
| Selasa, 17 Desember 2002 | Sala |
Longsor Kecil Tawangmangu
KARANGANYAR - Longsor kecil di Tawangmangu pada Sabtu pekan lalu berpotensi menjadi bencana besar seperti tragedi Pacet di Mojokerto. Karena itu, pengelola diharapkan mewaspadai kawasan wisata tersebut. Demikian diungkapkan Kepala Balai Penelitian Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTP DAS) Indonesia Bagian Selatan Ir C Nugroho Sulistyo Priyono MSc, kemarin. ''Pada musim hujan seperti sekarang sebaiknya aktivitas pengunjung dikurangi. Paling tidak, pengunjung jangan terlalu dekat dengan tebing untuk menghindari kejadian yang sama,'' ujar dia. Dia mengatakan, longsor kecil di Tawangmangu tersebut merupakan peringatan dan tanda-tanda ada hal yang salah di wilayah kawasan wisata itu sehingga berpotensi terjadi longsoran lebih besar. Karena itu, dia mengemukakan, pengelola yaitu Dinas Kehutanan dan Pemkab Karanganyar perlu menggunakan early warning system. Sistem tersebut diharapkan mampu memperingatkan masyarakat atau pengunjung daerah wisata untuk waspada terhadap bencana longsor. Lebih lanjut dia mengatakan, karakteristik dan proses longsor di Tawangmangu dan Mojokerto hampir sama. Longsor kecil itu bisa berakibat fatal jika terjadi hujan di daerah hulu Grojogan Sewu. Jika hujan deras akan terbentuk bendungan alami dari material di daerah atas yang sewaktu-waktu bisa ambrol. "Bendungan alami yang ambrol tersebut akan menimbulkan banjir bandang seperti di Mojokerto.Pengelola perlu memasang sistem peringatan dini untuk kawasan wisata itu,'' katanya. Sistem peringatan dini tersebut adalah sistem yang memberikan sinyal jika curah hujan di atas daerah Tawangmangu mencapai ketinggian tertentu yang berpotensi mendatangkan banjir bandang dan longsor daerah di bawahnya. '' Jadi, ketika ada peringatan, masyarakat bisa dievakuasi meski banjir bandang tetap terjadi,'' tutur Nugroho. Hutan Rusak Soal kondisi hutan daerah hulu Tawangmangu yang disebut-sebut menjadi penyebab longsor tersebut, Nugroho menyatakan, memang kendisi hutan di sana berpengaruh terhadap kemampuan penyerapan air. Jika tidak terserap, air akan meluncur ke bawah dan mengikis material seperti kayu dan bebatuan. ''Diakui atau tidak, sebagian hutan di atas Tawangmangu memang rusak karena penebangan liar. Hal itu yang menyebabkan longsor.'' Dia menambahkan, walaupun kondisi hutan di atas Tawangmangu bagus, jika curah hujan di daerah hulu sangat tinggi, kemampuan hutan pinus menyerap air akan terganggu. Hal itu juga berpotensi menyebabkan banjir bandang atau longsor. ''Jika curah hujan di hulu melebihi 100 mm/hari, kemampuan hutan pinus menyerap air akan terganggu,'' ujarnya. (ev-17e) |