
| Selasa, 17 Desember 2002 | Sala |
Gapura dan Mebel Dipersoalkan
BALAI KOTA - Beberapa bagian bangunan kompleks Balai Kota Surakarta yang rencananya diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri, Senin (23/12) pekan depan, dikritik Komisi D DPRD saat meninjau, kemarin. Gapura utama masuk kompleks Balai Kota itu, misalnya, dinilai tak mencerminkan arsitektural Solo. Di puncak-puncak bangunan itu berbentuk piramida. ''Gapura yang berpucuk lancip-lancip (berbentuk piramida-Red) itu tak mewakili nuansa Solo. Kok kayak kelenteng. Semestinya disesuaikan dengan arsitektural Solo, seperti berbentuk joglo papak atau seperti gapura Gladag. Saya yang sudah 40 tahun menggeluti seni sangat kecewa atas arsitektur gapura itu,'' kata anggota Komisi D Udiyanto Kusrin. Rombongan Komisi D yang dipimpin Ketua James August Pattiwael juga menyoroti masalah mebel, yang sebagian sudah ditata di beberapa ruang gedung Balai Kota yang disebut bangunan dalem. Anggota komisi Sri Hartono dan Agus Priyono menilai kualitas mebel seperti meja-kursi tidak sebanding dengan kemegahan ruang yang dilengkapi dinding-dinding kayu berukir. ''Masa bangunan dan ruang semegah ini hanya dilengkapi mebel ecek-ecek. Lihat sambungan-sambungan kayu dan busanya tidak rapi. Seharusnya mebel di ruang-ruang itu yang katanya senilai Rp 400 juta diganti yang berkualitas bagus sehingga tidak memalukan. Apalagi rencananya nanti diresmikan dan ditinjau Presiden,'' ujar Agus. Sudah Disetujui Site Manager PT Asia Makmur Ampel (AMA), Ir Sutono, mengemukakan sebagai pelaksana pembangunan Balai Kota hanya membangun gapura yang didesain konsultan CV Estetika. ''Desain dan gambar gapura masuk itu sebelum dibangun dulu sudah disetujui pemerintah,'' kata dia. Saat ditanya mengenai mebel yang dinilai kurang memadai oleh beberapa wakil rakyat, dia tak bersedia memberikan jawaban. ''Sudahlah. Semestinya hal-hal seperti itu tak perlu disampaikan,'' kata dia. YMT Kepala DPU Ir Sundjoyo mengatakan, pembangunan tahap I Balai Kota yang menelan biaya sekitar Rp 24 miliar kemarin sudah 100% selesai. Namun, kata dia, masih ada beberapa pekerjaan untuk membersihkan lingkungan pusat pemerintahan Solo itu. ''Jadi pembangunan tahap I Balai Kota sudah 100% selesai. Anda kan sudah melihat,'' katanya. Penjelasan itu ditepis Udiyanto Kusrin. ''Kalau pembangunan fisik sudah selesai memang iya, tapi belum 100% rampung. Beberapa bagian harus dibenahi.'' Sekretaris Komisi D Drs Bandung Joko Suryono SH didampingi anggota Bambang Priyono menilai kondisi lingkungan bangunan megah yang berpendapa dengan dinding kayu jati kelas I itu masih kotor. Paving block jalan seputar gedung-gedung itu serta penutup drainase juga tidak rapi dan masih berlepotan. ''Jadi kalau kondisi masih seperti ini mau diresmikan Presiden, tentu tidak layak. Namun masih ada waktu beberapa hari bagi DPU dan pelaksana proyek untuk segera membenahi dan membersihkan lingkungan Balai Kota sebelum diresmikan,'' ucap Bandung.(D11-51g) |