logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 Desember 2002 Sala  
Line

Sepuluh Wanita Tahan Tiga Jam Tabuh Beduk

LAZIMNYA penabuh beduk adalah pria. Namun di arena lomba menabuh beduk untuk memeriahkan Wonogiri Ekspo 2002, wanita berkesempatan sama. Ada 25 wanita tampil.

''Sebenarnya wanita yang mendaftar lebih dari 40 orang. Namun karena beduk yang tersedia hanya 25 buah, yang datang awal segera mendapat kesempatan,'' kata Hendro dan Ndoro dari tim kreatif Bekade Wonogiri yang menangani lomba beduk.

''Rasanya ini menjadi event luar biasa. Bayangkan, wanita lomba nabuh beduk. Barangkali ini peristiwa langka yang kali pertama terjadi di dunia. Event ini patut dicatatkan ke Museum Rekor Indonesia (Muri-Red),'' kata Sarko, anggota tim kreatif Bekade.

Sepuluh dari 25 wanita yang ambil bagian dalam lomba itu bertahan tiga jam menabuh beduk. ''Saya tak menduga wanita mampu bertahan tiga jam tanpa henti,'' ujar seorang penonton penuh kagum.

Ketika stopwatch panitia menunjukkan waktu tiga jam, tim juri menawarkan ke 10 finalis wanita, apakah setuju lomba dihentikan. Dengan konsekuensi, hadiah Rp 1 juta dibagi rata. Tawaran itu diterima sehingga lahir juara kembar bersepuluh.

Mereka adalah Isut (Banaran), Ny Mulyati, Enok, Murti, Pipit, dan Ice (Kaloran), Setujuwati dan Supriyati (Donoharjo), Samiyem dan Wiyati (Nguntoronadi). ''Niat saya sekadar iseng meramaikan. Tak mengira akhirnya kuat tiga jam dan jadi juara,'' ujar Samiyem.

Panitia ekspo Drs Sumadi MM mengatakan, juara kembar (10) di nomor wanita mengingatkan pada peristiwa malam pertama lomba menabuh beduk. Waktu itu ada enam dari 25 peserta bertahan enam jam. Akhirnya disepakati mereka menjadi juara kembar. Mereka adalah Andi, Eko, Fandy, Dedi, Agus Boksi, dan Agus.

''Mereka anggota perkumpulan bela diri Anak Naga dan para pemuda pencinta alam dengan stamina yang terlatih naik-turun gunung,'' ujar Mulyanto SKar dari tim juri.

Memukul beduk sambil berdiri dengan siku tangan selalu diangkat selama enam jam membutuhkan ketahanan tubuh prima. Banyak peserta berguguran. Ada pula yang kejang tangan karena kram.

Lomba menabuh beduk itu peristiwa perdana di Wonogiri dan tersaji dalam kemasan spektakuler. Acara berlangsung enam malam berturut-turut. Setiap malam tersedia hadiah Rp 1 juta. Jadi total hadiah Rp 6 juta.

Pada penyelenggaraan malam terakhir, Minggu malam (15/12), lomba itu untuk memeriahkan malam penutupan ekspo. Para juara adalah Sutimin (Nguntoronadi), Suharyanto (Kaloran), dan Edi Sriyanto (Nguntoronadi). Penilaian dititikberatkan pada ketahanan memukul dan keindahan irama tabuhan. (Bambang Pur-17g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA