai sebagai ayah Jaka Tingkir,'' kata Bupati Sragen H Untung Wiyono ketika menyambut kedatangan rombongan prosesi Larung Ageng Ghetek Jaka Tingkir 2002, Minggu (15/12) petang lalu.

Siapakah Ki Ageng Butuh itu? Di kalangan masyarakat Sragen, dia dipercaya sebagai ayah Mas Karebet atau Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Maka tak heran, di pusaranya di kompleks pemakaman Butuh, Plupuh, Sragen, tertera nama lain Kiai Ageng Butuh yang lebih dikenal khalayak, yaitu Kiai Ageng Kebo Kenongo. Ada nama lainnya, yaitu Kiai Ageng Handayaningrat.

Dalam Babad Tanah Jawi, diceritakan Kiai Ageng Butuh adalah sosok yang pertama kali melihat jatuhnya wahyu keprabon pada diri Jaka Tingkir yang selanjutnya mendirikan Kerajaan Pajang. Dia juga berperan penting dalam membantu satria itu naik tahta tanpa harus berkonflik dengan Kerajaan Demak.

Di kompleks pemakaman yang berada di belakang Masjid Butuh, selain terdapat makam Kiai Ageng Butuh, juga ada makam Jaka Tingkir.

Makam lainnya yang terdapat pada sebuah ruangan tak jauh dari gapura makam adalah istri Kiai Ageng Butuh, adik Jaka Tingkir Pangeran Tejowulan, dan putra raja Pajang (Pangeran Benowo). Tiga abdi setia Jaka Tingkir juga dimakamkan di situ. Yakni, Ki Patih Monconegoro, Ki Tmg Wural, dan Ki Tmg Wilomarto.

Yang menarik, di dalam kompleks pemakaman terdapat sisa pecahan ghetek yang dinaiki Jaka Tingkir bersama Ki Ageng Banyubiru dan Ki Ageng Majasta sebelum tiba di daerah Butuh. Nama ghetek itu Kiai Ghetek Tambak Boro. Letaknya berada dalam sebuah etalase kaca, merapat ke dinding kompleks makam, di sebelah kanan pintu masuk ke ruangan makam Kiai Ageng Butuh dan beberapa kerabat.

Pecahan ghetek itu berupa belahan kayu jati berukuran panjang sekitar dua meter. Jumlahnya tinggal dua batang. Padahal, menurut sesepuh spiritual Keraton Surakarta KRHT Kusuma Tanoyo yang mengantar GRM Paundrakarna (peraga Jaka Tingkir tahun 2002) berziarah, tadinya jumlah belahan kayu ghetek ada delapan.''Saya ndak tahu ada di mana belahan getek lainnya,'' kata dia.

Tapi yang pasti, selain makam Kiai Ageng Butuh, dua belahan Kiai Ghetek Tambak Boro itu menjadi peninggalan bersejarah yang penting.

Segitiga Emas

Pemkab Sragen, seperti diutarakan Bupati H Untung Wiyono akan secara serius memperlakukan kompleks Makam Butuh sebagai bagian dari segitiga emas situs wisata kabupaten itu. Yakni, segitiga Kedungombo-Sangiran-Butuh.

Adapun Masaran sebagai sentra batik kliwonan yang memiliki jarak dekat dengan kompleks pemakaman Butuh akan dimasukan sebagai satu bagian situs. Artinya, sentra batik itu digabungkan dengan makam Butuh.

''Jembatan gantung penghubung Kecamatan Masaran dan Plupuh mendekatkan jarak kedua wilayah yang tadinya dipisahkan Bengawan Solo. Jadi, dapat dijadikan sebagai satu paket pariwisata,'' kata H Untung Wiyono.

Sebagai tempat kunjungan ke makam keramat, pemakaman Butuh menempati urutan kedua setelah makam Pangeran Samudra di Gunung Kemukus.

Nilai penting lainnya, pemakaman Butuh selalu dijadikan tempat khusus ketika Pemkab hendak menyambut ulang tahun. Hampir setiap 26 Mei malam atau malam sebelum Hari Jadi Pemkab Sragen tanggal 27 Mei, sudah pasti banyak orang yang bertirakat di makam Butuh. Secara resmi, jajaran Pemkab menziarahi makam itu pada hari H (27 Mei).

Maka tak heran, ketika Larung Ageng Jaka Tingkir dikemas oleh Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Solo Gema Budaya (SGB) Entertainment dan Suara Merdeka serta bekerja sama dengan Pemkab Sukoharjo dan Sragen, bupati dan seluruh warga menyambutnya secara antusias.(Saroni Asikin, Anindito AN-14)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA